banner lebaran

Bahar Mario: Sulih Suara Jadi Filter Budaya

Editor: Irvan Syafari

295
Bahar Mario-Foto: Akhmad Sekhu.

JAKARTA — Profesi pengisi suara dulu pernah jadi buah bibir masyarakat saat populer sandiwara radio. Salah satunya, Bahar Mario, yang begitu sangat terkenal sebagai pengisi suara Sembara dalam sandiwara radio “Misteri dari Gunung Merapi” yang populer sekitar 1980-an. Sebelumnya ia juga mengisi suara Bongkeng dalam sandiwara radio “Saur Sepuh”.

“Awalnya saya main teater dan kemudian saya jadi dubber sandiwara radio di RRI sekitar tahun 70-an, “ kata Bahar Mario saat diskusi terbuka “Sulih Suara sebagai Jembatan Budaya Dunia” dalam rangkaian acara grand launching Suarapro di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Lelaki kelahiran Pare-Pare, 20 Desember 1949, itu menyebut nama-nama legenda dalam dunia sulih suara Indonesia, seperti di antaranya Aty Cancer dan John Simamora yang dulu bersama-sama jadi dubber sandiwara radio di RRI sekitar tahun 70-an

“Setelah itu saya masuk ke Sanggar Pratiwi, juga menjadi penyiar di RRI dan radio Prambors, kemudian pindah ke radio Elshinta, “ ungkap Bahar yang mengaku pernah menempuh berbagai pendidikan, seperti di antaranya: Akademi Penerangan (tidak tamat), Loka Karya Seni Peran PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenia Jakarta) sekarang IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan Penataran artis film PARFI.

Pada 1975 Bahar pernah bermain film “Buaye Gile” yang dibintangi antara lain, Benyamin Sueb, Ida Royani, Elya Khadam, A Hamid Arief, Wolly Sutinah (Mak Wok) dan lain-lain.

“Film-film berikutnya antara lain Ciuman Beracun, Akibat Pergaulan Bebas, Selimut Cinta, dan lain-lain,” bebernya.

Bahar main film, tapi dunia sulih suara yang membesarkan namanya dalam dunia hiburan. Kiprahnya mengisi suara Sembara dalam sandiwara radio “Misteri dari Gunung Merapi” membuat namanya diperhitungkan. Sebelumnya ia juga mengisi suara Bongkeng dalam sandiwara radio Saur Sepuh. Bahar pun membeberkan pengalamannya dalam dunia sulih suara.

“Dulu diserahkan naskah dan kemudian dibawa pulang agar bisa dihapal dialog-dialognya. Saat rekam suara kita bareng semua, tidak bisa sendiri-sendiri seperti sulih suara sekarang ini karena teknologi sekarang sudah jauh berkembang. Dulu, saat rekam suara semua orang harus hapal, kalau ada yang tidak hapal maka harus diulang, itulah tantangannya,“ ceritanya.

Menurut Bahar, semua orang bisa menjadi sulih suara. “Asal mau belajar, dan tanggap serta mau latihan, “ ujarnya.

Bahar memandang perkembangan dunia sulih suara sekarang sudah semakin bagus. Hanya saja jangan ada lagi pelarangan sulih suara yang pernah terjadi sekitar tahun 1998.

“Dulu pernah ada pelarangan sulih suara atau dubbing Bahasa Indonesia dan kemudian diganti Bahasa Inggris, “ kenangnya.

Padahal, dengan sulih suara, bagi Bahar, ada filter budaya karena penerjemahannya yang disesuaikan dengan budaya kita. “Mestinya tidak dilarang, karena kelebihannya kalau dubbing bahasa Indonesia ceritanya cepat nempel,” tegasnya.

Bahar menyambut baik dibentuknya Suarapro yang mewadahi pelaku suara. Bahar menyarankan memberitahukan para dubber yang senior. “Mereka para dubber yang sudah senior kalau tidak aktif menjadi pengisi suara biasanya buka usaha,” tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.