Batam Berpotensi Jadi Pusat Klaster Industri Elektronik

305
Airlangga Hartarto - Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA — Kementerian Perindustrian mendorong Batam menjadi pusat pengembangan klaster industri elektronik bernilai tambah tinggi untuk mendukung implementasi Making Indonesia 4.0.

“Hingga sekarang yang telah berkembang di Batam itu industri berbasis perkapalan, yang juga mensuplai ‘marine offshore’. Sektor ini terpengaruh dengan siklus harga perminyakan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangannya diterima di Jakarta, Senin.

Airlangga menyampaikan hal tersebut ketika melakukan kunjungan kerja di Batam, Kepulauan Riau.

Industri elektronik merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dalam penerapan teknologi di era revolusi industri keempat.

Dengan merosotnya harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu, pertumbuhan sektor industri galangan kapal di Batam sempat mengalami penurunan.

“Saat ini, perekonomian Batam hanya dua persen. Untuk itu, kami tengah memacu daya saing industri berbasis elektronik. Selain itu, yang juga menjadi potensi adalah industri ‘maintenance, repair, and overhaul’ (MRO),” papar Menperin.

Peluang besar memajukan industri elektronik di Batam, diyakini Airlangga, karena di kota tersebut terdapat kawasan industri yang 70 persennya diisi oleh produsen elektronik beserta penghasil beragam komponen pendukungnya.

“Ini yang akan kami dorong siklusnya untuk melengkapi industri elektronik di Batam, dari industri ‘recycle’ sampai yang memiliki nilai tambah tinggi,” tuturnya.

Contohnya, di kawasan industri Batamindo, telah berdiri PT Infineon Technologies sejak 1999 yang memproduksi semikonduktor dan solusi sistem untuk kebutuhan komponen elektronik di sektor otomotif, komunikasi dan energi.

Salah satu produk unggulan dari perusahaan asal Jerman ini adalah mikroelektronik yang diaplikasikan pada “powertrain” kendaraan untuk efisiensi mesin listrik atau hibrida.

“Perusahaan ini sebagai ‘top three’ (tiga besar) di dunia. Di bidang energi, produknya nomor satu di pasar. Mereka mampu memenuhi kebutuhan untuk komponen elektronik ‘power plant’, ‘smartphone’ dan otomotif,” ungkap Menperin.

Bahkan, produk lainnya dari Infineon juga bisa diaplikasikan untuk mendukung sistem “internet of things”, yang menjadi salah satu ciri teknologi Industri 4.0.

Secara global, Infineon memiliki 36 pusat R&D dan 18 pabrik. Keuntungan Infineon dari penjualan produk semikonduktor secara global pada 2017 diperkirakan mencapai 414 miliar dolar ASatau naik dibanding perolehan tahun sebelumnya sebesar 339 miliar dolar AS.

Di kawasan Asia Pasifik, Infineon menyerap tenaga kerja sebanyak 18 ribu orang, dengan kontribusi dari Batam sekitar 2.000 karyawan.[ant]

Baca Juga
Lihat juga...