Usaha Gula Merah di Lamsel Mulai Bergairah

Editor: Koko Triarko

571

LAMPUNG — Usaha tradisional gula merah di desa Pematangbaru dan desa Sukaraja, kecamatan Palas, Lampung Selatan, kembali bergairah.

Harno (40), perajin gula kelapa selama lebih dari tujuh tahun menyebut, sekitar 15 perajin gula kelapa yang masih beroperasi kini mulai banyak memproduksi gula merah. Permintaan yang tinggi sekaligus harga yang membaik menjadi faktor usaha gula merah kembali bergairah.

Menurut Harno, kenaikan harga gula merah sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. Semula di tingkat produsen hanya berkisar Rp6.000, naik menjadi sekitar Rp8.000 per kilogram. Permintaan dari sejumlah pedagang pengecer untuk dijual kembali di sejumlah pasar menjadi pemicu kenaikan harga gula merah.

Gula merah yang bisa awet disimpan selama dua bulan menggunakan wadah kedap udara, sehingga bisa dijual saat permintaan tinggi.

“Sebagian pengecer sengaja membeli dalam jumlah banyak untuk stok dijual menjelang bulan Ramadan, saat kebutuhan gula merah tinggi,” terang Harno, Selasa (27/3/2018).

Harga gula merah diakui Harno akan meningkat di pengepul gula yang sebagian sekaligus sebagai pemodal bagi para pembuat gula merah. Para bos atau pengepul disebut Harno menjadi pendukung usaha pembuatan gula dari modal sewa pohon kelapa, distribusi hasil gula merah, termasuk tempat meminjam uang saat ada kebutuhan mendesak.

Purnomo, menyiapkan cetakan terbuat dari bambu untuk proses pembuatan gula merah di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. [Foto: Henk Widi]
Keterbatasan modal disebut Harno membuat produsen gula merah masih bergantung dengan para pemodal sekaligus pengepul.

Harga gula merah pada pengepul saat ini diakui Harno bisa mencapai Rp10.000 per kilogram dengan isi sekitar 15 butir. Selanjutnya, pada tingkat pengecer di pasar gula merah bisa dijual seharga Rp12.000 per kilogram, dan bisa diprediksi naik menjelang bulan Ramadan.

Faktor hujan dengan melimpahnya air, membuat proses menderes yang meningkat membuat hasil gula kelapa menjadi lebih baik dibandingkan saat kemarau.

Kenaikan harga gula merah juga diakui oleh Kadar (58), perajin gula merah yang dibantu sang istri bernama Irawati (56), di Desa Pematangbaru. Di desa tersebut, Kadar menyebut ada 10 perajin gula kelapa dengan sistem sewa lahan kelapa milik warga lain yang memiliki pohon kelapa. Sebanyak 100 batang kelapa disewa dengan harga Rp2 juta per tahun yang bisa dideres  setiap hari.

“Meski disewa dalam jangka setahun, namun pada musim kemarau hasil deresan kerap menurun dan produksi ikut anjlok,” beber Kadar.

Harga gula merah di level petani yang sudah mencapai Rp8.000, di akuinya cukup lumayan. Dengan hasil 50 kilogram gula, dirinya bisa memperoleh uang sekitar Rp400 ribu, dan rata-rata per pekan bisa menghasilkan Rp800 ribu. Sebanyak 100 liter air deresan pohon kelapa dengan waktu pengumpulan selama dua hingga tiga hari, kata Kadar, kerap maksimal dibuat menjadi 50 kilogram gula. Sebulan saat proses produksi gula rutin, dirinya bisa mendapatkan hasil Rp3 juta dari membuat gula.

Hasil penjualan gula tersebut akan dipotong untuk pembelian bahan bakar kayu, mencicil biaya sewa pohon serta sebagian untuk kebutuhan sehari-hari.

Pada musim hujan, meski proses memanjat pohon kelapa untuk dideres lebih sulit, ia bersyukur air deresan lebih banyak dan hasil gula meningkat.

Selain itu, adanya pengepul sekaligus pemodal yang membantunya membuat ia tidak kuatir kesulitan menjual gula. “Kami juga memiliki kelompok pembuat gula beranggotakan sepuluh orang, dan kerap mengadakan arisan bulanan dan memiliki uang kas,” terang Kadar.

Meski memiliki kelompok, Kadar menyebut, usaha pembuatan gula merah di desa tersebut belum pernah mendapatkan bantuan. Sebagian alat dan fasilitas pembuatan gula merah disebutnya dibeli dengan modal sendiri. Alat pembuatan berupa wajan, alat cetak sebagian sudah dalam kondisi memprihatinkan, sehingga perlu peremajaan. Penggunaan yang terus-menerus diakuinya membuat sebagian alat cepat aus, sehingga arisan kelompok bisa membantu untuk membeli alat baru.

Purnomo (30), generasi kedua perajin gula merah di Desa Pematangbaru, mengaku menyewa 50 batang pohon kelapa dengan biaya Rp1,5 juta per tahun. Menghasilkan sebanyak 25 kilogram gula merah setiap dua hari sekali. Membaiknya harga gula merah disebutnya cukup menguntungkan produsen gula kelapa, meski ia mengakui masih bergantung pada bos atau pengepul gula.

Salah satu kendala permodalan, diakui Purnomo karena sebagian warga tidak berani mengajukan kredit usaha ringan (KUR) ke bank dengan syarat yang sulit. Jalan satu-satunya dilakukan dengan meminjam uang dari bos yang sekaligus sebagai tengkulak atau pengepul gula.

Meski demikian, membaiknya harga gula dari semula Rp6.000 menjadi Rp8.000 per kilogram dan masih berpotensi naik mendekati Ramadan dan Idul Fitri, bisa meningkatkan ekonomi produsen gula merah.

Baca Juga
Lihat juga...