banner lebaran

BKIPM Lampung Razia Kepatuhan di Pintu Masuk Bakauheni

Editor: Mahadeva WS

342

LAMPUNG — Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Lampung menggelar operasi kepatuhan di pintu masuk pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan, Selasa (17/4/2018).

Kepala BKIPM Lampung Rusnanto menyebut, operasi kepatuhan dilakukan untuk melakukan pengawasan lalulintas komoditas perikanan. Utamanya pengawasan untuk mencegah  keluarnya sumber penyakit khususnya berkaitan dengan usaha perikanan sesuai dengan Undang-undang No.16/1992.

Rusnanto menyebut, pemeriksaan dilakukan berkaitan dengan dokumen yang dipersyaratkan secara khusus mengeni mutu hasil perikanan. Operasi dilakukan dengan melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni dan Polda Lampung.

(Kiri Kanan) Kepala KSKP Bakauheni, AKP Trisno Sigit, Kepala BKIPM Lampung Rusnanto, Kepala DKP Lampung Dr.Toga Mahaji dalam operasi kepatuhan karantina di Bakauheni – Foto: Henk Widi

“Pengawasan dilakukan agar karantina ikan bisa menyediakan pangan sehat, aman, bergizi sehingga masyarakat menerima makanan sehat dan bisa lebih produktif,” terang Rusnanto saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (17/4/2018) malam.

Dari pengawasan yang dilakukan, diharapkan hasil perikanan yang dilalulintaskan terjamin kesehatannya sesuai dengan standar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sebelumnya BKIPM Lampung bekerjasama dengan Polres Lampung Selatan telah melakukan proses pelepasliaran sebanyak 28.755 ekor benih lobster yang belum boleh dilalulintaskan di perairan Kalianda. Benih lobster tersebut merupakan hasil tangkapan Polres Lampung Selatan dari sebuah kendaraan yang akan membawanya dari serang ke wilayah Sumatera.

“Pelepasliaran benih lobster karena sesuai dengan aturan tidak boleh dilalulintaskan jika belum memiliki ukuran yang dipersyaratkan,”beber Rusnanto.

Komoditas lobster disebut Rusnanto dilarang dilalulintaskan dan diekspor sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No.1/2015 yang sudah diberlakukan sejak Januari 2015. Bibit lobster ukuran 50-100 gram dilarang ditangkap dan diekspor dengan alasan negara lain yang akan diuntungkan ekspor benih tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung Dr.Toga Mahaji menyebut, udang menjadi komoditas penting di Lampung. Produksi hasil tangkap hasil perikanan dan budidaya udang cukup tinggi. Adanya langkah yang dilakukan oleh karantina ikan dan kepolisian dalam mencegah penyelundupan benih lobster ikut melindungi hasil budidaya perikanan di Indonesia.

Untuk melindungi sektor perikanan, DKP Provinsi Lampung membentuk Unit Pelaksana Tekhnis Daerah (UPTD) Pengawasan. Selain itu juga dibentuk kelompok masyarakat yang membantu memberi himbauan dan sosialisasi kepada masyarakat nelayan tangkap di sekitar perairan Lampung. Diharapkan  lobster, udang, kepiting, rajungan bertelur dan belum memenuhi ukuran standar untuk tidak ditangkap.

“Jangan sampai benih diambil dari negara kita lalu dibudidayakan di negara lain dengan nilai yang lebih tinggi,”papar Dr.Toga Mahaji.

Selain kepada nelayan tangkap, pembinaan juga dilakukan kepada nelayan pembudidaya. Kepada nelayan budidaya rencanany akan ada  program pemberian 270.000 benih udang windu bagi petambak di wilayah Ketapang Lampung Selatan.

Pantauan Cendana News operasi kepatuhan di pintu masuk pelabuhan Bakauheni Selasa (17/4/2018) sejak sore hingga malam dilakukn dengan memeriksa sejumlah kendaraan.  Beberapa kendaraan pengangkut komoditas perikanan dihentikan dan diperiksa kelengkapan dokumen yang dibawa.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.