Anak Korban Kekerasan Seksual Perlu Penanganan Intensif

183
Ilustrasi - Dok CDN

LEBAK  – Anak korban kekerasan seksual membutuhkan perawatan intensif. Demikian yang dilakukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak, Banten, dalam menangani anak-anak korban kekerasan seksual agar kejiwaan mereka kembali pada kehidupan normal.

“Semua para korban kejahatan seksual mendapatkan terapi kejiwaan guna menyelamatkan masa depan mereka,” kata Ketua P2TP2A Kabupaten Lebak Ratu Mintarsih, di Lebak, Minggu.

Penanganan anak korban kekerasan seksual itu melibatkan psikolog untuk mengembalikan kejiwaan agar tidak mengalami trauma.

Selain itu, mereka dikembalikan ke sekolah dan tidak berhenti sekolah.

P2TP2A juga mendampingi kasus kekerasan seksual yang ditangani aparat kepolisian hingga pengadilan.

Para pelaku kejahatan terhadap anak itu adalah orang dekat dan bisa saja ayah tiri, paman hingga guru.

Menurutnya, meski pelakunya masih tergolong belum dewasa (anak), namun tetap harus diproses secara hukum.

Namun, pelaku seksual yang dilakukan usia anak, tentu berbeda dengan tindak pidana dilakukan oleh orang dewasa.

Para pelaku kejahatan yang dilakukan anak, maka dikenakan UU Perlindungan Anak.

“Para pelaku kekerasan anak itu harus diproses secara hukum, agar memberikan efek jera kepada pelaku lainnya,” katanya pula.

Menurut dia, kasus kekerasan anak di Kabupaten Lebak sejak Januari-Maret 2018 tercatat tujuh kasus tersebar di sejumlah kecamatan.

Para korban kekerasan itu adalah kasus pemerkosaan dan pencabulan serta pedofil.

Menurut dia, P2TP2A Lebak menangani kasus korban kejahatan seksual untuk menyelamatkan masa depan mereka agar tidak mengalami trauma dan dendam.

Karena itu, pihaknya memberikan konseling dan bantuan terapi psikologis terhadap anak-anak korban kejahatan seksual agar bisa kembali pada kehidupan normal.

Selanjutnya, para korban kekerasan seksual anak yang masih sekolah, tetap difasilitasi agar dapat melanjutkan pendidikannya.

“Kami siap melindungi anak korban kejahatan seksual untuk masa depan mereka,” ujarnya menegaskan.

Ia mengatakan penyebab kasus kejahatan seksual anak akibat perkembangan penggunaan teknologi internet dan lingkungan yang mempengaruhi terbentuk karakter anak.

Apalagi, saat ini, anak begitu mudah mendapatkan akses pornografi melalui media sosial, baik facebook, twitter, telepon seluler, situs internet, tayangan televisi, dan lainnya.

Sedangkan penyebab lainnya akibat himpitan ekonomi, rendah pendidikan, dan keluarga “broken home” akibat perceraian.

“Kami minta orang tua agar mengawasi anak-anak mereka, baik dalam pergaulan di luar maupun di rumah untuk mencegah menjadi korban kekerasan anak,” katanya pula. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.