Soenaryo: PKI Membunuh Korbannya dengan Gergaji

Editor: Irvan Syafari

11.188
R.Soenaryo, keluarga korban kekejaman PKI-Foto : Sri Sugiarti.

JAKARTA — Salah satu dari keluarga korban kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) R. Soenaryo mengatakan, terkait peristiwa G 30 S PKI ini tentunya harus mengambil sikap. Yang penting ingin meluruskan agar generasi penerus bangsa tidak tertipu oleh pembelotan sejarah.

Menurut Soenaryo kedatanganya ke Komnas HAM bersama keluarga korban PKI dari Jawa Timur, karena pihaknya ingin menyampaikan kejadian peristiwa kekejaman PKI tahun 1948 sampai 1965 yang bisa dilacak dengan jelas.

“Karena garis keturunan si korban dan korban masih ada di daerah-daerah sekitar Nganjuk, Jawa Timur,” ungkap Naryo demikian panggilannya kepada Cendana News ditemui di kantor Komnas HAM, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Naryo, demikian panggilannya mengisahkan, bahwa Sang Kakek yaitu Sastro Sumarsono adalah korban kekejaman PKI. Kala itu pada 1948, kakek Satro adalah seorang mantri polisi praja.

“Kakek saya diculik oleh gerakan PKI. Alhamdulillah setelah beberapa hari menghilang, kakek kembali pulang,” kata Naryo.

Sepulangnya ke rumah dan berkumpul dengan keluarga, termasuk dengan dirinya yang ketika itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Kakek Sastro, lalu menceritakan kalau dirinya diculik hingga mengalami menyiksaan.

Dari cerita kakek, kata Naryo, dia bersama pamong praja lainnya dibawa ke Dungus, Madiun.

Di sana mereka akan dibantai. Bahkan terdapat sumur, untuk memasukkan korban yang telah dibantai dengan cara yang sadis. “Dibantainya tidak dengan golok tapi digergaji,” kata Naryo mengisahkan cerita kakeknya.

Para pamong praja yang akan dibantai itu, lanjut Naryo mengisahkan, didudukkan di kursi dengan tubuh diikat hingga tak mampu bergerak. Satu persatu dari mereka lalu disiksa secara bergiliran hingga tewas lalu dimasukkan ke dalam lubang sumur yang sudah disiapkan.

Adapun kakek Sastro, adalah urutan nomor 3 yang akan disiksa. Ketika pamong praja yang duduk di kursi nomor 2 sedang dieksekusi oleh PKI, terdengarlah suara tembakan yang diletupkan tentara Siliwangi. Sontak ketika itu, para jagal PKI itu kabur meninggalkan tawanannya yang akan dibantai.

“Alhamdulillah Allah SWT menyelamatkan kakek saya, dengan mendatangkan pasukan Siliwangi. Ikatan ditubuh kakek dan teman-temannya dilepaskan oleh tentara Siliwangi. Hingga kakek bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga,” ungkap Naryo.

Meskipun kakek Sastro mengalami kisah pilu lantaran menyaksikan temannya dibantai oleh PKI. Namun tutur Naryo lagi, Sang Kakek tidak merasa takut jika harus berhadapan dengan gerakan PKI. Dia siap membela negara dan agama.

“Kakek saya itu, tokoh pergerakan, yang mendapatkan bintang gerilya kelas 1. Beliau adalah tokoh masyarakat yang disegani dan membela bangsa dari kekejaman PKI,” kata Naryo.

Sebagai tokoh gerilya, sebut Naryo, kakek Sastro berpesan kepada anak cucunya agar menangkal kegiatan komunis yang sangat merugikan bangsa dan negara. Hingga akhir hayatnya, kata dia, kakek Sastro adalah pejuang sejati.

Pada kesempatan ini, Naryo pun mengisahkan, kalau dirinya juga mengalami kelamnya peristiwa PKI pada 1965. Kala itu dia, usianya 17 tahun dan duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Situasi siapa mendahului, saya rasakan. Apalagi tempat tinggal saya di Kertosono berseberangan dengan kelompok orang-orang PKI,” ucap dia.

Disampaikan dia, contoh kegiatan teror di beberapa Kabupaten Nganjuk, salah satunya di Kecamatan Ngronggot, Desa Kauman. Dahulu menjelang 1965, sumur-sumur di rumah-para tokoh Islam yang kharismatik itu, diisi  racun oleh dua wanita Gerwani yang diantar seorang pria.

Situasi saat itu, kata dia, memang sudah saling mengintai karena suasana mencekam. “Jadi ketika itu, pada 1965, saya berusia 17 tahun. Saya bersama pemuda lainnya tidur di langgar. Kami selalu diingat jangan keluar sendirian,” ujarnya.

Kebetulan lagi, jelas Naryo, lokasi rumah dia di Kertosono itu berada pada dua basis yang bertentangan. Jalan Gatot Subroto itu merupakan garis demarkasi antara kekuatan Muslim dan Komunis.

Kampung tempat tinggal Naryo dinamakan Kampung Masyumi yakni basisnya Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Sedangkan di sebelah utara adalah Pasar Mage Kertosono merupakan markas gerakan komunis.

Ketika dirinya akan keluar pasti harus bersama-sama. Suasana mencekap saat itu sangat dirasakan. Di mana apa yang disampaikan almarhum Gus Dur, prinsip siapa mendahului siapa, itu betul-betul terasa.

“Saya waktu itu umur 17 tahun, pelajar SMN Kertosono, Nganjuk. Itu sekolah juga setiap malam dijaga. Biasanya sekolah selesai satu tahun, pada saat itu diundur jadi satu setengah tahun. Ya, karena suasananya mencekam, saat itu,” ungkap Naryo.

Kemudian, setelah mendengar di Jakarta ada kudeta, di Kertosono pun mereka siap. Sehingga tahun 1965 di desa Kudu terjadi bentrok fisik. Inilah sebagian bukti.

Naryo menjelaskan, bahwa teman-temannya selalu berhadapan dengan IPPI.

“IPPI ini adalah underbownya PKI,” ujar pria kelahiran 69 tahun ini.

Naryo berharap fakta sejarah ini dibuat sebuah buku untuk referensi menyelamatkan generasi muda, agar memahami ideologi yang sedat itu tidak boleh dikembangkan lanjut.

Dia juga berharap pemutarbalikan fakta sejarah bahwa PKI dan keluarganya adalah korban Orde Baru ( Orba) harus dihentikan. Sebab menurut Naryo, ini membahayakan generasi muda menjadi bingung yang benar yang mana.

“Yang harus tegas adalah pemerintah menindak keras dan Komnas HAM juga harus bersifat seimbang,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.