Warga Penengahan Jadikan Pinang Tanaman Konservasi, Sekaligus Ekonomis

Editor: Irvan Syafari

188

LAMPUNG — Kerap longsor dan tergerus oleh aliran air dari Way Tebing Ceppa di Desa Tamanbaru, Kecamatan Penengahan membuat warga melakukan penanaman pohon pinang.

Tanaman menyerupai pohon kelapa ini sengaja ditanam oleh warga di batas kebun, tepi sungai, tepi jalan sebagai tanaman konservasi. Warga juga mendapat manfaat ekonomis dari budi daya pinang ini. Selain itu budi daya pinang yang tidak membutuhkan perawatan khusus.

Rozak (38), salah satu warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan adalah salah seorang yang memiliki lahan di Desa Tamanbaru dan tepat berada di bawah Gunung Rajabasa.

Ia mengaku menanam sekitar seratus tanaman pinang, yang tersebar di beberapa lokasi sebagian sebagai tanaman pagar, tanaman sela. Tanaman pinang rata rata tumbuh secara liar dan sebagian dipencarkan setelah buah tumbuh sebagai benih.

“Saat matang buah yang kerap dimakan bajing jatuh dan terbawa air sungai sebagian tumbuh di tepi sungai lalu saya tanam di sepanjang bantaran sungai hingga bisa saya panen,” ujar Rozak kepada Cendana News, Rabu (28/3/2018)

Salah satu keunggulan tanaman pinang disebutnya memiliki perakaran yang bagus saat tumbuh di dekat aliran air. Imbasnya sebagian tanah yang sebelumnya kerap longsor terikat dan terbantu akan keberadaan pohon pinang tersebut. Selain menjaga longsor keberadaan pinang menjadi sumber penangkap air sehingga lahan perkebunan yang ditanam cengkih dan kakao terlindungi.

Tanaman pinang berperan juga sebagai pagar pembatas alami antar tanah kebun warga selama puluhan tahun. Sebagian tanaman pinang yang masih produktif disebut Rozak sengaja dipanen untuk dipergunakan sebagai pewarna kain dan bahan dalam upacara adat.

“Dalam adat Lampung pinang kerap digunakan bersama sirih untuk upacara adat meski sekarang sudah jarang digunakan, tapi secara historis keberadaan pinang masih berkaitan erat dengan tradisi tersebut,” beber Rozak.

Rozak mengaku memanen pinang menggunakan galah diberi sabit untuk mendapatkan pinang yang sudah tua. Pinang yang dikumpulkan selanjutnya dikupas dan dibelah lalu dijemur dan dijual dalam kondisi kering.

Ia menekuni usaha penjualan buah pinang semenjak harga hanya berkisar Rp2.000 per kilogram hingga kini Rp6.000 per kilogram di tingkat petani dan Rp8.000 di tingkat pengepul.

Harga yang menjanjikan buah pinang dan manfaat untuk lingkungan juga diakui oleh Sarifudin, warga Desa Tamanbaru lainnya. Desa Padan dan Tamanbaru yang bersebelahan memiliki akses jalan desa,  sengaja ditanami oleh ratusan pohon pinang. Berjarak sekitar tiga meter antar pohon membuat akses jalan dua desa tersebut terlihat rapi dan teduh meski kondisi cuaca terik.

“Keberadaan pohon pinang memang sangat berperan dalam konservasi alam mencegah polusi, panas dan menyediakan oksigen sekaligus menghasilkan uang,” tkata Sarifudin.

Pohon pinang mulai menghasilkan pada usia tiga tahun, saat mulai berbuah. Pada saat in ketinggian mencapai lima meter, tetapi ada yang lebih pendek. Pinang muda kerap dijadikan jus buah. Pengepul biasanya membeli dengan harga Rp5.000 per kilogram untuk pinang muda.

Sementara pohon berusia lebih dari lima tahun bisa mencapai ketinggian sepuluh meter. Hasil panen buah pinang dalam kondisi kering berkisar Rp6.000 sehingga untuk 100 kilogram bisa memperoleh Rp600 ribu bahkan bisa lebih sesuai dengan tingkat produksi per pohon.

Jadi Habitat Burung

Sarifudin menyebut keberadaan pohon pinang sekaligus menjaga resapan air di wilayah tersebut. Selain tumbuh bersama tanaman lain pohon pinang kerap menjadi habitat berbagai jenis burung. Mereka meletakkan sarang pada bagian pelepah.

Saat pohon tidak produktif pada  Agustus saat HUT Kemerdekaan RI dan acara khusus, pohon pinang bahkan laku dijual seharga Rp100ribu perbatang.

“Kami pilih tanaman yang sudah berusia tua dan langsung dilakukan peremajaan dengan tanaman baru agar bisa kembali berbuah,hampir setiap warga bahkan sengaja menanam minimal lima batang pinang di depan rumah sekaligus sebagai pagar,”beber Sarifudin.

Keberadaan pohon pinang di desa Tamanbaru dan Padan diakui Sarifudin sekaligus menjadi komoditas penyokong ekonomi warga. Harga yang mulai membaik untuk per kilogram buah pinang disebut Sarifudin seiring meningkatnya permintaan.

Rozak, menjemur hasil panen buah pinang yang akan dijual ke pengepul-Foto: Henk Widi.

Bahan baku pewarna pakaian dan obat tersebut diakui Sarifudin membuat warga terus menanam pinang sebagai sumber mendulang uang dan tanaman konservasi lingkungan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.