Unicef: Kondisi Anak NTT Sangat Memprihatinkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

203

MAUMERE — Kondisi kehidupan anak-anak di provinsi NTT sangat memprihatinkan bahkan bisa dikatakan mengenaskan. Mengingat torehan peringkat kehidupan anak-anak di segala bidang masih bertengger di posisi terbawah dari semua provinsi di Indonesia.

“Terdapat 27 persen anak-anak di NTT yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan menempati peringkat ke 32 dari seluruh provinsi. Kondisi ini membuat kehidupan anak-anak NTT masih jauh dari layak dalam semua aspek kehidupan,” tutur Yudisthira Yewangoe, kepala Perwakilan Unicef NTT dalam Focus Group Discussion (FGD, Selasa (6/3/2018).

Dikatakan Yudi, anak-anak NTT yang terdeprivasi multidimensi atau perampasan hak-hak anak dimana sekitar dua dari tiga anak dengan terdeprivasi dua dari enam aspek yakni kesehatan, fasilitas, pangan dan nutrisi, pendidikan, perlindungan anak dan perumahan.

“Untuk provinsi NTT dari anak-anak yang terdeprivasi multidimensi menempati peringkat 33 dari 34 provinsi di Indonesia. Anak-anak kekurangan dua aspek seperti pangan dan nutrisi serta pendidikan,” tuturnya.

Sementara itu sambung Yudi, untuk stunting atau kondisi gizi kronis, anak-anak di NTT menempati rangking ke-34 atau peringkat terbawah di Indonesia. Artinya satu dari dua anak di NTT ukuran tinggi badannya kurang atau lebih pendek dari usianya saat ini.

“Anak-anak NTT yang lahir dibantu tenaga medis, provinsi NTT menempati rangking ke 33 sedangkan untuk sanitasi dasar dan Balita yang memiliki akta kelahiran, provinsi NTT menempati rangking terbawah dari 34 provinsi,” terangnya.

Kemampuan membaca anak-anak NTT juga masih sangat rendah sambung Yudi dimana anak-anak NTT menempati peringkat 27. Dalam bahasa yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa anak-anak di NTT seperti ditelantarkan bila melihat kondisi yang terjadi.

“Selain itu, hanya 50 persen tindak kekerasan pada anak yang dilaporkan ke pihak berwajib dan umumnya kekerasan itu dilakukan oleh anggota keluarga. Lebih sering laporan itu tidak ditindaklanjuti dimana jenis kekerasan yang dialami berupa kekerasan fisik,” bebernya.

Sementara itu, Kapolres Sikka AKBP Rickson PM Situmorang,SIK mengatakan, kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ini dilakukan guna menyadarkan masyarakat agar peduli terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Sikka yang terus meningkat.

“Setiap orang diharapkan untuk peduli terhadap kasus kekerasan anak dan perempuan sehingga kegiatan semacam ini harus dilakukan secara terus-menerus dengan melibatkan semua pemangku kepentingan,” harapnya.

Rickson juga meminta agar peran lembaga adat diperkuat serta dilakukan pembinaan mental dan spiritual agar bisa menekan kasus kekerasan baik terhadap perempuan dan juga kepada anak-anak di kabupaten Sikka.

Baca Juga
Lihat juga...