Tahan Genangan Air, Padi Varietas Muncul Tunggu Masa Panen

Editor: Satmoko

378

LAMPUNG – Pasca-diterjang bencana banjir sebagian lahan pertanian yang tergenang air di Kabupaten Lampung Selatan mulai surut.

Sapriadi, salah satu petani padi di wilayah Dusun Muara Bakau Desa Bakauheni menyebut genangan air akibat banjir melanda padi miliknya setinggi setengah meter. Imbasnya hampir satu hektar petak sawah miliknya terendam banjir menjelang memasuki masa padi berisi.

Luapan akibat banjir selama setengah bulan di lahan padi miliknya tidak membuat padi miliknya rusak. Ia menyebut masih cukup beruntung dibandingkan dengan pemilik sejumlah lahan padi di wilayah tersebut yang lahannya terendam banjir. Sejumlah pemilik lahan padi berusia kurang dari sepekan yang terendam banjir bahkan harus melakukan penanaman ulang.

“Padi milik saya kondisinya memang sudah dalam kondisi berisi saat banjir melanda sehingga kini tinggal menunggu menguning hingga masa panen,” terang Sapriadi salah satu pemilik tanaman padi di Dusun Muara Bakau Desa Bakauheni, Lampung Selatan, Sabtu (17/3/2018).

Padi varietas Muncul di wilayah Dusun Muara Bakau,Bakauheni Lampung Selatan mulai menguning pasca-diterjang banjir [Foto: Henk Widi]
Padi varietas Muncul diakuinya siap dipanen saat berusia sekitar 120 hingga 130 hari meski padi varietas lain bisa dipanen pada usia sekitar 90 hari. Sapriadi menyebut penanaman jenis padi Muncul sengaja dilakukan di wilayah tersebut yang kerap dilanda banjir akibat hujan.

Meski usia panen padi Muncul lebih lama dibandingkan padi jenis lain faktor ketahanan terhadap genangan air dan banjir menjadi pilihan bagi petani di wilayah tersebut.

Sapriadi menyebut, padi varietas Muncul bisa memiliki ketinggian sekitar satu meter sehingga tahan genangan air dan tetap bisa bertahan meski air luapan banjir belum surut. Pada lahan seluas satu hektar ia mengaku bisa memperoleh hasil panen sekitar 10 ton meski saat kondisi banjir produksi panen bisa berkurang menjadi sekitar 8 ton saat panen.

“Produksi berkurang karena pasokan pupuk yang diberikan saat tanaman tergenang hanyut,” beber Sapriadi.

Triono, salah satu petani di Dusun Muara Bakau menunggu lahan padi yang mulai berisi miliknya pasca-banjir [Foto: Henk Widi]
Petani lain bernama Triono menyebut, menanam padi varietas Muncul karena tahan genangan air dan banjir. Tanaman padi yang sempat terendam banjir mulai berbulir dan menunggu proses menguning. Meski demikian ia mengaku mengkhawatirkan serangan hama burung yang mulai menyerang tanaman padi miliknya.

Tanaman padi varietas Muncul yang mulai berisi dengan masa tanam tidak serentak membuat hama burung mulai menyerang. Banjir yang melanda wilayah tersebut diakui Triono kerap membuat petani gagal panen, terlebih saat petani menanam padi varietas lain selain Muncul.

“Sebelumnya selalu gagal karena saya menanam varietas selain Muncul sehingga saat banjir tanaman padi membusuk dan tidak bisa menghasilkan bulir,” beber Triono.

Surutnya air di wilayah Bakauheni diakui Triono cepat terjadi akibat beberapa pekan terakhir hujan mulai tidak turun. Ia menyebut jika hujan kembali turun dipastikan ia akan melakukan proses pemanenan padi menggunakan rakit batang pisang bahkan perahu. Proses perontokan padi yang sudah dipanen akan dilakukan di atas tanggul menggunakan sistem perontokan manual.

Dampak banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Selatan juga dirasakan oleh petani di Desa Sukaraja, Bangunan Kecamatan Palas dan Dusun Pusingan Desa Kuala Sekampung Kecamatan Sragi.

Ratusan hektar lahan pertanian padi yang sempat tergenang air mulai surut sehingga padi usia 60 hari mulai bisa berkembang dengan normal dan sebagian memasuki proses mengisi bulir padi.

Sejumlah petani berharap hujan tidak kembali turun lagi di wilayah tersebut. Selain mengganggu sektor pertanian, hujan membuat akses jalan antar-desa di kecamatan Sragi dan Palas terhambat. Debit air Sungai Way Pisang dan Way Sekampung mulai surut sehingga tanaman padi petani di wilayah tersebut masih bisa berkembang dengan normal.

Kepala Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi, Syamsul Anwar, menyebut dampak banjir pada lahan pertanian mulai surut. Nyaris jebolnya tanggul di tanggul penangkis sudah diperbaiki agar air Sungai Way Sekampung tidak meluap ke lahan tambak dan sawah.

Banjir yang mulai surut diakuinya akan membuat petani padi dan petambak udang vaname di wilayah tersebut bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Meski sejumlah petambak dan petani harus mengalami kerugian pasca-banjir.

Syamsul Anwar, Kepala Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Sebagian petani yang tanaman padi miliknya terendam banjir bisa menunggu masa panen, petambak bisa kembali beroperasi,” beber Syamsul Anwar.

Syamsul Anwar juga mengimbau petani di wilayah tersebut mengikuti program asuransi usaha tani padi (AUTP). Asuransi tersebut dilakukan menghindari kerugian akibat bencana alam banjir atau serangan hama yang berimbas petani gagal panen. Syamsul Anwar juga mengimbau agar petani padi memilih menanam varietas padi tahan genangan air, terlebih saat musim hujan agar kerugian bisa ditekan.

Baca Juga
Lihat juga...