Siasati Lahan Tegalan, Petani di Musuk Boyolali Pilih Tumpang Sari

Editor: Irvan Syafari

656
Kepala Desa Keposong Tri Ismiati saat ditemui Cendana News di Kantor Desa setempat-Foto: Harun Alrosid.

SOLO — Keberadaan petani di daerah Musuk, Kabupaten Boyolali, Solo, Jawa Tengah, yang memiliki lahan di daerah lereng dan tegalan membuat petani harus pintar memutar otak. Salah satu teknik yang digunakan petani di daerah kaki Gunung Merapi ini memilih menggunakan sistem tanam tumpang sari.

Kepala Desa Keposong, Kecamatan Musuk, Tri Ismiati mengatakan, kondisi lahan pertanian yang hanya mengandalkan air hujan sebagai irigasi membuat petani di desanya harus bisa berinisiatif. Bukan hal yang asing lagi bagi petani di daerah yang berada di lereng Gunung Merapi itu menggunakan sistem tumpang sari dalam bercocok tanam.

“Kalau daerah ini (Keposong) beda dengan lahan petani yang ada di bawah. Di sini air untuk pengairan sulit. Dalam satu tahun hanya bisa panen satu kali,” kata Kepala Desa yang akrab disapa Ismi saat ditemui Cendana News, Senin (19/3/2018).

Penggunaan sistem tumpang sari telah dilakukan oleh hampir seluruh petani di desanya. Saat musim penghujan seperti saat ini, petani masih memungkinkan untuk menanam padi. Namun teknik menanam padi pun tidak seperti daerah dataran rendah, karena harus diselang dengan tanaman lain. “Biasanya kalau musim seperti ini, padi diselang cabai,” lanjutnya.

Diakui Ismi, lahan pertanian di desanya tak bisa sesubur daerah lain yang lebih rendah. Kondisi ini disebabkan kontur tanah yang tak terlalu dalam, dan banyak bercampur padas curam maupun bebatuan. Kondisi lahan pertanian inipun disiasati dengan menanam tanaman yang tidak memerlukan tanah yang dalaman.

“Kalau musim kemarau, biasanya jagung dan diselangi tanaman kacang. Ada kacang tanah ada pula kacang sayur,” imbuhnya.

Pihak desa selama ini sudah mengusahakan sumur dalam untuk keperluan irigasi. Namun sejauh ini tidak berfungsi baik, karena kondisi lahan yang kurang memungkinkan.

Ilustrasi sistem tanam tumpang sari, tanaman ketela pohon yang dicampur kacang tanah-Foto: harun Alrosid.

Di samping tanaman pangan, petani di Keposong juga memanfaatkan lahan tegalan untuk menanam buah. Hanya saja untuk saat ini hasil panen kurang begitu baik karena masih banyaknya hujan yang turun.

“Durian biasanya bagus. Tapi tahun ini tidak bisa panen, karena banyak yang tidak jadi. Begitu pula pepaya, hasilnya juga kurang manis karena banyak kena hujan,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...