banner lebaran

Angka Kematian Ibu dan Bayi di NTT Lampaui Ambang Batas Nasional

Editor: Koko Triarko

467

MAUMERE – Pemerintah kabupaten dan kota di NTT, harus mampu menekan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, dengan melibatkan semua sektor untuk berkomitmen menyelamatkan perempuan dan generasi yang akan datang.

“Menurut survei dasar kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, angka kematian ibu melahirkan di NTT sangat tinggi. Sebesar 306 ibu dari 100.000 kelahiran. Padahal, di tingkat nasional, angkanya hanya 228 ibu dari 100.000 kelahiran,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Marian Bernadina Sada Nenu, MPH., Jumat (20/4/2018).

Sedangkan angka kematian bayi, kata Maria, berjumlah 57 kematian dari setiap 1.000 kelahiran. Padahal, angka kematian bayi secara nasional lebih rendah, yaitu 36 kematian dari 1000 kelahiran. Data terakhir pada 2017 dari Balai Pelatihan Kesehatan Kupang, mencatat persentase kematian ibu dan bayi sebesar 85,7 persen.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Martina Pali. -Foto: Ebed de Rosary

“Di seluruh NTT saja masih terdapat 300 dari 100 ribu ibu meninggal saat melahirkan. Sementara itu, 1.300 dari 100 ribu bayi yang lahir di NTT meninggal ketika mereka berusia kurang dari 1 bulan,” sebutnya.

Penyebab langsung kematian ibu, jelas Maria, terjadi pada umumnya sekitar persalinan dan 90 persen karena komplikasi. Penyebab langsung kematian ibu menurut SKRT 2001 adalah perdarahan sebanyak 28 persen, eklamsia  24 persen, infeksi 11 persen, komplikasi puerperium 11 persen serta abortus 5 persen.

“Kematian ibu juga disebebkan trauma obstetric lima persen, emboli obstetric lima persen, partus lama atau macet lima persen serta lainnya 11 persen. Salah satu penyebab kematian ibu hamil ini karena ibu yang mengalami kekurangan gizi,” tuturnya.

Masih tingginya angka kematian Ibu di provinsi NTT, sebesar 215/100.000 Kelahiran Hidup (Dinkes Provinsi NTT, 2012) sebut Maria, padahal target nasional 102/100.000 KH (BPS, 2012), merupakan persoalan penting yang harus diatasi.

Martina Pali, Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, menyebutkan, angka kematian ibu hamil di kabupaten Sikka masih tergolong tinggi, bahkan melampaui ambang batas nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Dijelaskan Martina, untuk tahun 2015, kematian ibu hamil di kabupaten Sikka mencapai angka 151,86 per 1.000 kelahiran hidup, sementara untuk tahun 2016 mencapai angka 251,9 per 1.000 kelahiran hidup, di mana ambang batas nasional hanya sebesar 121 per 1.000 kelahiran hidup.

“Untuk ibu hamil di Sikka yang meninggal pada 2015 sebanyak delapan orang, sementara pada 2016 sebanyak 13 orang. Kami sudah menginstruksikan tenaga kesehatan yang bertugas di desa, agar tinggal dan menetap di desa, sehingga bila ada kejadian yang dialami ibu hamil bisa segera dilakukan pertolongan,” ungkapnya.

Persalinan dengan kualifikasi tertinggi di Nusa Tenggara Timur mayoritas 58,2 persen ditolong oleh bidan, sementara oleh dukun sebanyak 27 persen, dokter kebidanan dan kandungan  6,5 persen dan yang lainnya dengan persentase yang lebih kecil.

Karena beragamnya penolong persalinan tersebut, di mana sebagian bukan tenaga kesehatan, maka persentase persalinan seluruhnya yang ditolong oleh tenaga kesehatan hanya 66 persen saja (RISKESDAS 2013).

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.