Warga Keluhkan Rusaknya Jalan Desa Akibat Proyek JTTS

Editor: Koko Triarko

326

LAMPUNG — Sejak proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar dikerjakan pada 2015, imbas kerusakan akses jalan masyarakat semakin parah. Salah satu kerusakan terjadi di STA 18 Dusun Sumbersari, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Salah satu warga Dusun Sumbersari, Budi (30), mengatakan, kerusakan semakin parah  setelah kendaraan dan alat berat proyek JTTS kerap melintas di akses jalan desa tersebut. Kerusakan di antaranya pada ruas sepanjang dua kilometer dari Jalinsum menuju lokasi parkir kendaraan dan alat berat milik PT. Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA).

Perusahaan subkontraktor pelaksana JTTS pemasok kendaraan dan alat berat tersebut bahkan setiap hari melintas di jalan desa. Kerusakan gorong-gorong di Dusun Banyumas dan Sumbersari bahkan semakin parah setelah alat berat melintas.

“Pagi ini, gorong-gorong amblas di Dusun Sumbersari dengan melintasnya puluhan kendaraan alat berat dan membahayakan warga yang melintas. Sebagian jalan amblas dan berlubang sudah diperbaiki, namun gorong-gorong harus diperbaiki permanen, agar tidak kembali rusak,” terang Budi, Selasa (6/3/2018).

Gorong-gorong Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan amblas akibat lalu lalang kendaraan pengangkut material Jalan Tol Trans Sumatera [Foto: Henk Widi]
Menurut Budi, selain kerusakan akibat kendaraan yang melintas, hujan deras yang turun dalam beberapa hari terakhir juga membuat kerusakan jalan semakin parah. Ia berharap, pihak terkait di antaranya PT. LMA selaku subkontraktor bisa melakukan perbaikan pada beberapa titik yang rusak.

Selain PT. LMA pelaksana Jalan Tol Sumatera, PT. Pembangunan Perumahan (PP) juga disebutnya bertanggungjawab tehadap kerusakan jalan tersebut.

Penanggungjawab PT. LMA di STA 18 JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I Bakauheni-Sidomulyo, Pujiadi, ditemui Cendana News mengaku akan segera melakukan perbaikan akses jalan warga.

Perbaikan atas desakan warga tersebut dilakukan dengan mengirim sekitar tiga dum truk material batu sabes untuk timbunan. Perbaikan dilakukan dari Dusun Banyumas dan Sumbersari yang berlubang dan bergelombang.

“Sebuah alat berat dikerahkan untuk meratakan batu sabes dan split di sejumlah titik yang perlu diperbaiki sementara,“ beber Pujiadi.

Perbaikan akses jalan yang dilakukan oleh PT. LMA, diakui menjadi tanggungjawab sosial bagi perusahaan penyedia alat berat tersebut. Pasalnya, sekitar 30 kendaraan dum truk pengangkut material tanah dan batu diparkir selama berbulan-bulan di Dusun Sumbersari.

Didampingi warga dan anggota Koramil 03/Penengahan, Serda Sudarwanto, perbaikan jalan sementara dilakukan untuk memudahkan aktivitas warga.

Pujiadi, pengawas dari PT.LMA mengawasi proses penimbunan material batu sabes untuk jalan rusak akibat lalu lalang kendaraan tol [Foto: Henk Widi]
Pujiadi menyebut, tanggung jawab memperbaiki kerusakan jalan dan gorong-gorong permanen akan dilakukan oleh PT. PP sesuai perjanjian antara aparat desa dan pelaksana proyek JTTS.

Ia menyebut, perbaikan gorong-gorong yang amblas akibat kendaraan harus dibuat dengan pipa beton bertulang atau Reinforced Concrete Pipe (RCP). Sebab, kerusakan gorong-gorong tersebut disebabkan dalam proses pengerjaan proyek JTTS terutama di STA 18.

Dikonfirmasi terpisah melalui telepon, Kepala Dusun Sumbersari, Nasrullah, mengaku warga dan aparat desa sudah membuat berita acara kesepakatan dengan PT. PP (Persero). Pada surat kesepakatan tertanggal 16 Maret 2017, berisi kesepakatan mengenai akses jalan yang dilalui kendaraan pengangkut alat berat yang melalui Dusun Banyumas dan Sumbersari. Kesepakatan tersebut disaksikan oleh Bhabinkambtimas Polsek Penengahan, Kepala UPT Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kecamatan Penengahan serta Kepala Desa Pasuruan.

Nasrullah menyebut, kerusakan terjadi pada badan jalan, talud, drainase dan gorong-gorong dan akan diperbaiki oleh PT. PP selaku pelaksana  proyek JTTS. Kesepakatan empat poin yang ditandatangani oleh Yus Yusuf selaku General Affairs PT. PP, menyebut PT. PP pada poin ketiga bersedia memperbaiki akses jalan yang rusak paling lambat 15 hari setelah kesepakatan ditandatangani oleh PT.PP.

“Padahal, ini sudah hampir satu tahun batas waktu yang ditentukan, namun belum ada kepastian tentang perbaikan akses jalan rusak,” beber Nasrullah.

Setelah kesepakatan tersebut, pihak desa bahkan kembali melayangkan surat bernomor 145/260/III.06.01/III/2017 tertanggal 31 Juli 2017. Isinya merupakan tuntutan warga, agar PT. PP melakukan perbaikan kerusakan jalan yang dilintasi oleh alat berat, dan hingga kini belum ada tanggapan.

Dengan tuntutan yang ditandatangani oleh Kartini, selaku Kepala Desa Pasuruan, kerusakan jalan bahkan belum ditanggapi hingga awal 2018.

General Affair PT. PP, Yus Yusuf, saat akan dikomfirmasi Cendana News meski dalam keadaan aktif telepon selulernya, namun tidak bersedia mengangkat. Pantauan Cendana News akses jalan yang rusak sementara ditimbun dengan batu sabes dan split, dan gorong-gorong ambrol sementara diberi tanda bambu dan kayu, agar warga tidak terperosok.

Baca Juga
Lihat juga...