Sutradara: Meski Hiburan, Film Harus Ada Pesan Moral

Editor: Koko Triarko

493
Rudi Aryanto, Sutradara -Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Peran seorang sutradara dalam sebuah film itu sangat penting untuk mengarahkan pemain dan keseluruhan proses produksi film. Mulai dari perencanaan, proses produksi syuting hingga sampai menjadi produksi film.

“Saya sebagai sutradara itu hanya strategi-strategi, tapi bagaimana menghidupkan situasi maupun nuansa itu dari para pemainnya,“ kata Sutradara Rudi Aryanto, usai acara launching trailer film ‘The Perfect Husband’ di Queens Head, Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

Rudi menilai, mereka natural sekali sesuai dengan kebutuhan cerita. Adegannya juga natural dan komediannya beda sekali. “Latar belakangnya komedi, salah paham itu menjadi dasarnya,” terangnya.

Menyutradarai film ini, Rudi merasa tertolong sekali dengan pemain yang mampu menerjemahkan cerita film ini dengan baik. “Tuntutan film itu di medium shoot, mengapa di medium shoot? Supaya penonton juga menikmati gesture dan emosinya pemain. Dengan demikian, pemahaman penonton itu bisa cepat sampai,“ ungkapnya.

Rudi mengaku sangat hati-hati, agar tidak memotong shoot yang khawatirnya bisa mengganggu emosi penonton. “Gambar itu penting tidak penting, tapi efek dari gambar itu yang penting sekali bagi penonton turut masuk perasaan dalam adegan filmya,“ bebernya.

Dalam pengamatannya, Rudi menganggap kadang ada film yang gambarnya terlalu keren sehingga penonton tidak melihat emosi pemainnya, tapi lebih pada background-nya

“Kita ada proses reading. Dari reading, kita samakan visi supaya tidak ada kesenjangan antara pemain muda dan pemain tua. Dari situ kita masing-masing bertanya, minta respon balik dari mereka setelah mereka baca karakter mereka, kira-kira apa yang akan mereka berikan pada film ini. Dari situ kita diskusikan bersama. Dari hasil diskusi bareng itu menjadi awal kita syuting film. Ensable itu diciptakan dari persiapan sebelumnya,” paparnya, panjang lebar.

Dalam penyutradaraan, ada faktor internal directing, yaitu bagaimana menciptakan emosi pemain. Sedangkan, faktor eksternal directing, bagaimana menyampaikan gagasan kepada para pemain itu berbeda-beda.

“Pengertian komedi itu kan universal, adegan komedinya bagaimana harus detail. Aku exiting banget. Ternyata pengarahanku tidak terlalu detail banget, karena mereka lagsung mengembangkan. Mereka dengan baca skenario langsung tahu, “ ujarnya.

Rudi berharap, pada film ini ada semacam premis pembelajaran, pesan moralnya harus ada, the perfect husband sebenarnya tidak hanya Bara, tokoh yang dimainkan Dimas Anggara. The Perfect Husband itu buat kaum laki-laki semua di seluruh dunia. Termasuk tokoh Pak Slamet Rahardjo, tokoh bapaknya Dimas, tokoh Tanta Ginting, bahwa the perfect husband buat kita.

“Itu semacam ada role model. Jadi, kalau penonton lihat film ini, setelah pulang ke rumah lihat bapaknya langsung memeluk dan minta maaf karena selama ini menyia-nyiakan. Saya ingin ada pesan moral seperti itu,“ tegasnya.

Rudi memahami sekali media film yang selama ini digelutinya.“Basic film itu kan hiburan, tapi dalam film tetap harus ada pesan moral yang kita sampaikan,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...