Vino Terapkan Pengalaman Main Film di Kampanye Peduli TBC

Editor: Satmoko

192
Vino Bastian (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Vino Bastian termasuk aktor laris yang banyak membintangi film. Seperti di antaranya, mulai dari film 30 Hari Mencari Cinta (2003), Catatan Akhir Sekolah (2004), Cinta Silver (2005), kemudian Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1-2 (2016-2017), Chrisye (2017), hingga Wiro Sableng yang sebentar lagi akan segera tayang.

Pengalaman banyak main film ia terapkan di Kampanye Peduli TBC. Karena sukses sebuah film tentu dari mulut ke mulut, dari orang yang paling awal nonton film mengatakan bagus diceritakan pada teman-temannya yang kemudian tertarik nonton film tersebut.

Begitu juga dengan Kampanye Peduli TBC, bisa memanfaatkan getok tular dari mulut ke mulut sehingga cepat meluas untuk saling mengingatkan mengenai bahaya TBC.

“Saya sangat mendukung Kampanye Peduli TBC sehingga pagi-pagi saya sudah mau datang ke sini untuk mensosialisaikan ke masyarakat yang banyak berolahraga di acara car free day,“ kata Vino Bastian sebagai salah satu pembicara dalam acara yang bertema “Tunjukkan Kepedulianmu terhadap Sesama” di Tartine Café, FX Sudirman – Pintu Satu Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (25/3/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta, 24 Maret 1982 itu terkejut mendengar penuturan Dr. Erlina Burhan yang mengatakan, bahwa TBC termasuk penyakit yang mematikan. Pada tahun 2016, terdapat 274 kasus kematian per hari di Indonesia.

“Pada tahun yang sama, kasus TBC baru mencapai 1.020.000 pengidap. Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India,” ungkap putra bungsu dari Bastian Tito, penulis cerita silat yang terkenal lewat serial Wiro Sableng.

Aktor Utama Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2008 lewat film Radit dan Jani itu menegaskan, bahwa kenyataan tersebut sangat mengkhawatirkan.

“Hanya sepertiga orang yang mau mengaku terkena TBC dan kemudian segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit, tapi selebihnya diam saja,“ beber Vino menyayangkan.

Bagi Vino, batuk ada etikanya, mungkin saat batuk, kita akan menutup mulut dengan telapak tangan. Tujuannya mungkin baik, namun belum tentu benar dan justru cara ini akan menjadi media penyebaran infeksi yang cepat.

“Dengan menutup telapak tangan, tanpa sadar Anda telah memindahkan bakteri dari telapak tangan Anda ke orang lain melalui bersentuhan atau bersalaman,“ ujarnya.

Menariknya dari sisi kesehatan, batuk memiliki etika. “Tanpa memandang apakah batuk tersebut disebabkan oleh gejala dari suatu penyakit menular atau hanya merupakan refleks pertahanan tubuh akibat adanya benda asing atau iritan,“ tegasnya.

Vino menyarankan kalau batuk sebaiknya ditutupi dengan bagian lengan atas kita. “Karena bagian lengan atas merupakan bagian yang jarang melakukan kontak baik dengan benda maupun orang lain seperti saat jabat tangan,“ tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.