Anna Mariana Gigih Kenalkan Budaya Tradisional Tenun

Editor: Satmoko

Anna Mariana (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Anna Mariana, sosok perempuan yang begitu gigih mengenalkan budaya tradisional tenun dan songket serta batik Betawi.

Bahkan ia terus memperjuangkan sampai hari ini sejak bertahun-tahun lalu terus membawa aspirasi dan keinginan para perajin tenun Indonesia yang selama ini juga berjuang untuk mengangkat budaya tradisional tersebut.

“Keterlibatan saya di Situ Babakan Fair 2018 ini untuk mendukung kegiatan budaya, karena saya diundang oleh Badan Musyawarah Betawi dan penyelenggara di sini yang mengharapkan saya hadir untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat,“ kata Anna Mariana kepada Cendana News saat acara Situ Babakan Fair 2018 di Kampung Betawi, Situ Babakan, Jalan. Moh. Kafi II Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/4/2018).

Harapan Anna bisa mengenalkan budaya tradisional tenun dan songket sebagai pengembangan budaya baru di Jakarta atau Betawi.

“Produknya kita adakan pergelaran dengan fashion show diperagakan sekitar 20 model, baik laki-laki maupun perempuan agar masyarakat dapat mengenal langsung. Supaya masyarakat tahu bahwa tenun dan songket itu bisa digunakan dalam rancangan atau desain,“ ungkap Bendahara Umum dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini.

Anna menyampaikan karena menjelang Ramadhan, maka busana yang ditampilkan dalam fashion show bernuansa hijab berbahan tenun dan songket Betawi juga batik tenun.

“Saya modifikasi bahan dasarnya tenun, metodenya dilukis supaya motifnya kelihatan seperti batik. Padahal kain dasarnya berbahan tenun yang semuanya kita modifikasi dengan dilukis,“ bebernya.

Menurut Anna, Setu Babakan merupakan pusat kebudayaan Betawi, yang diresmikan Presiden Jokowi pada tahun lalu.

“Kebetulan waktu itu saya hadir. Ini sudah menjadi pusat kunjungan wisata juga, baik domestik maupun luar negeri yang ingin mengenal produk-produk budaya Betawi. Selain itu ada juga museum Betawi,“ paparnya.

Di Setu Babakan juga akan menjadi pusat pelatihan dan sekolah untuk tenun, songket serta batik Betawi, menurut Anna,  memberdayakan sekitar 250 kaum dhuafa yang masih dalam usia potensial sekaligus siap bekerja.

“Mereka antara lain adalah ibu-ibu PKK di wilayah yang dekat dengan Setu Babakan,” ucapnya.

Kegiatan ini bagi Anna menjadi bukti sangat nyata dari LKB sebagai lembaga yang berfungsi bukan saja sebagai pelestari budaya tapi juga mampu memberdayakan kehidupan masyarakat.

“Kegiatan ini sekaligus bisa meningkatkan sektor ekonomi kreatif masyarakat, supaya kaum dhuafa yang masih produktif, dan mampu bekerja itu bisa lebih mandiri. Sekaligus tidak bergantung pada belas kasihan orang lain, tidak lagi mengharapkan sumbangan untuk hidup dan makan sehari-hari” urainya.

“Mereka akan dilatih menenun dengan bahan baku yang kami sediakan. Hasilnya nanti akan saya beli. Kalaupun ada dari mereka yang tidak berbakat menenun, bisa tetap bergabung misalnya bisa sebagai penjahit!” imbuhnya tampak begitu sangat bersemangat.

Anna menekankan pada pemerintah harus tahu bahwa ini produk unggulan yang mampu membawa nama baik Indonesia di kancah internasional. Ini merupakan budaya yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, baik itu batik, tenun maupun songket.

“Ini kekayaan milik budaya warisan leluhur nenek moyang kita yang harus kita akui secara legal sehingga tidak diklaim negara-negara lain,“ tegasnya.

Di negara lain di belahan dunia manapun, tidak ada yang seperti Indonesia yang konsisten mengembangkan hampir 37 provinsi mempunyai tenun dan songket yang beragam dan punya ciri khas daerahnya masing-masing.

“Ini yang sudah terbukti kekayaan Indonesia, warisan budaya kita, aset budaya kita itu kaya sekali,“ tandasnya.

Situ Babakan Fair 2018 menggelar berbagai kegiatan bernuansa Betawi. Seperti di antaranya, Tarian Selamat Datang, Palang Pintu, peragaan silat, lenong, musik sambrah dan peragaan busana dengan mengedepankan tenun maupun songket Betawi terbaru karya kreatif dari Anna Mariana.

Lihat juga...