banner lebaran

Tanda Cinta Pak Harto kepada Warga Tajum

Oleh Mahpudi, MT

797

Catatan redaksi:

Merayakan Maret sebagai Bulan Pak Harto, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Pak Harto tengah melakukan kunjungan ke lokasi proyek irigasi bendungTajum, Banyumas (8/4/1970)-Foto:Ist/Musuem Purna Bhakti Pertiwi.

Bagian 8 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Menjelang tengah hari pada 5 Mei 2012, Tim Ekspedisi Napak Tilas Incognito Pak Harto meninggalkan Lebaksiu, Tegal. Kami terus bergerak, dipandu oleh foto-foto dokumentasi perjalanan diam-diam Presiden Soeharto. Dari telaah foto, tim memastikan, daerah kunjungan berikutnya adalah sejumlah daerah di wilayah Purwokerto. Sebenarnya, kawasan Lebaksiu memiliki sejumlah daerah yag menarik untuk disinggahi, antara lain komplek wisata pemandian air panas Guci dan wisata alam pegunungan yang menawan di Kaligua.

Sayangnya, cuaca gerimis yang mengiringi perjalanan, membuat kami memilih untuk terus memacu perjalanan menyusuri jalanan berliku-liku di perbukitan wilayah Bumiayu. Demikian pula setelah memasuki wilayah Purwokerto, hari sudah menjelang sore, dan hujan tak kunjung reda.

Jika mengacu kepada catatan perjalanan Pak Harto saat itu, harusnya kami mengunjungi Desa Karang Lawas, sebuah desa yang tak jauh dari kota Purwokerto. Dari catatan, kami menelaah, ketika mengunjungi Desa Karang Lawas, Pak Harto sempat menyambangi sejumlah petani, sebagaimana terlihat pada foto-foto dokumentasi. Namun, ketika cuaca semakin memburuk, tim memutuskan untuk langsung menuju Puwokerto untuk mencari penginapan. Kami hanya bisa berdoa, semoga, esok harinya, cuaca cerah dan tim bisa melanjutkan ekspedisi.

Tim Ekspedisi Incognito Pa Harto bersama petugas kontrol bendungan Tajum, Banyumas, (6/5/2012)-Foto;Ist/Musuem Purna Bhakti Pertiwi.

 

Pembaca yang budiman tentu mengetahui, pada awal pemerintahan kepemimpinan Pak Harto, kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Sepanjang perjalanan Incognito, Pak Harto menyaksikan sendiri bagaimana rakyat di kampung-kampung kesulitan bahan pangan. Padahal, rakyat yang kenyang merupakan tanggungjawab pertama dan utama dari suatu pemerintahan. Itulah yang dilakukan Pak Harto ketika memulai pemerintahan Orde Baru.

Agar pangan rakyat tercukupi, pembangunan pertanian merupakan fokus utama kepemimpinan Pak Harto. Artinya, satu kunci penting keberhasilan pembangunan pertanian adalah sistem pengairan yang baik.

Seperti dikemukakan pada bagian sebelumnya, Pak Harto, baik sendiri atau mengutus para menterinya, telah meyakinkan sejumlah lembaga internasional untuk bersedia memberikan pinjaman bagi pembangunan sarana pertanian dan sistem pengairan. Satu lembaga yang berhasil diyakinkan adalah IBRD/IDA. Lembaga tersebut bersedia mendanai perbaikan irigasi yang sudah rusak parah di berbagai wilayah. Proyek berbantuan IBRD/IDA ini, kelak dikenal sebagai Proyek Irigasi berbantuan IDA (PROSIDA).

Satu proyek perbaikan irigasi yang mendapat kesempatan pertama diperbaiki oleh pemerintah berada di Tajum, Banyumas, Jawa Tengah bagian selatan. Itulah jawaban, kenapa setelah bermalam di Desa Karang Lawas, Pak Harto melakukan peninjauan terhadap proyek irigasi tersebut pada 8 April 1970. Tentunya, dengan singgah di Tajum, Pak Harto ingin memastikan, proyek ini benar-benar dilaksanakan sesuai rencana serta mengalami kemajuan sebagaimana yang diinginkan Pemerintah.

Tajum, ternyata merupakan nama sungai yang mengalir membelah kawasan Gunung Puteri, Jawa Tengah. Pada satu lokasi, tepatnya di Desa Tiparkidul, Ajibarang, Banyumas, dibangun proyek perbaikan irigasi berupa bendung, bangunan air, saluran induk, dan saluran sekunder. Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 1973 mengungkapkan, proyek Tajum termasuk dalam Proyek Perluasan Irigasi yang sudah dirintis sejak zaman Hindia Belanda, tepatnya sejak 1898. Pada 19 Desember 1963, Proyek Irigasi Tajum dihidupkan kembali oleh Pemerintah Orde Lama, namun tidak berhasil diselesaikan. Proyek ini kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Orde Baru pada 1966.

Penyelesaian proyek Irigasi Tajum penting artinya, mengingat, keberhasilan pembangunan irigasi Tajum akan mampu mengairi lahan-lahan pertanian seluas 3200 hektare di tiga kecamatan, yakni Wangon, Jatilawang, dan Rawalo. Dana yang digunakan untuk membiayai proyek Tajum, berasal dari pinjaman senilai $990.000. Dana tersebut digunakan untuk biaya konsultan dan pembelian peralatan yang digunakan untuk merampungkan proyek irigasi ini.

Ketika Tim Ekspedisi berkesempatan melihat dari dekat kondisi bendungan Tajum, petugas kontrol Bendungan yang ditemui Tim Ekspedisi menuturkan, bahwa hingga 2012, bendungan tersebut masih beroperasi dengan baik. Selain mampu mengairi ribuan hektare sawah yang ada di wilayah Banyumas, bendungan ini juga dilengkapi dengan pintu otomatis yang mampu menyalurkan air melalui saluran yang ada. Manakala debit air yang masuk berlebih, pintu otomatis bisa mencegah terjadinya bencana banjir di daerah sekitar aliran Sungai Tajum.

Prasasti Peresmian diselesaikannya pembangunan Jaringan Irigasi Tajum oleh Bapak Presiden RI Jenderal TNI Soeharto pada 26 Februari 1973-Foto:Ist/Museum Purna Bhakti Pertiwi,

 

Pada satu bagian dari saluran sekunder irigasi Tajum, terdapat sebuah prasasti kecil, berangka tanggal 26 Februari 1973 dan ditandatangani oleh Jenderal TNI Soeharto, Presiden Republik Indonesia. Sebuah prasasti yang menjadi penanda cinta seorang pemimpin yang tidak ingin rakyatnya menderita kelaparan dan tertimpa musibah bencana banjir. Penanda cinta yang masih akan terus tegak berdiri, hingga kapan pun.

 

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.