Sungai Way Sekampung Meluap, Warga Mengungsi ke Masjid

Editor: Satmoko

328

LAMPUNG –  Sebanyak sembilan warga di Dusun Bunut Utara Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan mulai mengungsi akibat banjir luapan Sungai Way Sekampung.

Ipul (30) warga Dusun Bunut Utara mengaku banjir yang melanda sepekan yang lalu disebutnya masih belum tinggi dan mulai meninggi sejak tiga hari terakhir. Ketingguan air banjir yang semula hanya 30 cm pada Sabtu (10/3) mulai meninggi hingga 90 cm.

Ipul mengaku dari sekitar 31 rumah di Desa Bandar Agung sebanyak 9 rumah di antaranya berada di Dusun Bunut Utara dan sebanyak 25 rumah berada di Dusun Umbul Besar yang berada di luar tanggul penangkis Sungai Way Sekampung.

Naiknya air banjir disebut Ipul sudah terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dan terus meninggi sehingga air sudah masuk ke ruang tamu, kamar hingga dapur.

“Sejak pagi air terus naik bahkan bagian dalam rumah sudah terendam sehingga warga terpaksa mengungsikan barang-barang ke teras masjid Mambaul Huda yang letaknya lebih tinggi dari perumahan warga,” terang Ipul, salah satu warga yang tengah memindahkan barang-barang dari rumah ke teras masjid, Sabtu (10/3/2018).

Wirda, salah satu warga Dusun Bunut Utara Desa Bandar Agung dan sembilan kepala keluarga mulai mengungsi di teras masjid Mambaul Huda [Foto: Henk Widi]
Ipul menyebut, ada sebanyak sembilan kepala keluarga yang sudah mengungsi di antaranya keluarga Firdaus, Suraji, Madya, Yusuf, Umum Subandi, Sukandar, Lakon, Husin dan dirinya.

Selain dirinya sebagian warga yang berada di wilayah bantaran Sungai Way Sekampung terutama di Dusun Umbul Besar masih bertahan di rumah karena air belum meninggi. Warga terpaksa menjadikan teras masjid sebagai lokasi mengamankan barang-barang sekaligus dapur sementara.

Suraji (45) menyebut, masjid Mambaul Huda tersebut dibangun sejak tahun 1996 dengan memperhatikan ketinggian air luapan banjir Sungai Way Sekampung dan teras dibuat setinggi 50 cm.

Pada awalnya teras masjid belum dikeramik dan saat sudah dikeramik masjid menjadi lokasi pengungsian terdekat sebab berada di posisi lebih tinggi.

Perkampungan warga yang hanya berjarak sekitar 10 hingga 20 meter dengan Sungai Way Sekampung diakui Suraji membuat warga kerap terimbas banjir. Ia menyebut siklus banjir sungai Way Sekampung awalnya hanya terjadi lima tahun sekali dan semenjak tahun 2014 mulai kerap terjadi setiap tahun.

Banjir umumnya merupakan banjir kiriman dari aliran sungai Way Pisang dan sejumlah sungai di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur dan Pesawaran.

Wirda (26) salah satu warga mengaku mulai mengungsikan peralatan masak di antaranya kompor gas untuk memasak di teras masjid karena dapur sudah terendam air. Potensi air naik disebutnya masih akan terjadi sehingga sebagian besar ibu rumah tangga terpaksa memindah dapurnya di teras masjid.

Hingga kini ia menyebut belum ada bantuan dari pihak terkait meski sebelumnya akibat banjir sudah ditinjau oleh Camat Sragi dan Kapolsek Sragi.

“Hari ini kami terpaksa masak mi instan karena biasanya tukang sayur bisa masuk ke perkampungan kam,i tapi sejak tiga hari sudah tidak bisa masuk,” terang Wirda.

Wirda bersama sejumlah ibu rumah tangga lain mengaku, akan tetap bertahan di teras masjid sekaligus dapur umum hingga banjir surut. Sementara para suami bertugas menjaga rumah yang tergenang air serta menjaga barang-barang berharga.

Masjid Mambaul Huda menjadi lokasi pengungsian sementara dan sekaligus dapur umum [Foto: Henk Widi]
Ia berharap pemerintah bisa menyediakan bantuan perahu karet untuk kebutuhan siswa sekolah. Sementara itu bantuan air bersih sangat diperlukan untuk kebutuhan masak, minum akibat sumur sudah tercemar air banjir. Selain itu anak-anak yang kerap melintas di air banjir membutuhkan bantuan salep gatal dan obat-obatan lain.

Akibat akses jalan yang ikut terendam banjir luapan Sungai Way Sekampung membuat warga tidak bisa membeli sayuran. Luapan banjir yang masuk ke halaman warga bahkan dimanfaatkan warga untuk menangkap ikan jenis betutu dan ikan tawes sebagai lauk. Berbekal waring sebagai alat menjaring ikan warga bisa memperoleh belasan kilogram ikan air tawar.

Baca Juga
Lihat juga...