Suasana Lengang, Toleransi Nyepi di Sejumlah Desa Adat

Editor: Satmoko

273

LAMPUNG – Sejumlah desa adat dengan mayoritas memeluk agama Hindu di antaranya Desa Tri Dharma Yoga, Sumber Nadi, Yogaloka serta sejumlah desa lain terlihat lengang selama perayaan Nyepi 1940 Saka.

Rangkaian perayaan Nyepi umat Hindu dilakukan dengan beragam prosesi di antaranya Melasti, Mecaru, Pengerupukan dan Catur Brata Penyepian. Suasana keseharian warga didominasi umat Hindu terlihat berbeda dibandingkan hari biasa.

Suasana pasar Tri Dharma Yoga yang kerap terlihat ramai oleh kegiatan pedagang saat pagi bahkan terlihat lengang.

Murti, salah satu pedagang yang biasa berjualan sayuran mengaku, sengaja pindah berjualan ke pasar Sri Pendowo selama perayaan Nyepi. Selain karena tidak ada pembeli ia menyebut desa yang mayoritas beragama Hindu tersebut tengah menjalankan catur brata penyepian.

“Kami yang beragama lain menghormati dengan tidak melakukan aktivitas yang mengganggu suasana ibadah sehingga mengalihkan proses berjualan ke pasar lain,” terang Murti, salah satu pedagang sayuran yang ditemui Cendana News, Sabtu (17/3/2018).

Murti menyebut, sesuai dengan namanya desa Tri Dharma Yoga juga menjadi salah satu desa yang dihuni oleh pemeluk tiga agama berbeda. Tiga pemeluk agama di desa tersebut diantaranya Hindu,Islam dan Katolik disebutnya hidup berdampingan dalam suasana toleransi tinggi. Murti menyebut saat perayaan agama masing masing sebagian besar warga tetap saling menghormati.

Desa Sumbernadi yang lengang selama Nyepi 1940 dan Saraswati [Foto: Henk Widi]
Ia bahkan menyebut sejumlah akses jalan masuk ke perkampungan yang kerap dilintasi sementara waktu warga memilih jalan lain. Selain tidak mengganggu umat Hindu yang tengah beribadah, warga lain juga sengaja ada yang ikut memadamkan lampu jalan saat malam Nyepi, tidak membunyikan musik keras dan bahkan tidak melintas dengan kendaraan motor maupun membunyikan klakson.

“Warga yang berada di desa ini dan memeluk agama lain melakukan aktivitas dengan sepeda agar tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang beribadah,” terang Murti.

Sehari sebelumnya, pasca-upacara Mecaru pada Jumat sore (16/3), I Made Ardana selaku kepala desa Tri Dharma Yoga menyebut, Nyepi 1940 tahun baru Saka terbilang istimewa. Hari Raya Nyepi tahun ini disebutnya bertepatan dengan Hari Raya Saraswati yang menjadi perayaan turunnya ilmu pengetahuan dalam agama Hindu melalui Kitab Veda.

Perayaan Saraswati yang biasanya dirayakan di Pura Kayangan Tunggal disebutnya hanya dirayakan di rumah masing-masing sembari melakukan catur brata Penyepian.

Selama pelaksanaan Nyepi, I Made Ardana menyebut, di desa Tri Dharma Yoga tidak ada pecalang khusus yang menjaga keamanan desa. Meski demikian tetap memaksimalkan potensi desa berupa petugas pengendali keamanan masyarakat yang sudah menjalankan tugas setiap perayaan Nyepi.

“Pecalang di desa kami tidak ada, namun karena desa kami masuk desa adat dan ada juga petugas Linmas, mereka yang bertugas menjaga keamanan lingkungan,” beber I Made Ardana.

Desa adat di Dusun Yogaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
Selain melakukan proses pengawasan keamanan, petugas Linmas juga memiliki fungsi seperti pecalang. Berkeliling menggunakan sepeda petugas Linmas dan kepolisian akan menjaga akses masuk jalan desa agar tidak ada kegiatan yang mengganggu pelaksanaan catur brata penyepian. Setelah merayakan Nyepi, I Made Ardana menyebut, umat Hindu akan merayakan upacara Banyu Pinaruh di pantai Onaria.

I Made Ardana juga menyebut, desa dengan tiga agama tersebut diakuinya memiliki toleransi yang tinggi. Selain dibantu oleh umat Katolik, tugas menjaga keamanan lingkungan selama Nyepi juga dilakukan oleh umat Muslim. Hal serupa dalam menjaga keamanan juga dilakukan selama bulan Ramadhan oleh umat Islam dan lainnya. Begitu pula saat Natal, warga desa Tri Dharma Yoga pemeluk Hindu ikut menjaga keamanan lingkungan desa yang terdiri dari 800 kepala keluarga tersebut.

Selain suasana lengang di desa Tri Dharma Yoga yang membentang sepanjang empat kilometer di Jalan Lintas Timur, suasana lengang juga terlihat di desa Sumbernadi.

Gapura masuk di sisi Timur dan Barat desa tersebut dari pantauan Cendana News terlihat diberi portal palang bambu. Selain itu, tidak ada kegiatan warga, termasuk sejumlah hewan ternak warga, terlihat masih berada di kandang. Suasana hening terlihat di desa yang mayoritas memeluk agama Hindu dalam menjalankan Nyepi dan Saraswati.

Baca Juga
Lihat juga...