Untung Edukasi Petani Lewat Wayang Sawah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

451

YOGYAKARTA — Seorang warga asal dusun Dobangsan, Giripeni, Wates, Kulonprogo memiliki cara unik sekaligus kreatif untuk mengedukasi para petani di sekitar desanya. Ia sengaja menciptakan sebuah wayang yang secara khusus dibuat untuk membantu menghadapi berbagai persoalan terkait pertanian.

Untung Suharjo (43) lelaki yang banyak berkecimpung dalam berbagai kegiatan pertanian ini merupakan pemrakarsa pembuatan Wayang Sawah yang secara khusus dibuat bagi petani tradisional yang ada di desa-desa.

Selain memiliki tokoh-tokoh unik yang lekat dengan dunia pertanian seperti hama wereng batang coklat, tikus, hingga burung hantu Tyto Alba, Wayang Sawah juga memiliki lakon atau cerita tersendiri yang mengisahkan pertarungan antara kerajaan hama dan kerajaan hewan predator pemangsa hama.

Untung sendiri mengaku mulai membuat Wayang Sawah sejak tahun 2015 lalu. Pembuatan Wayang Sawah itu dilatarbelakangi rasa keprihatinannya melihat banyaknya petani di desanya yang menggunakan pestisida kimia secara berlebihan hingga merusak ekosistem di lahan pertanian yang ada.

“Awalnya di sekitar desa saya banyak petani yang tidak bisa membedakan mana hama tanaman dan predator pemangsa hama. Mereka sering menggunakan pestisida kimia dalam jumlah banyak hingga membuat musuh alami hama yang sebenarnya bermanfaat untuk menjaga ekosistem sawah justru mati,” katanya.

Karena merupakan seorang penyuluh pertanian swadaya, maka Untung pun merasa tergerak untuk memberikan edukasi. Ia kemudian menggunakan wayang sebagai media penyuluhan. Seperti misalnya mengajarkan jenis-jenis hewan predator pemangsa hama atau musuh alami hama yang tidak boleh dimusnahkan seperti tomcat, walang wadung, ular hingga burung hantu.

“Wayang dipilih karena sudah menjadi budaya yang kental di masyarakat. Banyak petani yang senang melihatnya. Karena itu dengan menggunakan media ini, diharapkan penyampaian akan lebih mudah dicerna,” katanya.

Untung pun biasa menggelar pertunjukan setiap kali ada pertemuan atau kegiatan antar petani. Seperti misalnya saat acara wiwitan atau upacara panen bersama. Yakni dengan mengajak teman-temannya mulai dari seorang dalang, penabuh gamelan, hingga rombongan grub musik rebana.

“Awalnya wayang sawah ini hanya saya pentaskan di sekitar desa saja. Namun karena banyak yang suka, akhirnya banyak desa lain yang juga ikut mengundang. Apalagi setelah mendapat juara 1 lomba festival wayang di Yogyakarta. Akhirnya semakin dikenal. Karena baru pertama ada di Indonesia, maka saat ini kita sedang berupaya mematenkan,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...