Sejarawan: Bumi Hangus Dusun Kemusuk Mirip Rawa Gede

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

389

YOGYAKARTA —Jebolan S-1 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, yang kini sedang menempuh pendidikan S-2 Jurusan Sejarah Universitas Gajah Mada, Aan Ratmanto mendorong perdebatan siapa pencetus ide Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta agar dihentikan. Ia menilai munculnya perdebatan itu justru akan merugikan karena membuat masyarakat melupakan hal-hal lain terkait peristiwa itu sendiri.

Hal tersebut disampaikan dalam seminar Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 bertema Implementasi Nilai-nilai Patriotisme SO 1 Maret Untuk Kejayaan Indonesia yang digelar Yayasan Harapan Kita bekerjasama dengan Yayasan Kajian Citra Bangsa bertempat di Moseun Benteng Vredeburg Yogyakarta, Kamis (01/03/2018).

“Setiap peringatan Serangan Oemoem 1 Maret kita selalu terpancing untuk berdebat mengenai siapa sosok pencetus ide serangan, sehingga melupakan hal lain, dan justru membuat kita saling membenci,” katanya.

Menurut Aan, perdebatan berlebihan mengenai siapa sosok pencetus ide justru membuat sejarah mengenai konsep terjadinya serangan tidak diurus. Termasuk juga fakta-fakta lain yang terjadi selama periode serangan tersebut. Seperti kasus pembantaian massal rakyat oleh tentara Belanda di dusun Kemusuk, hingga sejumlah lokasi markas komando Wehrkreise III, yang menjadi saksi bisu penyusunan konsep Serangan Oemoem 1 Maret.

“Saya miris. Kenapa yang dipusingkan hanya siapa pencetus ide serangan. Tapi tidak mengurus bukti-bukti sejarah lain. Saya harap ini jadi masukan agar tidak diperdebatkan lagi. Karena hanya akan merugikan bagi kita dan sejarah kita sendiri,” katanya.

Diungkapkan Aan, menurut penelitiannya terdapat tiga lokasi yang sebenarnya digunakan sebagai markas komando pasukan Wehrkreise III, yakni di dusun Bibis, Ngotho, dan Segoroyoso, Bantul.

Ketiga markas ini menjadi tempat lokasi penyusunan konsep Serangan Oemoem dilakukan. Baik itu serangan sebanyak empat kali yang dilakukan pada malam hari dan Serangan Oemoem sebanyak satu kali yang dilakukan pada siang hari.

“Soal fakta sejarah serangan ini, mungkin banyak orang yang masih belum tahu. Bahkan tiga lokasi yang menjadi markas para pejuang, saat ini terbenkalai dan tidak terurus. Karena itu saya berharap agar setiap peringatan SO 1 Maret dapat diagendakan untuk membersihkan tempat bersejarah ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu Aan juga memaparkan fakta sejarah mengenai kasus pembantaian rakyat dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul oleh tentara Belanda sebelum peristiwa SO 1 Maret 1949 terjadi. Dimana berdasarkan penelitian terbarunya, kasus pembantaian massal di Kemusuk itu mirip dengan tragedi Rawa Gede.

“Adanya Makam Somenggalan, di Kemusuk, itu menunjukkan pola yang sama dengan tragedi Rawa Gede. Dimana terjadi pembantaian massal rakyat sipil oleh Belanda. Hal itu diperkuat dengan temuan arsip mengenai laporan keganasan tentara Belanda itu,” katanya.

pencetus ide Serangan Oemoem 1 Maret
Seminar Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 bertema Implementasi Nilai-nilai Patriotisme SO 1 Maret Untuk Kejayaan Indonesia – Foto: Jatmika H Kusmargana

Menurut Aan, tercatat sedikitnya terdapat sebanyak 485 rumah warga dusun Kemusuk yang dibakar oleh tentara Belanda pada waktu itu. Termasuk juga pembunuhan ratusan rakyat tak bedosa dan pembunuhan kejam dengan cara disiksa.

“Konteks serangan Belanda ke Kemusuk itu dilakukan karena mereka mencari Pak Harto. Setidaknya ada sebanyak enam kali serbuan yang dilakukan. Salah satunya terjadi pada 8 Januari 1949. Dimana sebanyak 19-23 orang warga desa dibunuh, termasuk ayah kandung Probosutedjo sekaligus ayah tiri Pak Harto,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...