Bahan Baku Teri Tawar di Lampung, Melimpah

Editor: Koko Triarko

456

LAMPUNG — Sejumlah produsen teri tawar dan teri rebus di pesisir Lampung Selatan, mulai mudah memperoleh bahan baku pascapaceklik hasil tangkapan nelayan bagan congkel dan apung.

Salah satu pengepul ikan teri dan beragam ikan lain, di pusat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni, Juanda, menyebut paceklik hasil tangkapan ikan terjadi sejak awal Februari hingga Maret dan kembali mendapat banyak tangkapan (along teri) pada bulan April. Ia menyebut, saat paceklik hasil tangkapan satu kapal bagan hanya mendapatkan 20 keranjang (cekeng), kini mendapatkan sebanyak 150 hingga 200 cekeng.

Melimpahnya hasil tangkapan ikan teri, dimanfaatkan oleh tiga jenis usaha di wilayah Lampung Selatan. Ikan teri segar pertama kali dibeli oleh para penjual ikan keliling (pelele) untuk dijual sebagai ikan teri mentah, pembeli kedua merupakan produsen teri rebus untuk diolah menjadi teri asin, pembeli ketiga merupakan produsen teri tawar untuk diolah tanpa perebusan.

Ambo Ajja, produsen teri rebus di dusun Pegantungan desa Bakauheni [Foto: Henk Widi]
“Pada saat paceklik ikan, para produsen teri harus berebut untuk mendapatkan bahan baku dan pemilik modal besar yang mendapatkan banyak, karena menawar dengan harga tinggi, sisanya memilih libur tidak berproduksi,” terang Juanda, Senin (16/4/2018).

Melimpahnya hasil tangkapan nelayan bagan, kata Juanda, tidak berpengaruh pada harga jual ikan teri segar. Dua jenis harga yang kerap diterapkan oleh nelayan, yakni harga pagi dan harga sore. Saat ikan teri didaratkan pada pagi hari, harga ikan teri bisa mencapai Rp180.000 hingga Rp200.000. Harga akan lebih rendah saat teri didaratkan pada siang hingga sore hari dengan kisaran harga Rp140.000 hingga Rp160.000 per cekeng.

Pengepul ikan teri seperti Ambo Ajja, misalnya, memiliki satu unit kapal bagan congkel pencari teri. Saat musim paceklik, tangkapan ikan terinya hanya sebanyak 60 cekeng. Namun, pada musim along teri, rata-rata bagan congkel dan bagan apung bisa mendapatkan 100 cekeng. Sehari dirinya bahkan bisa mendapatkan 80 cekeng hasil dari bagan congkel miliknya, sisanya dibeli dari nelayan lain pencari teri.

Modal membeli sebanyak 200 cekeng saja, dengan harga Rp180.000 dirinya harus mengeluarkan sekitar Rp36 juta. Rata-rata per cekeng teri basah ditimbang dengan berat 15 kilogram untuk teri jengki atau sebanyak 3 ton teri segar dibelinya.

Sistem pembelian dilakukan tunai dan sebagian dibayar dengan nota seperti umumnya transaksi nelayan di tempat pendaratan ikan. Hasil ikan teri tersebut diolah menjadi teri asin yang diolah dengan perebusan menggunakan garam.

“Para bos ikan dan nelayan sudah ada relasi saling percaya, keduanya saling menguntungkan, ikan bisa tertampung dan modal melaut bisa ditalangi oleh bos,” papar Ambo Ajja.

Ambo Ajja biasanya hanya mengolah sebanyak 1 ton ikan, maksimal 2 ton ikan teri. Sisanya dijual ke pengolah ikan teri lain dengan estimasi perhitungan upah pengolah ikan teri rebus dan faktor cuaca.

Saat cuaca panas terik, dua ton ikan teri paska perebusan pagi bisa dijemur dan sudah bisa kering sempurna saat sore hari. Namun saat musim hujan dan mendung pengeringan lebih lama, berimbas biaya produksi ikan teri naik dengan upah harian Rp70.000 perorang bisa naik dua kali lipat.

Pendistribusian ke produsen teri lain di wilayah pesisir Kalianda dan Rajabasa disebutnya sekaligus memberi penghasilan bagi perajin teri rebus.

“Saat saya memiliki kelebihan stok bahan baku,saya tawarkan ke perajin lain, meski saya hanya minta dibayar ongkos angkut dan dibeli dengan harga modal,” papar Ambo Ajja.

Suminah, salah satu produsen ikan teri tawar tradisional mengaku kerap membeli 10 cekeng dari Ambo Ajja. Sebanyak 10 cekeng dengan bobot ikan teri 150 kilogram dibelinya seharga Rp1,8 juta. Proses pembuatan teri tawar diakuinya hanya dijemur dalam terik matahari sempurna tanpa perebusan. Sehari dengan sistem penjemuran di atas ebeng atau para para bambu ikan teri tawar sudah bisa disimpan.

“Kami tidak perlu merebus dan prosesnya lebih cepat dan teri tawar banyak diminati pemilik usaha restoran dan kuliner untuk sambal teri,”papar Suminah.

Harga teri tawar juga lebih tinggi dari ikan teri rebus, maksimal teri rebus dijual seharga Rp50.000 per kilogram. Sementara teri tawar kering dijual dengan harga Rp80.000 per kilogram dan bahkan Rp100.000 dengan kondisi teri tanpa kepala.

Menurutnya, keuntungan berlipat karena saat membeli ia menggunakan sistem cekeng dan saat menjual teri tawar kering dengan sistem kilogram. Satu cekeng seharga Rp180.000, dirata-rata seharga Rp12.000 dan saat dijual dalam kondisi kering bisa mencapai Rp80.000.

Usaha pembuatan teri tawar kering kerap dilakukan oleh nelayan, terutama kaum ibu yang memiliki modal terbatas. Meski demikian, kata Suminah, usaha tersebut memberi penghasilan baginya karena meningkatkan nilai jual ikan teri. Per kuintal ikan teri tawar dengan harga jual Rp80.000, dirinya mendapatkan hasil Rp8 juta. Pelanggan tetap dari restoran dan warung serta dijual di pasar menjadi sumber pendapatan bagi pengrajin teri tawar seperti dirinya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.