Terang Bulan, Nelayan Lamsel Memilih Memperbaiki Kapal

Editor: Irvan Syafari

562

LAMPUNG — Waktu terang bulan selama tiga hari terakhir justru dimanfaatkan sejumlah nelayan di wilayah pesisir pantai timur Lampung Selatan perairan Selat Sunda memilih untuk beristirahat, akibat kondisi perairan pasang dan tangkapan ikan sulit dicari.

Sejumlah nelayan bagan congkel di Dusun Muara Piluk memilih untuk beristirahat saat tidak melaut. Salah seorang di antara mereka, Erwin (30) memperbaiki alat tangkap dan memeriksa kondisi mesin perahu dengan mesin 8 PK miliknya.

Selain karena kondisi laut, menurut Erwin, sebagian nelayan mempergunakan penanggalan bulan Jawa. Pada tanggal 15 hingga 21 penanggalan bulan diilih untuk istirahat. Selain dimanfaatkan untuk istirahat sebagian nelayan mulai membawa perahu jenis bagan congkel, kasko ke lokasi pengedokan (docking) atau lokasi perbaikan perahu.

“Nelayan selalu mempergunakan sistem penanggalan bulan terutama untuk perbaikan perahu karena perahu bisa diperbaiki dalam kondisi air surut terutama pekerjaan bawah air seperti pemeriksaan lunas dan pengecatan dinding,” terang Erwin saat ditemui Cendana News, Sabtu (3/3/2018)

Nelayan Muara Piluk lainnya Jauhari (30) menyebut, perhitungan penanggalan bulan untuk perbaikan perahu dilakukan untuk efesiensi waktu. Belum adanya lokasi pengedokan khusus yang bisa diatur pola pengaturan pasang surut air membuat nelayan masih memanfaatkan cara tradisional.

Cara tradisional yang ditempuh dengan memanfaatkan kondisi surut air laut terendah dan menaikkan perahu di lokasi docking saat pasang tertinggi.

Pasang tertinggi untuk membawa perahu ke tempat pengedokan disebutnya paling tepat sekitar pukul 07.00. Selanjutnya air akan mulai surut sekitar pukul 10.00, yang dimanfaatkan untuk perbaikan bagian perahu.

Belum adanya fasilitas docking membuat bambu dipergunakan untuk penyangga perahu bagan congkel. Perbaikan dilakukan dengan pendempulan dan pengecatan oleh sebanyak 5-6 orang pekerja.

“Pemilik perahu harus bisa memperhitungkan waktu tepat agar memudahkan perbaikan terutama pengerjaan bagian kapal yang berada di bawah air sebelum pasang harus dikerjakan,” papar Jauhari.

Perahu bagan congkel yang dikerjakan olehnya berukuran panjang 16 meter dan lebar 3 meter. Perbaikan perahu bagan congkel berbahan kayu damar dan kayu meranti tersebut diakuinya membutuhkan waktu sekitar empat hari. Puncak surut tertinggi dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan bagian bawah perahu sementara bagian dek dan dinding atas bisa dikerjakan dalam kondisi air pasang.

Nelayan lainnya Juki (40), pemilik perahu kasko tersebut mengaku berdasarkan penanggalan bulan, setiap tanggal 15 hingga maksimal tanggal 21 kondisi surut tertinggi dipergunakan nelayan untuk melakukan perbaikan perahu dan peralatan tangkap.

“Bagi nelayan yang kondisi perahunya masih bagus bisa mempergunakan waktu untuk istirahat dan bagi nelayan lain bisa untuk perbaikan perahu,” beber Juki.

Proses pendempulan, pengecatan dan perbaikan bagian dinding perahu disebut Juki, menghabiskan biaya sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta. Biaya tersebut diakuinya dipergunakan untuk pembelian bahan bahan cat, kayu, paku, dempul hingga jasa pekerja. Pemilihan cat berkualitas disebutnya dilakukan agar kondisi perahu tetap bagus saat dipergunakan melaut.

Pemanfaatan waktu terang bulan dengan fenomena pasang surut memberikan dampak besar bagi nelayan. Sejumlah nelayan terpaksa tidak bisa memperoleh hasil tangkapan dalam jumlah banyak. Menurut Juki nelayan kecil disebut Juki kerap harus meminjam uang kepada bos ikan untuk menyambung hidup.

“Nelayan yang ada di Muara Piluk sebagian merupakan nelayan tradisional dan menggantungkan modal dari bos ikan,” ungkap Juki.

Saat uang modal dipergunakan untuk modal perbaikan perahu ketika terang bulan, nelayan bisa mencari ikan saat bulan gelap atau bulan mati. Hasil penjualan ikan dari proses penangkapan ikan bagan congkel dan kasko jenis ikan teri dan ikan lain dijual untuk membayar hutang.

Meski demikian diakui Juki ratusan nelayan di Muara Piluk masih tetap menggantungkan hidup menjadi nelayan tangkap di Selat Sunda.

Pengecatan bagian lunas dan dasar perahu bagan congkel dilakukan saat air laut surut/Foto: Henk Widi.
Baca Juga
Lihat juga...