Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak, NTB Jalankan Program PUP

Editor: Irvan Syafari

467
Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj Erica-Foto : Turmuzi.

MATARAM — Salah satu penyebab terjadi kematian bayi dan ibu melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah masih tingginya kasus pernikahan dini atau usia anak, yaitu usia 19 tahun ke bawah.

Pernikahan perempuan pada usia tersebut dampaknya kurang baik, terutama bagi kesehatan reproduksi saat hamil maupun pasca melahirkan. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kematian pada bayi dan ibu melahirkan.

“Karena itulah, sebagai upaya menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan, Pemda NTB gencar mengkampanyekan mencegah pernikahan usia anak, melalui program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP),” kata Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Erica di Mataram, Jumat (23/3/2018).

Ia mengatakan, salah satu yang menguatkan komitmen PKK terhadap PUP dengan menggandeng para aktivis dan pegiat perempuan dan anak, baik melalui sosialisasi, pemberdayaan dan mendorong kebijakan.

PKK bersama Dikes dan sejumlah instansi terkait saat ini juga sedang melaksanakan sosialisasi kelas gizi bagi remaja remaja, sejak awal Maret dan akan berakhir pada Mei mendatang.

“Materi yang diberikan yaitu tentang Gizi remaja dan masa depan bangsa, kesehatan reproduksi pada remaja dan pendewasaan usia pernikahan,” katanya.

Erica mengatakan, masih tingginya angka pernikahan usia anak, selain faktor pendidikan dan pengaruh budaya, juga karena adanya ketidaksinkronan antara UU pernikahan dan UU perlindungan anak.

Disebutkan, UU pernikahan mengijinkan atau membolehkan perempuan berusia 16 tahun dan laki-laki berusia 19 tahun untuk menikah. Sedangkan dalam UU perlindungan anak, seorang yang berusia 18 tahun itu masih harus dilindungi hak-haknya sebagai seorang anak.

“Melihat ketidaksinkronan ini, kami dari TP PKK Provinsi NTB menjadi tim penggerak pertama di Indonesia yang mengajukan direvisinya undang-undang tentang usia pernikahan ke Mahkamah Konstitusi,” ujar Erica.

Pemda NTB juga telah mengeluarkan peraturan Gubernur tentang usia pernikahan yang membolehkan perempuan menikah, minimal berusia 21 tahun dan laki-laki minimal berusia 25 tahun untuk menikah.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya kematian bayi. Diantaranya berat badan bayi rendah atau lahir prematur. Asupan gizi ibu saat mengandung kurang. Sehingga penanganannya adalah dengan memperbaiki asupan gizi bagi ibu.

Selain itu, banyak ibu yang mengadung berusia di bawah usia 19 tahun, artinya masih anak-anak. Mereka merupakan anak yang menikah di usia dini. Sementara di NTB angka pernikahan dini mencapai 20 persen.

“Pernikahan dini meningkatkan potensi kelahiran ibu dan bayi,” kata Eka.

Bila anak menikah di usia dini, biasanya mereka belum siap mengasuh anak. Sehingga bayi yang dilahirkan cenderung gampang sakit, gizi kurang, dan sebagainya. Karena itu, dalam rangka menekan angka kematian bayi dan ibu, tidak hanya melalui pendekatan medis, tetapi juga kampanye mencegah pernikahan dini

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, angka kematian ibu melahirkan di NTB berada di angka 259 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut sudah berada di bawah angka nasional, yakni 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Hanya saja, angka kematian bayi masih lebih tinggi dari angka nasional, yakni 57 orang per 1000 kelahiran. Sementara angka nasional tercatat 40 orang per 1000 kelahiran.

Dari sisi penurunan, NTB terbilang cukup bagus. Turun drastis dari semula 70 orang per 1000 kelahiran menjadi 57 per 1000 kelahiran. Hanya saja, angka itu masih tinggi karena penanganan dimulai dari angka yang tinggi.

Baca Juga
Lihat juga...