Wartawan Jadi Korban Kekerasan Polisi Kenya

Ilustrasi Bendera Kenya - Foto Dokumentasi CDN

NAIROBI – Tokoh oposisi Kenya Miguna ditahan pihak kepolisian setempat Senin (26/3/2018). Penahanan dilakukan ketika yang bersangkutan kembali dari luar negeri, sebulan setelah diusir karena perselisihan mengenai kewarganegaraan ganda di tengah peningkatan ketegangan politik di Kenya.

Penahanan tersebut memunculkan insiden, berupa aksi kekerasan pemukulan dan penendangan oleh polisi kepada wartawan yang meliput upaya pemulangan politikus oposisi tersebut di bandar udara Nairobi. Akibat aksi kekerasan tersebut, kolumnis dari kelompok media papan atas Kenya mengundurkan diri pada Selasa (27/3/2018).

Presiden Uhuru Kenyatta melancarkan tindakan keamanan setelah keabsahan atas keterpilihannya kembali ditentang pemimpin oposisi Raila Odinga. Dengan membidik mereka yang dianggap memburuhkan rasa tenggang rasa demokratis di Kenya. Hal tersebut akhirnya direspon delapan kolumnis yang menuduh manajemen Nation Media Group (NMG) mencampuri keputusan keredaksian.

NMG adalah penerbit Daily Nation, koran yang paling banyak dibaca di Kenya. Para kolumnis menilai, manajemen NMG terlalu dekat dengan pemerintah. “Kami menolak terus menutupi hilangnya kebebasan editorial dan kebebasan media di NMG dengan segala hormat,” kata kolumnis itu dalam pernyataan di Twitter.

Setelah dipulangkan pada Februari, pengadilan memerintahkan Miguna diberikan akses untuk masuk kembali. Saat dipulangkan pada Senin (26/3/2018) petugas imigrasi Nairobi menolak menerima paspor Kenya milik Miguna dan meminta untuk menyerahkan dokumen perjalanannya ke Kanada.

“Akibat hal tersebut terjadi kebuntuan komunikasi dan negosiasi hingga berjam-jam. Pada akhirnya puluhan petugas berpakaian preman menyeret Miguna ke pesawat maskapai Emirates menuju Dubai,” kata Senator oposisi James Orengo.

Miguna kemudian dikeluarkan dari pesawat dan dibawa ke kantor polisi bandara. Dia tetap berada di kantor polisi hingga Selasa (27/3/2018) tanpa akses ke pengacaranya.

Sementara itu saat terjadi insiden, wartawan dari Daily Nation dan dua stasiun televisi swasta diserang dan dibiarkan terjatuh dengan berdarah-darah oleh polisi. Hal tersebut terlihat dalam rekaman video milik salah satu jurnalis Nation. “Saya menyaksikan seorang petugas polisi menendang rekan saya dari belakang, lalu menendang kameranya, lalu menendang kepalanya,” kata wartawan Ibrahim Oruko.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mwenda Njoka mengatakan, pemerintah hanya mengikuti aturan hukum dalam kasus Miguna. “Kami belum menolaknya masuk. Kami hanya perlu dia mengikuti proses sama seperti yang lainnya,” tegasnya.

Ketegangan di Kenya muncul saat keluhan dari oposisi atas pelaksanaan pemilihan umum hingga korupsi dan perselisihan antar kelompok etnis muncul. Kondisi tersebut telah menimbulkan kekhawatiran internasional saat negara tersebut menjadi negara dengan perekonomian paling maju Afrika Timur dan pusat regional utama untuk keamanan, diplomasi dan perdagangan.

Sumpah jabatan Odinga meningkatkan suhu politik dengan mempertanyakan integritas pemilihan kembali Kenyat pada tahun lalu. Meskipun kedua pesaing itu mendadak melakukan gencatan senjata tak terduga pada awal bulan ini, setelah berbulan-bulan kerusuhan akibat pemilihan umum yang tercatat menyebabkan 100 orang tewas. (Ant)

Lihat juga...