hut

Serangan Oemoem 1 Maret, Pertempuran Terakhir Mengusir Penjajahan di Indonesia   

Oleh: NOOR JOHAN NUH*

Agresi Militer Belanda Kedua

TANGGAL 19 DESEMBER 1948, pukul 06.00, Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Mr. Beel membatalkan secara sepihak Perjanjian Renville—pukul 06.45,   tentara Belanda melakukan penyerangan ke Ibukota Perjuangan Yogyakarta melalui lapangan terbang Maguwo—membombandir lapangan terbang dan menerjunkan pasukan memakai parachute.

Perlawanan TNI untuk menghadang gerakan pasukan Belanda dari lapangan terbang Maguwo ke Yogyakarta tidak terlalu besar karena konsentrasi pasukan berada di barat Yogyakarta.

Agresi Militer Belanda kedua sesungguhnya sudah diperkirakan oleh pimpinan TNI, karenanya telah dikeluarkan Perintah Siasat no 1 pada bulan Juni 1948, namun tidak diperhitungkan bahwa tentara Belanda menyerang melalui lapangan terbang Maguwo, sementara pasukan TNI lebih dikonsentrasikan di sebelah barat kota Yogyakarta, siap menghadang pasukan Belanda yang datang dari arah Jakarta dan Bandung serta sebelah utara menghadang dari Semarang.

Dalam buku “Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”, Pak Harto yang pada waktu itu sebagai Komandan Brigade X Yogyakarta menuturkan:

“Yang ada di kota pada waktu itu hanya satu kompi, Kompi Pengawal Presiden. Maka praktis pada waktu penghambatan terhadap serangan Belanda dari Maguwo terus ke kota itu hanya dilakukan oleh satu kompi saja, yakni kompi pengawal pribadi saya. Saya menyadari tugas yang berat itu dalam keadaan tanpa pasukan. Saya masih berusaha menghambat pasukan musuh yang bergerak. Maksud saya memberi kesempatan kepada Pemerintah di kota, agar supaya mengungsi dan melakukan bumi hangus. Tetapi ternyata yang mau mengungsi hanya Pak Dirman dalam keadaan sakit, setelah satu paru-parunya dibedah belum lama berselang.”

Bagi Letnan Kolonel Soeharto, agresi militer Belanda kedua menjadi beban yang berat karena Ibukota Perjuangan Yogyakarta adalah wilayah yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai Komandan Brigade X meliputi teritorial Yogyakarta, ia harus berbuat sesuatu sesuai dengan harapan rakyat banyak dan sadar betul harapan itu tertuju kepadanya.

Mengkonsolidasikan Pasukan

Satu hari setelah Yogyakarta diduduki tentara Belanda, 20 Desember 1948,  Komandan Brigade X Letkol Soeharto mulai melakukan konsolidasi pasukannya yang tersebar di sekitar kota Yogyakarta. Untuk itu ia harus berkeliling berjalan kaki selama 5 hari, menemui dan mengumpulkan kembali pasukan yang tersebar di sekitar Yogyakarta, briefing pasukan membentuk sektor-sektor dan menunjuk komandannya serta menentukan kurir untuk  komunikasi antar sektor dan Markas Brigade X.

Perjalanan dimulai dari selatan kota menuju barat, terus ke utara dan ke timur hingga kembali lagi ke selatan. Dengan bantuan kurir yang telah dikirim terlebih dahulu, maka tidak sukar mencari pimpinan pasukan yang berada di tiap penjuru di luar Yogyakarta. Pada umumnya pasukan yang telah keluar kota hanya berkedudukan  di pinggiran kota Yogyakarta.

Dalam konsolidasi pasukan, Letkol Soeharto berhasil menyusun sektor-sektor dan memberikan arahan kepada setiap komandan sektor, tugas apa yang harus dilakukan.  Dalam waktu singkat berhasil mengkonsolidasikan dan mempersiapkan pasukan untuk melancarkan serangan balasan terhadap kedudukan pasukan Belanda di Yogyakarta.

Oleh Letkol Soeharto daerah Yogyakarta dibagi menjadi lima sektor yaitu; Sektor Selatan, Sektor Tenggara, Sektor Barat, Sektor Utara, dan Sektor Timur. Tiap sektor dipimpin oleh seorang komandan sektor dengan tugas sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan semua kesatuan yang terpencar di daerah sektornya dan memegang komando.
  2. Melancarkan perlawanan atau serangan gerilya terhadap pos-pos Belanda di dalam kota.
  3. Mempersiapkan diri untuk mengadakan serangan balasan.

Setelah selesai melakukan perjalanan keliling untuk mengadakan konsolidasi di luar kota Yogyakarta, Letkol  Soeharto kembali ke titik pemberangkatan di Ngoto kemudian menuju titik kumpul di Desa Segoroyoso.

Dari tempat ini kemudian diadakan evaluasi hasil konsolidasi dan diambil keputusan bahwa pada sektor-sektor yang telah dikunjungi, diangkat seorang perwira penanggung jawab yang memiliki kemampuan untuk mengadakan serangan terhadap pos-pos Belanda.

Pembentukan Wehrkreise & Memulai Serangan

Tanggal 26 Desember 1948, Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng mengeluarkan surat perintah no 1/HD/1948, tentang pengangkatan Komandan Brigade X Letnan Kolonel Soeharto sebagai Komandan Wehrkreise (wilayah pertempuran) III.

Sulitnya komunikasi waktu itu hingga surat itu baru diterima awal Januari 1949. Akan tetapi, sesuai dengan surat itu maka disusun kembali sektor-sektor yang telah dibentuk, disesuaikan dengan struktur Wehrkreise (WK)—Sektor menjadi Sub Wehrkreise (SWK).

Sektor  Selatan  diganti  menjadi  SWK  102  dipimpin Mayor Sardjono. Sektor Barat menjadi SWK 103 dipimpin Letnan Kolonel Suhud, dan SWK 103 A untuk bagian jalur jalan Yogyakarta-Sleman-Tempel, dipimpin Mayor VN Sumual.

Sektor Utara menjadi SWK 104 dipimpin Kapten Sukasno. Sektor Timur menjadi SWK 105 dipimpin Mayor J Sujono. Dan Sektor Kota menjadi SWK 101 dipimpin Letnan Marsudi. Untuk Kulon Progo diberi nama SWK 106 dipimpin Letnan Kolonel Sudarto.

Serangan Oemoem Pertama

Setelah konsolidasi dan koordinasi dengan semua SWK dapat dijalin, Letnan Kolonel Soeharto mulai menyusun rencana serangan. Serangan pertama dilakukan tanggal 29 Desember 1948, pukul 21.00, melalui Sektor Selatan yang diperkuat Batalyon Sarjono, dilakukan serangan terhadap pasukan Belanda di sekitar Kantor Pos Besar, Secodiningratan, Ngaben, Patuk, Sentul dan Pengok. Keesokan harinya, didapat berita bahwa pihak Belanda menderita sejumlah korban akibat penyerangan itu.

Pasukan  Belanda yang merasa telah berhasil menaklukkan Republik Indonesia dengan menangkap petinggi republik—menangkap presiden, wakil presiden, dan beberapa orang menteri, sangat terpukul dengan serangan pasukan TNI.

Mereka sama sekali tidak memperhitungkan Jenderal Soedirman yang dalam kondisi sakit dan sedang dalam perawatan melakukan perlawanan pada Belanda. Keputusan Jenderal Soedirman ke luar kota Yogyakarta dan memimpin perang gerilya menjadi inspirasi sekaligus membangkitkan gelora perjuangan pasukan TNI mempertahankan  kemerdekaan Indonesia sampai titik darah penghabisan.

Pembantaian di Desa Kemusuk

Tidak pernah diungkap selama ini, setelah Serangan Oemoem pertama tanggal 29 Desembar 1948—mengetahui serangan itu dipimpin oleh Letkol Soeharto, pasukan Belanda mencari keberadaan Letkol Soeharto di sekitar Yogyakarta. Sedangkan Ibu Tien telah diungsikan ke keraton Yogyakarta. Tidak berhasil mencari di sekitar Yogyakarta, pasukan Belanda mencari Letkol Soeharto di kampung halamannya di Dusun Kemusuk pada tanggal 7 dan 8 Januari 1949.

Dendam, marah, bercampur-baur dirasakan oleh pasukan Belanda karena tidak dapat menemukan Letkol Soeharto di sekitar Yogyakarta maupun di kampung  halamannya: Desa Kemusuk. Karena tidak seorang pun yang dapat memberikan informasi keberadaan Letkol Soeharto di desa itu, semua perasaan dendam kesumat yang menggumpal itu kemudian dilampiaskan tentara Belanda dengan melakukan tindakan “brutal dan sadis”, penduduk lelaki dewasa bahkan anak-anak di desa itu dikumpulkan dan dibunuh. Bau anyir darah dan mesiu memenuhi atmosfir Desa Kemusuk.

Sebanyak 202 orang penduduk Desa Kemusuk dibantai dan gugur, termasuk orang tua Pak Harto: Bapak R. Atmoprawiro. Jazad para pahlawan itu terbujur di Makam Soemanggalan, Desa Kemusuk. Mereka gugur sebagai “Perisai Perang Kemerdekaan”, sebagai “martir”—sebagai “Perisai Komandan Werhkreise III Letkol Soeharto.”

Pembantaian atau pembunuhan penduduk sipil dilakukan oleh tentara Belanda di berbagai tempat di Indonesia, disebabkan tidak berhasil menemukan tokoh TNI yang mereka cari. Salah satunya pembantaian penduduk di Rawagede karena tentara Belanda tidak berhasil mengetahui keberadaan Kapten Lukas Kustaryo, komandan kompi dari Divisi Siliwangi yang bebarapa kali berhasil menyerang pos-pos pasukan Belanda.

Tidak berhasil mendapatkan informasi dari penduduk Rawagede tentang keberadaan Kapten Lukas Kustaryo, tentara Belanda membunuh 431 orang penduduk Rawagede pada 9 Desember 1947. Begitu pula pembantaian terhadap warga Desa Kemusuk karena tidak dapat informasi keberadaan Letkol  Soeharto.

Cara-cara Belanda seperti ini juga dialami oleh Kolonel Bambang Sugeng. Karena Belanda tidak mendapat informasi keberadaan Bambang Sugeng, orang tuanya disiksa hingga hampir tewas.

Serangan Oemoem Kedua

Satu hari setelah tentara Belanda melakukan pembantain di Desa Kemusuk,  tanggal 9 Januari 1949, pukul 21.00, kembali Letkol Soeharto memimpin serangan ke markas Belanda di Yogyakarta. Serangan dilakukan dengan masuk ke kota Yogyakarta melalui celah pos-pos pasukan Belanda, kemudian menghancurkan pos-pos tersebut. Sedangkan serangan bantuan menghancurkan pasukan Belanda di luar kota dan merusak jalan-jalan yang menghubungkan pasukan itu ke kota.

Serangan Oemoem Ketiga

Dilakukan pada 16 Januari 1949, tetap dilakukan pada malam hari, serentak setiap SWK melakukan penghancuran dan penghadangan terhadap pasukan Belanda.

Serangan Oemoem Keempat

Masih dilakukan pada malam hari, tanggal 4 Februari 1949. Sasaran serangan tidak jauh berbeda dengan 3 serangan sebelumnya. Dengan empat kali penyerangan terhadap pos-pos pasukan Belanda, kepercayaan rakyat pada TNI mulai pulih kembali, dan secara sukarela mulai membantu para pejuang, baik berupa logistik maupun bantuan lainnya, dan bantuan yang sangat berharga—mereka tutup mulut, tidak memberitahukan keberadaan TNI dimana tentara Belanda melakukan razia besar-besaran setelah diserang pada malam hari.

Empat kali penyerangan yang dilakukan pasukan Wehrkreise III dibawah komando Letkol Soeharto, adalah rangkaian penyerangan yang tidak terputus dengan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Meskipun empat kali penyerangn itu menimbulkan kerugian jiwa dan kerusakan peralatan perang yang tidak sedikit di pihak Belanda, juga korban dari pihak TNI. Akan tetapi serangan itu belum berdampak signifikan karena dilakukan malam hari, dan Belanda masih dapat menutupi pemberitaan tentang penyerangan-penyerangan tersebut sebagai bukti bahwa TNI masih eksis.

Belanda Frustasi Menghadapi Perang Gerilya

Tidak dapat dipungkiri bahwa perang gerilya ini  membuat tentara Belanda jemu dan frustasi karena tidak berhasil menghancurkan TNI yang berada di gunung-gunung, hutan-hutan, yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil, namun sewaktu-waktu dapat menyerang pasukan Belanda.

Para politisi Belanda pun makin jemu dan tidak tahan menghadapi serangan-serangan dari pers Belanda. Ditambah lagi masalah kesulitan keuangan dan perekonomian yang belum pulih setelah perang dunia kedua. Perang di Indonesia ini harus mereka selesaikan secepat mungkin, tanpa kehilangan muka walaupun akhirnya tidak dapat lagi menjajah Indonesia seperti yang mereka inginkan.

Akibat dari agresi militer Belanda, negara donatur mengancam menghentikan bantuan karena penggunaan dana bantuan itu bukan untuk memperbaiki perekonomian Belanda yang hancur akibat perang dunia kedua, melainkan digunakan untuk perang, untuk menjajah Indonesia kembali. Amerika mengancam menghentikan bantuan ekonomi Marshall Plan karena Belanda disebut menginvasi Indonesia.

Keberhasilan empat kali penyerangan ke pos-pos pasukan Belanda di Yogyakarta yang dilakukan oleh pasukan Wehrkreise III di bawah komando Letkol  Soeharto, dilaporkan oleh Panglima Komando Jawa Jenderal Mayor Nasution kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang berada di Markas Perang Gerilya, di Desa Sobo, Pacitan.

Surat Panglima Besar Untuk Sri Sultan

Pada bulan Februari, Komandan Pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman, Kapten Tjokropranolo, diutus menyampaikan surat dari Panglima Besar untuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Yogyakarta. Ternyata Kapten Tjokro tidak dapat masuk ke Yogyakarta karena ada serangan malam yang dilakukan pasukan Wehrkreise III berdampak penjagaan dalam kota Yogyakarta sangat ketat.

Dalam buku “Panglima TNI Jenderal Soedirman”—Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia – Kisah Seorang Pengawal—Pak Tjokro menuturkan:

“Dengan keadaan yang sulit ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh ialah  mencari  Letkol  Soeharto, Komandan  WK  III. Untuk mengetahui dimana Pak Harto berada, saya mengadakan penggantian pengawal dengan anggota CPM  yang tahu situasi dan kondisi daerah Yogya. Malam itu juga saya berangkat dengan memotong pinggiran utara kota ke arah Barat Daya Yogya, dimana diperkirakan Pak Harto berada. Tanpa kesulitan saya dapat menemukan posko beliau dan secepatnya bisa bertemu dengan Pak Harto.”

Dalam pertemuan itu disampaikan maksud dan tujuan kedatangan Kapten Tjokro ke Yogya. Karena situasi  kota yang diketahui Letkol Soeharto dengan baik, Kapten Tjokro  mohon pertolongan menyampaikan surat Pak Dirman untuk Sri Sultan secara aman dan rahasia. Jawaban  surat Panglima Besar itu kemudian disampaikan oleh seorang perwira utusan Letkol Soeharto kepada Kapten Tjokro.

Pada tanggal 13 Februari 1949, Letkol Soeharto bertemu dengan Sri Sultan Hamenkubuwono IX, menyampaikan surat dari Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dititipkan melalui Kapten Tjokro. Meja dan kursi antik yang digunakan dalam pertemuan itu, hingga sekarang tetap berada di salah satu ruangan kediaman Pangeran Prabuningrat dalam kompleks Keraton.

Letnan Kolonel Soeharto orang yang paling dicari oleh pasukan Belanda, memilki keberanian prima untuk masuk ke kota Yogyakarta, menyampaikan surat dari Panglima Besar untuk Sri Sultan.

Apa yang dibicarakan oleh kedua orang tokoh itu dalam pembicaraan empat mata? Tentu tidak jauh dari masalah yang dihadapi bangsa Indonesia pada waktu itu ialah; bagaimana menghadapi agresi militer Belanda kedua, dan bagaimana strategi mengusir tentara Belanda dari bumi Ibu Pertiwi.

Setelah bertemu dengan Sri Sultan dan mengevaluasi empat serangan yang dilakukan pada malam hari tidak berdampak signifikan, Letkol Soeharto membuat rencana Serangan Oemoem besar-besaran pada siang hari yang tentunya sepengetahuan Sri Sultan karena jelas keberhasilan serangan itu  tidak terlepas dari partisipasi rakyat Yogya yang patuh pada Ngarso Dalem.

Mempersiapkan Serangan Oemoem

Untuk mematangkan rencana serangan, Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto memberi instruksi dan petunjuk kepada Komandan SWK 101 serta komandan-komandan SWK lainnya di Yogyakarta, dilakukan di Sekretariat Dewan Pertahanan Daerah, Kepatihan Danurejan, pada 21 Februari 1949.

Kemudian dilakukan lagi di rumah Atmonadi di Jalan Kadipaten Lor, pada 26 Februari 1949. Seperti ditulis di atas, pertemuan Sri Sultan dengan Letnan  Kolonel Soeharto untuk menyampaikan surat dari Jenderal Soedirman, tidak dapat dipisahkan dari rencana Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949.

Tiga tokoh yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Jenderal Soedirman, dan Letnan Kolonel Soeharto, terkait erat dengan serangan ini. Terbukti, menjelang Serangan Oemoem dilaksanakan, Sri Sultan telah menyediakan keraton sebagai tempat menampung keluarga prajurut TNI dan gerilyawan yang ikut dalam Serangan Oemoem, termasuk tinggal di keraton Ibu Tien Soeharto dan bayi putrinya.

Setelah Letnan Kolonel Soeharto mendapat laporan intelijen dari daerah operasi SWK 101 yang berada dalam kota, ditetapkan Desa Segoroyoso untuk dijadikan sebagai Markas Komando Brigade X. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan, letak daerah tersebut jauh dari kedudukan tentara Belanda dan jauh dari tembakan lintas lengkung meriam musuh.

Serangan Oemoem 1 Maret 1949

Tepat pukul 06.00, tanggal 1 Maret 1949, sirine di atas menara besi disamping Pasar Beringhardjo berbunyi nyaring memecah kesenyapan tanda jam malam berakhir. Masyarakat yang memulai aktivitasnya hari itu membatalkan dan seperti sudah memperkirakan akan terjadi sesuatu. Akhir bunyi sirine disambut bunyi ledakan dan tembakan, ditujukan ke arah pos-pos pertahanan tentara Belanda di seluruh kota Yogyakarta.

Letnan Kolonel Soeharto sebagai komandan pertempuran, masuk ke Patuk dan Malioboro, memberikan semangat dan motivasi langsung kepada para prajurit yang sedang berada di garis depan. Letnan Kolonel Soeharto memimpin dua ribu orang tentaranya, memenuhi janjinya untuk melancarkan Serangan Oemoem pada siang hari.

Kota Yogyakarta dipenuhi pasukan TNI yang berjumlah dua ribu orang dengan mengikatkan “janur kuning” di pundak kiri, menyerbu dari  empat penjuru kota.

Dari Sektor Selatan, Pasukan SWK 102 dipimpin Mayor Sardjono menyerang markas Belanda di sekitar Kantor Pos Besar, Gedung Agung, pos pasukan Belanda di Pelengkung Gading dan Pabrik Watson. Dari Sektor Barat, Pasukan SWK 103 dipimpin Letnan Kolonel Suhud menyerang tentara Belanda di stasiun kereta api dan Hotel Tugu.

Dalam waktu bersamaan, pasukan SWK 103 A dipimpin Mayor VN Sumual melakukan penyerangan pada sasaran yang sama. Selanjutnya pasukan SWK 103 berhasil menguasai jalan Godean-Yogyakarta, dan melakukan serangan lanjutan ke Markas Staf Brigade T yang menempati pos di Jalan Malioboro.

Dari Sektor Timur, Pasukan SWK 105 dipimpin Mayor Sujono menyerang pasukan Belanda di Tanjungtirto dan lapangan terbang Maguwo. Serangan ini untuk mencegah bantuan tentara Belanda ke Yogyakarta dari arah timur.

Sesuai dengan perintah Letnan Kolonel Soeharto, tujuan serangan SWK 105 adalah untuk mengikat dan menekan pasukan Belanda dalam kedudukannya,  tidak dapat bergabung dengan induk pasukannya di Kota Yogyakarta.

Dari Sektor Utara, Pasukan SWK 104 dipimpin Mayor Sukasno, menyerang pasukan Belanda di bekas MBT, pos pasukan Belanda di Gondokusuman. Penyerangan ke pasukan Belanda yang ada di Hotel Merdeka tidak berjalan mulus karena tertahan oleh brencarrier Belanda yang bergerak dari arah Malioboro.

Dari luar kota, Pasukan SWK 106 dipimpin Letnan Kolonel Sudarto, mengikat kedudukan pasukan Belanda di Jembatan Bantar, yang terletak di perbatasan pasukan SWK 103, 103 A dan 106.

Letnan Kolonel Sudarto menekan kedudukan pasukan Belanda dari arah Barat dan Timur, sejak Serangan Oemoem dimulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00, sehingga pasukan Belanda tetap terpaku di Jembatan Bantar, tidak dapat bergerak untuk membantu pasukan Belanda yang sedang terkepung di Yogyakarta.

Sedang Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto ikut langsung dalam kancah pertempuran, menerobos sampai Alun-alun Utara dan Kantor Pos, berhasil ke jalan utama di Yogyakarta, Malioboro.

Keberhasilan Serangan Oemoem ini tidak terlepas dari peran dan kegiatan yang dilakukan oleh Pasukan SWK 101 dipimpin Letnan Satu Marsudi. Pasukan SWK 101 mengerahkan kekuatan sektor-sektornya untuk membantu pasukan lain yang datang dari luar kota. Antara lain menyiapkan para pemuda sebagai penunjuk jalan, me-nyediakan konsumsi.

Namun tidak dapat dinafikkan peran dari penduduk yang membantu sepenuhnya Serangan Oemoem tersebut. Sepanjang jalan besar dan kampung-kampung, penduduk menyediakan logistik di rumah masing-masing. Hal ini sekaligus membuktikan peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam Serangan Oemoem itu dimana rakyat Yogyakarta sangat taat pada Ngarso Dalem.”

Sikap Republiken Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamenku Buwono Senapati Ingalaga Ngadurrachman Sayidin Panatagama Khalifatullah Kaping IX, dikenal dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, memiliki jasa yang luar biasa besar dalam merawat kemerdekaan Indonesia.

Salah satu sebab kegagalan Belanda menjajah Indonesia kembali adalah karena salah memperhitungkan sikap Sri Sultan. Belanda memperkirakan Sri Sultan akan bersikap kooperatif dengan Belanda seperti Sultan Hamid II misalnya.

Sri Sultan sejak dari kecil dididik secara Belanda dengan diindekoskan pada keluarga Belanda—sejak taman kanak-kanak mengikuti pendidikan di sekolah Belanda. Belanda memperkirakan Sri Sultan sudah terkontaminasi karakter Belanda, kultur Belanda, mencintai Belanda.

Tidak diperhitungkan  atau diperkirakan bahwa ternyata jiwa raga Sri Sultan sangat “republiken tulen”. Jasa Sri Sultan pada Republik Indonesia sangat luar biasa besar dan tidak akan terhapus dalam sejarah antara lain.

Pertama, dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanggal 19 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengirim kawat kepada Presiden Soekarno, mendukung sepenuhnya kemerdekaan Republik Indonesia, dan menyatakan “Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat” adalah bagian dari Republik Indonesia. Dari banyak kerajaan di Indonesia pada waktu itu, hanya Sultan dan Sunan Yogya yang merespon positif proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Kedua, menyerahkan Daerah Swatantra Yogyakarta kepada Pemerintah Republik Indonesia, sehingga secara yuridis beliau tidak lagi mempunyai kekuasaan dan tanggung jawab atas daerah Yogyakarta kecuali keraton. Ini adalah pengorbanan yang beliau lakukan demi persatuan Republik Indonesia yang mempunyai arti teramat penting.

Ketiga, ketegasan sikap dan dukungan Sri Sultan yang berdiri di belakang perjuangan pemerintah Republik Indonesia dalam satu pengumuman resmi, luar biasa besar dampak positif bagi Republik Indonesia, dan kerugian dipihak Belanda.

Keempat, sebagian dari kekayaan pribadi dan keraton, karena jelas sekali Pemerintah Republik Indonesia yang baru merdeka tidak mempunyai uang, disumbangkan untuk perjuangan Republik Indonesia. Almarhum Ibu Rahmi Hatta hingga akhir hayatnya masih menyimpan “uang gaji sebagai Wakil Presiden” dari Sri Sultan, sebagai kenang-kenangan dan bukti sejarah.

Kelima, tanpa menghiraukan kemungkinan pembalasan dari pihak Belanda atas diri dan tahtanya, bujukan dari pihak Belanda yang ingin mempegaruhi Sri Sultan supaya sudi ikut pemerintah Belanda, ditolaknya mentah-mentah.

Keenam, pada waktu agresi militer Belanda kedua, Kolonel Van Langen mencurigai adanya pejuang di keraton Yogyakarta dan berusaha masuk memeriksa keraton. Sri Sultan ke luar pintu gerbang keraton dan mengatakan kepada Van Langen dalam Bahasa Belanda; “Kalau kamu mau injak-injak keraton saya, langkahi dulu mayat saya.”

Kolonel Van Langen terkejut mendengar ucapan Sri Sultan yang begitu tegas namun ia tidak dapat berbuat apa-apa karena tahu persis bahwa Sri Sultan adalah teman dekat Ratu Belanda dan penyandang pangkat Jenderal Mayor Tituler dari Kerajaan Belanda.

Keberhasilan Serangan Oemoem 1 Maret

Serangan Oemoem 1 Maret berhasil dengan gemilang. Di setiap sudut kota Yogyakarta sudah dikuasai oleh TNI—bendera merah putih berkibar disetiap pelosok kota Yogyakarta. Pasukan Belanda hanya mampu bertahan di markas-markas mereka. Sepanjang Jalan Malioboro dan Tugu mutlak dikuasai oleh TNI.

Lewat telepon dan radio, Belanda meminta bantuan pasukan dari Semarang dan Magelang. Hampir pukul 12.00, pasukan bantuan dua Batalyon KNIL akhirnya bisa sampai ke Yogyakarta, bukan datang dari Maguwo tapi dari arah Utara. Kedua Batalyon KNIL itu membutuhkan waktu satu jam untuk memukul mundur pasukan TNI yang berada di Yogyakarta bagian utara.

Sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto, menjelang pukul 12.00, pasukan TNI mulai meninggalkan kota karena serangan itu tidak bermaksud untuk menduduki kota Yogyakarta. Pasukan Wehrkreise III yang terbagi dalam SWK-SWK dan sektor-sektor, keluar meninggalkan kota Yogyakarta.

Setelah pasukan TNI dan para gerilyawan kembali ke basis masing-masing, Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto membentuk pasukan gerak cepat yang terdiri dari Kompi Widodo dan Kompi Darsono, melakukan serangan ke pos-pos Belanda di luar kota dengan tujuan mengalihkan perhatian Belanda yang diperkirakan akan melakukan balas dendam terhadap rakyat di dalam kota Yogyakarta.

Sejak tentara Belanda melakukan agresi militer kedua, Panglima Komando Jawa Jenderal Mayor Nasution mengeluarkan instruksi yang ditujukan kepada Panglima Divisi, Komandan Brigade, dan Komandan Distrik Militer.

Selanjutnya Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng, mengeluarkan Perintah Siasat no. 4/S/Cop.I. – tanggal 1 Januari 1949, untuk Komandan Wehrkreise I, II, dan III. Disusul Instruksi Rahasia tanggal 18 Februari 1949 ditujukan kepada Komandan Wehrkreise I, II, dan III,  untuk mengadakan serangan besar-besaran terhadap Yogyakarta yang dilakukan antara tanggal 25 Januari 1949 s/d 1 Maret 1949.

Perintah Siasat no 1 versus Operasi Kraai

Dalam perang dunia kedua, di front Afrika, saling bertempur antara pasukan Jenderal Bernard Montgomery dari Inggris versus Jenderal Erwin Rommel dari Jerman. Begitu pula yang terjadi pada agresi militer Belanda kedua. Pada kenyataannya, agresi militer Belanda kedua adalah; pertempuran taktik perang Perintah Siasat no 1 yang dibikin Jenderal Soedirman versus Operasi Kraai konsep Jenderal Spoor. Jadi pertempuran pada agresi militer Belanda kedua adalah pertempuran antara  Jenderal Soedirman versus Jenderal Spoor.

Diawali dari agresi militer Belanda kedua,   Jenderal Spoor melakukan Operasi Kraai (Gagak Hitam), menaklukkan kota Yogyakarta bertumpu pada apa yang diistilahkan—strate-gische verrasing (pendadakan strategis).

Pasukan Belanda melakukan serbuan secara mendadak berdasarkan data intelijen yang sudah mereka miliki. Pola penyerangan seperti ini meniru pasukan Jerman dipimpin Hitler pada waktu menyerang mendadak (blitzkrieg) ke Polandia.

Pola penyerangan seperti ini pula yang dilakukan oleh Letnan Kolonel Soeharto pada waktu melakukan Serangan Oemoem 1 Maret 1949, pukul 06.00. Keberhasilan pola penyerangan seperti ini berdasar pada dua hal yaitu “pendadakan” dan “kerahasiaan operasi penyerangan.”

Kehendak pasukan tentara Belanda untuk melakukan agresi militer kedua sebetulnya sudah diperkirakan oleh para pimpinan TNI. Sikap Belanda mengingkari setiap perjanjian menjadi pertanda. Karena itu, Jenderal Soedirman telah membuat Perintah Siasat no. 1, pada bulan Juni, jauh sebelum agresi militer Belanda kedua.

Begitu rahasianya perintah itu hingga hanya diberitahukan pada tingkat Komandan Divisi, Komandan Brigade, dan Staf Panglima Besar, serta Panglima Komando Jawa dan Panglima Komando Sumatra.

Sebelum meninggalkan kota Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya, Jenderal Soedirman mengeluarkan Perintah Kilat no 1, yang intinya memberlakukan  Perintah Siasat no. 1 kepada seluruh panglima dan komandan di jajaran TNI.

Jadi, Perintah Siasat no 1, merupakan induk dari semua rencana operasi di seluruh jajaran TNI, yang menjadi landasan dan pedoman bagi setiap panglima dan   komandan   dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda kedua. Singkatnya, Perintah Siasat no 1 adalah antitesa dari Operasi Kraai—Jenderal Soedirman versus Jenderal Spoor.

Perintah Siasat no 1 sebagai induk dari semua operasi TNI pasca agresi militer Belanda kedua inilah yang menjadi pedoman Komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto pada waktu melakukan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Perintah dari Panglima Komando Jawa dan Panglima Divisi hanyalah sebagai   penegasan Perintah Siasat no 1 yang telah dipahami oleh para panglima dan para komandan di jajaran TNI.

Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution, pada waktu itu sebagai Panglima Komando Djawa, menuturkan dalam buku; “Memenuhi Panggilan Tugas”—jilid 2—Kenangan Masa Gerilya—hal 134, bahwa keputusan untuk melakukan Serangan Umum 1 Maret dilakukan oleh Komandan Brigade X Letnan Kolonel Soeharto.

Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng, melancarkan taktik-ofensif secara umum di seluruh wilayahnya, meliputi daerah Banyumas, Kedu, Semarang dan Yogyakarta. Selengkapnya Nasution menuliskan:

Sesuai dengan perkembangan diplomasi, dalam rangka tahap ke 2 perlawanan kita maka Letnan Kolonel Soeharto mengambil keputusan untuk menyerang kota Yogya tanggal 1 Maret, sehingga mata Internasional, melalui KTN, dan lain-lain dapat langsung menyaksikan. Terjadilah serangan umum 1 Maret, “enam jam di Yogya.

Dalam penuturan di memoarnya, Nasution yang pada waktu itu menjabat sebagai Panglima Komando Jawa, secara implisit mengakui bahwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949, sepenuhnya atas keputusan Komandan Wehrkreise III – Brigade X Letnan Kolonel Soeharto. Ini sesuai dengan telah ditetapkan sistem Wehrkreise (daerah pertempuran)—memberi wewenang kepada Komandan Wehrkreise untuk mengambil inisiatif  sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing pasukan yang mereka pimpin.

Bunga Pertempuran

Dalam buku; “Kisah perang kemerdekaan – PAK DIRMAN MENUJU SOBO – oleh: Roto Soewarno (Roto Soewarno adalah anak Lurah Pakis Baru, tempat yang menjadi Markas Gerilya Jenderal Soedirman), Jenderal Besar A.H. Nasution menuturkan:

Letnan Jenderal Spoor datang bersama Mayor Jenderal Meier ke Yogya sebagai tanda pentingnya peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret itu. Kita ketahui kemudian dari fihak Belanda, bahwa mereka betul-betul tertimpa pendadakan. Karena tanggal 28 Februari telah terjadi infiltrasi suatu pasukan TNI sampai alun-alun, tapi dipukul mundur oleh Belanda. Rupanya komandan satuan TNI mengira sudah tanggal 1 Maret. Maka itu Belanda tidak mengira bahwa tanggal 1 Maret itu akan terjadi serangan besar-besaran.

Bahwa tentara Belanda kejepit terbukti dari fakta bahwa dari Magelang  datang 2 batalyon ke Yogya untuk  membantu,  dan juga benteng lama sebentar mereka kosongkan. Waktu Komandan Brigade X Letnan Kolonel Soeharto berkunjung ke posko saya—saya katakan—saya tidak menduga bahwa sekian besar jumlah pasukan yang bisa dikerahkan sekaligus. Itulah salah satu pembuktian telah mantap posisi gerilya kita.

Panglima Besar Jenderal Soedirman sangat puas   dengan keberhasilan Serangan Oemoem 1 Maret menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Dalam satu surat beliau kepada saya, disebutkan bahwa Letnan Kolonel Soeharto adalah sebagai “Bunga Pertempuran.”

Beruntung   waktu   itu   masih   memiliki   pemancar   radio   di Playen (Wonosari). Pemancar yang dipimpin oleh Opsir Udara III Boediardjo (kemudian menjadi Menteri Penerangan) inilah yang memberitakan  ke  luar  negeri.  Keberhasilan  Serangan  Oemoem 1 Maret menduduki Yogyakarta selama 6 jam, pada hari itu juga diberitakan ke luar negeri melalui  Sumatera.

Dari Sumatera berita itu  disiarkan ke check-point di Birma, dari Birma diteruskan ke New Delhi dan terus tersebar ke seluruh dunia, termasuk diketahui oleh LN Pallar, utusan Indonesia di PBB.

Pada sore hari 1 Maret 1949, keberhasialan Serangan Oemoem 1 Maret menjadi “Breaking News” di beberapa  radio di dunia. Esok harinya, 2 Maret 1949, keberhasilan Serangan Oemoem 1 Maret menjadi Head Lines koran di beberapa negara seperti India, Singapura dan Malaya yang pada waktu itu masih di bawah kekuasaan Inggris.

Dampak Serangan Oemoem 1 Maret

Setidaknya  ada  lima  hal  penting  sebagai  dampak  keberhasilan Serangan Oemoem 1 Maret 49:

Pertama, dampak psikologis bagi rakyat Indonesia bahwa TNI dapat memporak perandakan pasukan Belanda di jantung pertahanannya di Yogyakarta.

Kedua, keberhasilan ini membangkitkan moral prajurit TNI untuk mengusir penjajahan Belanda dari bumi Indonesia.

Ketiga, membuka kebohongan Belanda pada dunia yang selama ini mengatakan Republik Indonesia dengan “kelompok pengikut republik bersenjata” sudah takluk adalah tidak benar, meskipun pimpinan politik telah mereka tangkap dan di tawan di Bangka.

Keempat, keberhasilan Serangan Oemoem 1 Maret, memaksa Belanda ke meja perundingan (Roem-Royen) dan KMB, berujung pada pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.

Kelima, dan yang tak kalah pentingnya adalah Serangan Oemoem 1 Maret sangat membantu diplomat kita yang akan bicara di sidang umum PBB pada tanggal 7 Maret 1949.

Menjemput Panglima Besar

Pada 8 Juli 1949, hampir jam 8 malam, Letnan Kolonel Suharto bersama wartawan Rosihan Anwar dan fotografer Ipphos Frans Mendur bertemu dengan Pak  Dirman di desa Krejo. Mereka berangkat dari Yogyakarta pukul 7 pagi. Dibutuhkan waktu 13 jam untuk mencapai Markas Gerilya Pak Dirman, dengan memakai kendaraan mobil, disambung sepeda dan berjalan kaki.

Pertanyaannya, mengapa Pak Dirman tidak meminta penjelasan mengenai situasi politik dan keamanan untuk kemudian  beliau memutuskan kembali ke Yogyakarta kepada Panglima Divisi atau Panglima Komando Jawa? Mengapa Pak Harto yang dipanggil?

Sebelumnya, Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan, telah berusaha membujuk Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta. Demikian pula Kolonel Gatot Soebroto, Gubernur Militer III, perwira TNI yang disegani Pak Dirman, telah mengirim surat kepada Panglima Besar untuk kembali ke Yogyakarta. Tetapi tidak ada reaksi dari Pak Dirman, hingga akhirnya  Letnan Kolonel Soeharto diminta datang menemui Panglima Besar di Markas Gerilyanya.

Dalam pertemuaan itu Pak Harto melaporkan situasi militer dan politik di sekitar Yogyakarta, selain tentunya melaporkan tentang  Serangan  Oemoem.    Sebenarnya  Pak  Dirman  masih tidak mau  meninggalkan daerah gerilya, beliau lebih memilih tetap bersama pasukannya di daerah yang tidak terjamah oleh Tentara Belanda daripada kembali ke Yogyakarta memenuhi panggilan para pemimpin yang ditangkap dan sudah kembali ke Yogyakarta.

Setelah Pak Dirman mendapat informasi dan penjelasan dari Pak Harto mengenai situasi militer dan politik terakhir, serta segala sesuatunya berkenaan dengan keamanan dan keselamatan Pak Dirman, barulah beliau bersedia untuk kembali ke Yogyakarta.  Namun, masih ada tiga persoalan yang dihadapi Pak Dirman sebelum beliau kembali ke Yogyakarta.

Pertama,  Pak Dirman harus masuk dan tinggal secara aman di Yogyakarta. Jadi harus dipastikan dulu apakah Belanda benar-benar tidak akan menipu pihak RI. Belanda sebenarnya masih tetap berkeinginan melancarkan agresi militer ke III – “sebagai usul penguasa Belanda”.

Jadi kekhawatiran Pak Dirman mengenai kemungkinan Belanda masih akan menyerang Indonesia kembali bukan tanpa alasan. Tidak jadinya Belanda melaksanakan agresi militer III adalah karena kondisi TNI yang makin kuat dan juga karena kedudukan politik yang berubah di pihak Belanda yang lebih realistis melihat keadaan Indonesia, dan kontrol atau pengawasan dari PBB sebagai dampak Serangan Oemoem 1 Maret.

Kedua. Penyelesaian pertikaian Indonesia Belanda melalui perundingan yang tidak meremehkan status TNI.

Ketiga. Bagaimana cara menjalankan genjatan senjata karena TNI tidak lagi bertempur dengan garis pertahanan, melainkan bersifat gerilya.

Komando Militer Tertinggi di Yogyakarta

Sebelumnya, tanggal 3 Juni 1949, Panglima Besar Jenderal Soedirman menetapkan Komandan Wehlkreise III Letnan Kolonel Soeharto menjadi Pimpinan Tertinggi  Militer di Yogyakarta.

Bukan tidak mungkin penetapan itu didasari   keberhasialan Letnan Kolonel dalam Serangan Oemoem 1 Maret. Dan menjadi catatan khusus atas kehendak Pak Dirman memanggil Letnan Kolonel untuk mendapatkan penjelasan dan kepastian serta jaminan bagi beliau untuk kembali ke Yogyakarta, padahal Letnan Kolonel Soeharto bukan lah perwira yang dekat dengan Jenderal Soedirman meskipun sama-sama berkedudukan di Yogyakarta. Sebelumnya, Pak Harto hanya beberapa kali bertemu dengan Pak Dirman dalam rangka kedinasan.

Penetapan Letnan Kolonel Soeharto sebagai Pimpinan Tertinggi Militer di Yogjakarta, tertuang dalam surat: Perintah Harian no 27/P.B./D/49 tanggal 3 Juni 1949—menegaskan kedudukan Letnan Kolonel Soeharto di Ibukota perjuangan, sebagai Pimpinan Militer Tertinggi di Yogyakarta, setelah Presiden, Wakil Presiden, Sutan Syahrir, Suryadarma, dan beberapa menteri yang ditangkap oleh Belanda kembali ke Yogyakarta.

*Noor Johan Nuh, penulis buku, pegiat di Forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Lihat juga...