Warga Tanam Pohon Perkuat Tanggul Penangkis Banjir

Editor: Koko Triarko

331

LAMPUNG — Kerusakan lahan pertanian, pertambakan ikan dan udang akibat banjir luapan Sungai Way Sekampung tahun ini lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Banjir Way Sekampung diakui Sukri (50), warga dusun Bunut Utara, merupakan siklus alam yang kerap terjadi dan merupakan siklus lima tahun sekali sejak 1985. Meski demikian, siklus mulai berubah sekitar 1999 dengan banjir yang kerap terjadi setiap tahun pada Februari hingga Maret.

Sebagai penahan banjir, proses pembangunan tanggul sudah dilakukan sejak 1983, bersamaan dengan proyek lahan pertanian Rawa Sragi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Pembangunan tanggul tersebut, kata Sukri, ikut melindungi lahan pertanian dan pertambakan yang banyak terdapat di wilayah tersebut. Selain tanggul penangkis, sebagian warga bahkan sengaja melakukan penanaman kayu untuk penahan longsor dan limpas air luapan Sungai Way Sekampung.

“Selain melakukan pembuatan tanggul secara permanen dengan semen dan sebagian menggunakan talud tanah, tanggul juga mulai ditanami dengan berbagai jenis pohon sebagai penahan longsor,” terang Sukri, Rabu (14/3/2018).

Sukri, salah satu warga dusun Bunut Utara memperlihatkan bantaran sungai Way Sekampung [Foto: Henk Widi]
Sukri menyebut, tanggul penangkis di desa tersebut nyaris jebol pada Selasa (13/3) sehingga ratusan warga dari Dusun Bunut Utara, Bunut Tengah melakukan penimbunan menggunakan talud karung berisi tanah ditambah dengan kayu gelam.

Ia menyebut, siklus banjir tersebut merupakan dampak banjir kiriman dari berbagai sungai yang ada di wilayah Lampung. Imbasnya pemilik pertanian perkebunan pisang, kelapa, sawit lahan sawah dan tambak di sepanjang tanggul penangkis kerap mengalami kerugian.

Menurut Sukri, menyebut banjir yang kerap terjadi imbas dari berkurangnya resapan air yang berada di sepanjang wilayah tersebut, terutama di sepanjang luar tanggul.

Beberapa lapis tanaman penahan banjir yang ditanam dengan berjajar di tepi sungai, sempat terendam luapan Sungai Way Sekampung akibat dahsyatnya banjir tahun ini dibanding tahun sebelumnya.

Selain Sukri, warga lain yang tinggal di dekat tanggul bernama Opan, menyebut penanaman tanaman jenis bambu mutlak dilakukan karena menyebabkan kerugian ekonomis bagi petani dan petambak.

Selain kerugian ekonomis, kerugian secara ekologis diakui oleh Opan terjadi akibat perubahan siklus banjir yang semula hanya terjadi setiap lima tahun sekali kini mulai berubah menjadi minimal dua tahun sekali.

“Selama ini, pada beberapa bagian tanggul masih dibiarkan tanpa ada penahan alami, sehingga saat debit air besar warga waswas tanggul jebol seperti yang terjadi tadi malam,” terang Opan.

Air luapan Sungai Way Sekampung yang limpas, disebutnya akan berimbas kerugian material, bahkan mengakibatkan naiknya air laut yang terdorong oleh pasang.

Sebagian warga yang berada di dalam tanggul dengan kesadaran mulai melakukan penanaman berbagai jenis pohon penahan longsor tanggul terutama saat musim hujan.

Ratusan meter tanggul penangkis di Dusun Pusingan, Desa Kuala Sekampung yang terbuat dari tanah bahkan masih berpotensi tergerus limpasan air Sungai Way Sekampung.

Aribun Sayunis, ketua asosiasi pembudidaya catfish Indonesia provinsi Lampung, menyebut banjir tidak lepas dari kerusakan lingkungan yang terjadi di hulu. Akibat penebangan pohon dan kurangnya kepedulian masyarakat untuk menanam pohon, membuat sumber resapan air saat hujan berkurang. Imbasnya sejumlah sungai penampung air hujan tak mampu menahan laju derasnya air saat musim penghujan.

“Persoalan utama banjir di Way Sekampung akibat adanya siklus pasang surut air laut dan dampak berkurangnya resapan air,” terang Aribun Sayunis.

Kerusakan ekologis disebutnya menjadi penyebab banjir masih kerap terjadi di wilayah tersebut. Sebagai pemilik usaha sektor perikanan, Aribun bahkan menyebut dampak sangat terasa adalah pemilik usaha tambak yang harus melakukan panen dini.

Kerugian material yang tidak sedikit dalam siklus lima tahunan yang menjadi lebih singkat satu hingga dua tahun sangat dirasakan pemilik usaha sektor perikanan.

Selain petambak, sebanyak 120 warga di desa Bandar Agung di Dusun Umbul Besar, Bunut Utara dan Sumber Jaya, juga masih terendam banjir. Dalam waktu dekat, ia mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDASWSS) dan Dinas Kehutanan.

Koordinasi dilakukan untuk melakukan normalisasi tanggul dan membuat tanggul penangkis alami melalui penanaman pohon. “Penanaman pohon ditanggul penangkis pada beberapa titik terbukti efektif menahan gerusan pada tanggul yang berpotensi jebol diantaranya tanaman akasia dan randu di sepanjang tanggul,” terang Aribun.

Ia menyebut, perlu peran serta aktif masyarakat dan pemerintah untuk mencegah saat sebelum banjir melalui gersakan reboisasi. Pemanfaatan sebagian kawasan tangkapan air untuk penanaman jagung disebutnya membuat resapan air berkurang terutama di daerah aliran sungai way Pisang. Imbasnya kiriman air ke sungai yang berlebih membuat air banjir merusak lahan pertanian.

Dampak ekologis dan ekonomis tersebut diakuinya harus diminimalisir melalui penanaman pohon yang memiliki perakaran kuat dan meresap air.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.