Warga Manfaatkan Banjir di Sungai Way Pisang untuk Cari Ikan

Editor: Koko Triarko

532

LAMPUNG — Banjir akibat hujan deras yang melanda wilayah kecamatan Penengahan, Palas dan Sragi di kabupaten Lampung Selatan, masih menggenangi area persawahan di wilayah tersebut. Kondisi banjir tersebut dimanfaatkan sebagian warga untuk mencari ikan air tawar yang terbawa arus banjir.

Warga desa Baktirasa, kecamatan Sragi, Sodik (30), menyebut saat banjir warga kerap mempergunakan alat tangkap tradisional, di antaranya pancing, jaring, bubu dan ancok.

Salah satu teknik menangkap ikan yang kerap digunakan adalah mempergunakan ancok, yang merupakan alat tangkap dengan waring, bambu yang disilangkan dan sebuah bambu pengangkat. Penggunaan ancok kerap dilakukan saat banjir karena proses penangkapan ikan tidak harus masuk ke dalam air, bahkan bisa dilakukan di tepi sungai.

“Areal persawahan dan juga lebung yang banyak ikan di wilayah ini kerap semakin banyak saat hujan, sehingga menjadi kesempatan mencari ikan di tepi Sungai Way Pisang dan tanggul area persawahan,” terang Sodik, Rabu (7/3/2018).

Berbagai jenis ikan air tawar yang diperoleh dengan alat tangkap ancok [Foto: Henk Widi]
Menurutnya, penggunaan ancok menjadi pilihan bagi warga juga karena tidak harus mempergunakan umpan. Sodik yang mencari ikan dengan ancok bahkan menjadi tontonan bagi warga yang melintas di tanggul penghubung antara desa Baktirasa, Mandalasari menuju ke desa Marga Sari.

Berbekal ember dan waring untuk menampung ikan, pencarian ikan dilakukan di bawah jembatan yang merupakan saluran air.

Selain Sodik, pencari ikan dengan ancok di antaranya Ahmad (32), menyebut saat musim hujan dimanfaatkan warga untuk mencari ikan. Pascabanjir sejumlah lokasi saluran air menjadi lokasi pencarian ikan menggunakan ancok. Puluhan pencari ikan menggunakan ancok memilih lokasi pintu air dan saluran air yang kerap menjadi lokasi ikan terbawa arus.

“Saluran air menjadi lokasi perputaran air dari area persawahan dan kerap menjadi tempat perlindungan ikan yang berada di Sungai Way Pisang, sehingga ancok bisa dipasang,” beber Ahmad.

Ancok yang dikenal dengan sebutan pecak dan sirip oleh warga suku Sunda di wilayah tersebut, kata Ahmad, kerap menghasilkan tangkapan ikan melimpah. Selain ikan air tawar dari area lebung, persawahan dan sungai, musim banjir juga kerap membawa ikan dari area kolam dan tambak.

Kolam ikan yang kerap meluap dengan ikan patin, lele, emas dan nila kerap terbawa arus banjir menjadi sumber pendapatan bagi warga. Beberapa jenis ikan yang diperoleh dari Sungai Way Pisang, di antaranya ikan sepat, mujair, wader, kating dan betok.

Dalam jangka waktu satu jam, Ahmad mengaku bisa mendapatkan ikan sebanyak dua kilogram ikan berbagai jenis. Ikan tersebut kerap dipergunakan sebagai lauk dengan cara digoreng menjadi peyek ikan atau diolah menjadi botok ikan.

Ancok yang digunakan dibenamkan dalam air selama beberapa menit menunggu ikan yang masuk ke dalam waring. Setelah diprediksi ikan sudah masuk ke dalam ancok, proses pengangkatan ancok memanfaatkan sebuah galah yang dipasang. Ikan yang sudah tertangkap di ancok diserok menggunakan gayung dan dipindahkan ke dalam ember sebelum dibawa pulang.

Selain mempergunakan ancok, sebagian warga memakai alat tangkap ikan tradisional menggunakan jaring dan bubu. Penggunaan alat tangkap jaring tersebut dilakukan pada area lahan persawahan yang sudah tergenang air hingga dada orang dewasa.

Hasan (40) salah satunya, memasang sekitar sepuluh bubu dan memperoleh ikan gabus dan berbagai jenis ikan. “Saat tidak hujan memang di sebagian lebung banyak ikan air tawar namun saat banjir ikan semakin banyak sebagian dari sungai,”beber Hasan.

Meski warga bisa mencari ikan air tawar di area persawahan, Hasan menyebut banjir segera surut. Selain bisa segera melakukan penanaman kembali tanaman padi yang rusak warga bisa kembali beraktivitas setelah terisolir.

Baca Juga
Lihat juga...