Untungkan Petani, Kembangkan Varietas Padi Sistem Tumpangsari

Editor: Satmoko

714

LAMPUNG – Kerap terkendala kebutuhan air untuk bercocok tanam padi membuat petani di Desa Sukabaru memilih mengembangkan varietas padi dengan tingkat kebutuhan air yang minim.

Agus Purnomo (38) salah satu warga Desa Buring Kecamatan Penengahan mulai mengembangkan varietas padi Sertani (Serikat Tani Indonesia). Ia menyebut bibit padi tersebut diperoleh dari ilmuwan penemu bibit unggul padi Sertani  bernama Profesor Surono Danu di Lampung Tengah.

Awalnya, Agus Purnomo menanam padi varietas Sertani yang diberikan oleh profesor Surono Danu sebanyak 10 kilogram pada tahun 2015 dan dikembangkan pada lahan seluas setengah hektar. Padi Sertani 13 atau cukup dikenal padi Sertani yang ditanam dengan sistem semai tersebut bisa dipanen pada usia 95 hari.

Hasil pengembangan tahap awal jenis padi tersebut memperoleh hasil sebanyak 1 ton gabah kering panen (GKP) pada lahan seperempat hektar. Hasil yang memuaskan membuat Agus, demikian ia dipanggil, mengembangkan padi Sertani bersama petani lain di wilayah tersebut. Ia menyebut, penanganan dengan pemupukan yang baik bisa meningkatkan produksi padi Inpari yang lebih banyak.

“Keunggulan padi varietas Sertani cukup tahan terhadap kondisi tanah dan cuaca di wilayah ini. Bahkan dengan kebutuhan air yang minim saya aliri dari sumur, ketika irigasi kering padi masih bertahan,” terang Agus Purnomo, salah satu petani penanam padi varietas Sertani di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Senin (5/3/2018),

Tanaman cabai merah siap panen [Foto: Henk Widi]
Keunggulan lain padi Sertani yang sudah ditanam selama tiga tahun tersebut menurut Agus di antaranya umur tanam yang lebih singkat sekitar 95 hari dari persemaian, sementara padi lain 125-150 hari. Selain itu, jumlah bulir padi pada malai bisa mencapai 300-400 butir, sementara jenis padi lain maksimal hanya menghasilkan 200 butir. Jumlah malai yang berbulir banyak, diakuinya menjadi penentu hasil panen.

Ketahanan pada cuaca kering bahkan pernah dicobanya saat petani lain memilih tidak menanam padi, ia tetap menanam padi Sertani. Melalui penanganan yang baik, ia menyebut, hasil panen per hektar padi Sertani bisa menghasilkan 10 hingga 14 ton gabah kering. Meski kendala petani di wilayah tersebut diakuinya memiliki lahan terbatas dan kerap dikombinasikan dengan tanaman produktif lain.

Keunggulan padi varietas Sertani hasil temuan profesor Surono Danu, diakui Agus Purnomo, sekaligus menjawab kebutuhan petani yang kerap mengeluh soal kondisi cuaca. Saat musim kemarau dengan kebutuhan air dan cuaca yang tak mendukung untuk menanam padi ia masih bisa menanam padi Sertani. Bahkan dengan mengaplikasikan penanaman padi Sertani bersama dua jenis tanaman lain berupa cabai merah besar dan jagung manis, masih memberi keuntungan ekonomis.

“Saya sudah kembangkan sistem tumpangsari padi Sertani dengan jagung manis, cabai merah selama setahun terakhir, dan hasilnya cukup menguntungkan,” bebernya.

Penanaman tiga jenis tanaman tersebut diakuinya setelah ia melihat potensi yang bisa dikembangkan. Pada lahan guludan dengan mulsa, Agus membudidayakan cabai merah sebanyak 2000 batang di belakang rumahnya, dan merupakan tambahan dari sebanyak 7000 batang cabai merah di lahan kebun. Total panen cabai merah disebutnya mencapai 3 ton dengan harga sekitar Rp30.000 per kilogram.

Pada bagian siring yang berair, padi Sertani ditanam seperti pada lahan sawah dengan sistem pengairan, menggunakan mesin pompa dari sumur saat musim kemarau. Sementara jagung manis ditanam pada tepi tanggul yang bisa dipanen pada usia sekitar 75 hari untuk dijual sebagai jagung rebus. Penanaman tiga jenis tanaman tersebut diatur dengan jarak waktu yang tepat, sehingga proses perawatan bisa dilakukan secara bersamaan.

“Hasilnya saya bisa memperoleh pendapatan mingguan dari cabai merah, bulanan dari padi dan jagung manis,” terang Agus Purnomo.

Petani yang mengandalkan irigasi dari sungai Way Jejur tersebut, menyebut penanaman padi varietas Sertani masih belum meluas di wilayah tersebut. Ia bahkan mengaku sebagian petani masih menanam beberapa varietas padi Ciherang, IR 64 yang diakuinya membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Penanaman varietas padi Sertani yang sudah dikembangkan, sebagian dipergunakan sebagai bibit dan mulai dijual kepada sejumlah petani.

Ia menyebut, sebagian petani yang berniat menanam padi Sertani, awalnya melihat jumlah bulir yang lebih banyak pada malai dibandingkan dengan jenis padi lain. Pemanfaatan penanaman sistem tumpangsari dengan jagung dan cabai disebutnya dilakukan untuk efisiensi pemupukan. Pemberian pupuk untuk jagung dan cabai merah sekaligus bisa memberi sumber pupuk untuk tanaman padi yang berada di sela-sela guludan.

Selain unggul ditanam pada lahan, Agus Purnomo menyebut, pernah mencoba menanam padi Sertani di dalam pot. Padi Sertani yang ditanam di dalam pot diakuinya masih tumbuh sempurna dengan penanganan seperti di lahan sawah sekaligus sebagai contoh. Pengembangan padi Sertani dengan hamparan tanpa tanaman lain juga bisa menghasilkan gabah yang lebih banyak, dua kali lipat dibandingkan padi biasa.

Agus menyebut, varietas padi Sertani sekaligus bisa menjawab kebutuhan petani di wilayah lahan tanpa irigasi permanen. Pada lahan yang tidak memperoleh kebutuhan air lancar, padi varietas Sertani tetap bisa ditanam sehingga masih cukup menguntungkan bagi petani. Termasuk dilakukan oleh Agus Purnomo dengan penanaman sistem tumpangsari dengan jagung manis dan cabai tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...