TNI Gelorakan Kecintaan Falsafah Bangsa

Editor: Irvan Syafari

JAKARTA — Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) menggelar rapat pleno ke-26 bertajuk “Tantangan dan Ancaman Terhadap Kedaulatan Negara” di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto didaulat menjadi narasumber pada rapat pleno Wantim MUI ini. Namun karena kesibukannya, beliau berhalangan hadir dan digantikan oleh Inspektur Jenderal (Irjen) di Mabes TNI, Mayjen Muhamad Herindra.

“Sedianya Panglima TNI akan hadir pada acara yang penting sore hari ini. Namun karena kegiatan yang berbenturan, maka beliau mempercayakan saya hadir di sini,” kata Herindra mengawali rapat pleno ini.

Mewakili Panglima TNI, Herindra mengatakan, TNI akan mengelorakan kecintaan falsafah bangsa, yaitu Pancasila kepada seluruh masyarakat Indonesia hingga ke wilayah perbatasan.

“Panglima TNI menganggap program ini sejalan dengan ide dan gagasan Wantim MUI untuk berbagai peran yakni menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa,” ucapnya.

Peran lainnya, lanjut dia, adalah menjaga stabilitas nasional dan kedaulatan NKRI, yang dihadapkan pada tantangan ancaman global yang semakin kompleks.

Adapun jelas Herindra, pernyataan Proklamasi Kemerdekaan maupun UUD 1945 pada hakekatnya merupakan tonggak sejarah berdirinya NKRI. Nilai-nilai yang terkandung dalam UUD 1945 menjadi falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

Dalam kehidupan kata dia, sejatinya kita harus memuliakan sejarah bangsa. Seperti kerajaan-kerajaan nusantara yaitu Majapahit dan Sriwijaya yang pernah mencapai masa keemasan dengan memiliki pengaruh besar bagi negara Indonesia.

“Sebagai bangsa berdaulat, kita seharusnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Herindra

Dia menegaskan, perasaan senasib dan sepenanggungan harus menjadi pondasi semangat persatuan dan kesatuan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan harus memberikan kedaulatan bagi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Memang tegas dia, untuk mewujudkannya memerlukan perjuangan dengan pemikiran besar yang sarat dengan nilai-nilai mulia Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Konsep Pancasila menempatkan konsep Ketuhanan pada sila pertama. Ini bermakna kerukunan hidup berbangsa dalam perbedaan agama, suku, dan ras dengan mengutamakan nilai kerakyatan sebagai rahmat untuk alam semesta dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dia menegaskan, bahwa perangkat negara adalah pelayan kepentingan bangsa dalam berdemokrasi. Tentu juga harus memberikan kenyamanan kepada masyarakat, yang tidak boleh teredukasi secara sewenang-wenang dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Pancasila adalah nilai untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berdaulat,” tegasnya.

Indonesia sebagai negara Pancasila, menurutnya, harus terus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa. Sehingga mampu bertahan menghadapi gempuran pengaruh asing yang bersifat mengacau.

Membangun kedaulatan negara salah satunya adalah sebut dia, kemajuan industri sebagai sarana untuk meningkatkan perekonomian. Sementara kemajuan manusia dalam bentuk ancamam teknologi sebagai fenomena yang berdampak pada karakter manusia.

Dengan kemajuan teknologi, Herindra berharap, agar masyarakat mencerna mana yang benar mana yang tidak dari setiap informasi.

“Karena adanya upaya untuk memecah belah bangsa Indonesia, maka sejatinya kita harus berjuang mengamalkan Pancasila,” pungkasnya.

Lihat juga...