Yusten Ndaumuna: Ibu Tien Soeharto Suka Musik Sasando

Editor: Satmoko

310
Seniman yang juga Staf Anjungan Maluku TMII, Yusten Ndaumuna. Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Yusten Ndaumuna adalah seniman daerah asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada tahun 1985, dia sudah bekerja di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

“Saya melatih musik khas NTT dan sering tampil di berbagai acara TMII maupun Istana Negara dan lainnya,” kata Yusten kepada Cendana News, Sabtu (31/3/2018) sore.

Dia mengaku, dulu di masa pemerintahan Presiden Soeharto, tepatnya setiap tanggal 17 Agustus sering diundang untuk tampil di Istana Negara membawakan lantunan musik Sasando. Yakni salah satu alat musik tradisional dari Pulau Rote, NTT.

Sebagai seniman daerah, Yusten mengaku bangga bisa tampil di depan Ibu Tien dan Pak Harto juga para duta besar (dubes) negara lain. Apalagi kata dia tampil di istana itu sudah tak terhitung. Karena selain pada peringatan HUT RI, Yusten juga kerap diundang menghibur tamu negara di istana dengan membawakan musik Sasando.

“Ibu Tien Soeharto sangat suka musik Sasando. Saya bangga bisa tampil di depan beliau yang sangat perhatian pada seni budaya tradisional,” kata Yusten.

Bahkan saking sukanya Ibu Tien dengan musik Sasando, kata Yusten, sampai kemudian dibangunlah rumah adat Pulau Rote di Anjungan NTT TMII.

Kembali Yusten mengisahkan, saat di Istana Negara memang dirinya tak bisa mendekat Ibu Tien karena penjagaan ketat protokuler. Padahal dalam hati dia sangat ingin sekali berbincang dengan pemrakarsa TMII itu.

Demikian pula saat tampil di Sasono Langen Budoyo yang dihadiri Ibu Tien dan Pak Harto. Atau saat perayaan HUT TMII, Ibu Tien selalu mengunjungi anjungan daerah menyalami para karyawan dan selalu menanyakan kabar.

“Meski belum kesampaian berbincang dengan beliau. Tapi disalami dan disapa beliau adalah kebanggaan bagi saya. Senyum Ibu Tien itu penuh makna damai perhatian rakyat kecil,” kata Yusten.

Ketika Ibu Tien wafat, Yusten mengaku sangat kehilangan sosok Ibu Bangsa pemerhati seni budaya yang begitu peduli kepada kesejahteraan rakyat kecil.

Bahkan, saat Pak Harto lengser pun, Yusten mengaku menyimpan kesedihan. Karena dia memiliki pengalaman saat tampil di depan Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali di Istana Negara.

“Saya mainkan musik Timor-Timur (Timur Leste) cuma dua setengah menit, tapi sangat berkesan. Pak Harto menyambut dengan hangat,” ujar ayah dua anak ini.

Menurutnya, sejak Pak Harto lengser dirinya tidak lagi tampil di Istana Negara. Tapi saat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden RI, baru kemudian dia tampil lagi di Istana Negara.

“Sosok Pak Harto itu tak tergantikan, sulit mencari pemimpin seperti beliau. Buktinya sekarang terasa semua serba terpuruk utamanya ekonomi,” ungkap Yusten.

Kembali pada TMII, Yusten berharap para pemimpin TMII yang baru mampu mengembalikan TMII ke kemuliaan budaya masa lalu. Yakni kata dia, menggaungkan seni budaya daerah lebih mengelora lagi hingga setiap pengunjung memiliki kesan dan pemahaman budaya mendalam.

“TMII dulu itu luar biasa. Setiap hari ramai apalagi hari Minggu semua anjungan daerah pasti ada kegiatan seni. Tapi setelah pemrakarsanya wafat, gaungnya mundur,” kata Yusten yang kini menjadi staf Anjungan Maluku TMII.

Kalau Ibu Tien, menurut dia, selalu mengimbau semua kepala daerah untuk mengadakan pertunjukan di Anjungan daerah yang ada di TMII. Masalah anggaran daerah di masa dulu untuk promosi seni budaya juga sangat diperhatikan. Namun sekarang ini, kata Yusten, anggaran daerah dibatasi sehingga promosi seni budaya Maluku tersendat.

Di HUT ke 43 TMII, Yusten berharap TMII bisa lebih berkembang lagi dengan berbagai program inovasi dalam pelestarian seni budaya bangsa. Menjadi wahana pelestarian seni budaya bangsa.

“Saya berharap pemimpin baru TMII bisa memuliakan budaya masa lalu dan membawa misi budaya Indonesia hingga ke luar negeri,” kata pria kelahiran 52 tahun ini.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.