banner lebaran

Waspadai Bahaya Komunis Melalui Refleksi Teror PKI Kanigoro

Editor: Irvan Syafari

274

KEDIRI — Trauma yang begitu mendalam terus dirasakan warga Kanigoro Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, utamanya korban yang mengalami sendiri peristiwa Kanigoro yang terjadi pada 13 Januari 1965. Bahkan dari peristiwa inilah disebut-sebut menjadi prolog rentetan terjadinya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dikenal dengan nama G30 S PKI.

Untuk itu, setiap tahunnya warga Kanigoro bersama dengan keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) memperingati peristiwa tersebut dengan menggelar acara “Refleksi Teror PKI Kanigoro” di lokasi kejadian.

Ketua Panitia, M Ali Imron, menjelaskan bahwasannya acara refleksi tersebut sengaja rutin diadakan setiap tahun untuk terus mengingatkan kepada seluruh masyarakat khususnya umat Islam bahaya bangkitnya kembali PKI. Karena pada saat ini banyak anak muda yang lupa, bahkan tidak percaya dengan teror maupun kekejaman yang dilakukan PKI terhadap umat Islam.

“Sekarang ini banyak anak muda mungkin karena ketidak tahuan mereka mengenai sejarah, sehingga mereka tidak percaya kalau peristiwa Kanigoro itu benar-benar terjadi, ujarnya, Minggu (11/3/2018).

Oleh sebab itu, selain mengundang pembicara Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein dan Prof Dr Zainuddin Maliki, dalam acara refleksi kali ini juga dihadirkan M Ibrahim Rais sebagai pelaku sejarah sekaligus korban dari kebiadaban PKI di Kanigoro.

Lebih lanjut Ali Imron menceritakan, teror Kanigoro terjadi ketika kader Pelajar Islam Indonesia (PII) mengikuti training centre di Kanigoro yang diselenggarakan oleh pengurus wilayah PII Jawa Timur. Tepat pada 13 Januari 1965 tempat itu diserbu oleh gerombolan yang mengatas namakan kader dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat.

Kedua ormas ini adalah kader dari PKI. Sebagai tuan rumah training centre pada saat itu, lebih-lebih setelah peristiwa itu terjadi, PKI merasa menang sehingga mereka kerap mengintimidasi masyarakat Kanigoro sehingga mengakibatkan trauma yang begitu mendalam bagi masyarakat Kediri, kisahnya.

“Perlu saya sampaikan juga, berdasarkan informasi dari tim yang mendata para angota PKI, mereka menemukan sebuah dokumen yang menyebutkan bahwa Masjid yang di pakai oleh anak-anak PII untuk training centre, rencananya oleh PKI Masjid tersebut akan dijadikan balai desa dan rumah-rumah di sekitaran Masjid akan dijadikan rumah dinas kepala desa,” ungkapnya.

Mudah-mudahan dengan senantiasa kita rutin menyelengarakan acara refleksi ini, bisa memberikan pembelajaran sejarah yang benar kepada generasi muda sekaligus bisa meningkatkan kewaspadaan masyarakat mengenai bahaya komunis.

Sementara itu, acara yang digelar bersamaan dengan peringatan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tersebut mampu menarik animo masyarakat untuk datang. Tidak kurang dari 1.000 orang mulai dari orang tua, dewasa, remaja dan juga anak-anak turut hadir dalam acara refleksi teror PKI Kanigoro di gedung pertemuan MTsN. Bahkan tidak hanya dari Kediri saja, tetapi juga dari Yogjakarta, Solo, Madiun, Ponorogo, Ngawi, Jombang, Magetan.

Ketua Panitia, Ali Imron-Foto: Agus Nurchaliq.

“Biasanya acara ini di selenggarakan pada 13 Januari 2018. Tapi karena ada beberapa kendala akhirnya peringatan refleksi Kanigoro di adakan pada 11 Maret yang kemudian ternyata bersamaan dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang menjadi tonggak sejarah pembubaran PKI oleh Jendral Soeharto,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.