banner lebaran

BUMDes Desa Klaten-Lamsel Kembangkan Wardes

Editor: Koko Triarko

263

LAMPUNG — Perkembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) berupa Warung Desa (Wardes) di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, semakin terlihat setelah berjalan selama dua tahun ini.

Direncanakan sejak 2015 sebagai program unggulan Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID), Warung Desa bergerak dalam bidang jasa dan perdagangan. Sumarno, kepala seksi pemerintahan Desa Klaten sekaligus pengurus Bumdes, menyebut Warung Desa dipilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sumarno, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Klaten sekaligus pengurus Wardes Desa Klaten [Foto: Henk Widi]
Sejumlah kebutuhan yang disediakan Wardes, kata Sumarno, meliputi sembilan kebutuhan pokok (Sembako). Penjualan sembako sebagai usaha awal sejak bangunan Wardes dibangun pada 2016, sempat berjalan tidak maksimal. Namun, pada 2017 perkembangan dan lokasi strategis Wardes di pusat desa, jalan lintas antar desa, sekolah membuat penjualan alat tulis kantor meningkat.

“Perjalanan warung desa untuk dikenal seperti saat ini membutuhkan perjuangan, bahkan sembako tidak terjual, beberapa barang kadaluarsa karena tidak terjual, tapi pengurus melakukan evaluasi agar wardes berkembang,” terang Sumarno, Selasa (3/4/2018).

Perkembangan permintaan akan jasa fotokopi, jasa pencetakan foto, laminating, pembelian alat tulis kantor disebut Sumarno terlihat pada 2017. Mempergunakan sebagian anggaran dana desa (DD) untuk pengembangan usaha Wardes, sejumlah fasilitas semakin ditambah. Sejumlah peralatan untuk penyediaan jasa pengetikan seperti komputer ditambah dari satu unit menjadi dua unit, dengan nilai investasi sekitar Rp30 juta.

Permintaan yang tinggi akan jasa fotokopi juga membuat pengurus mengusulkan untuk melakukan modal penyertaan, dan semakin menambah aset Wardes yang sudah mendapat modal awal bersumber dari DD berupa bangunan pada 2016 senilai Rp15 juta.

Modal tambahan pada 2017 dialokasikan untuk penambahan barang-barang yang akan dijual, dominan berupa alat tulis kantor senilai lebih dari Rp5 juta. “Pengurus melakukan pendataan permintaan barang yang kerap dibeli dan modal belanja dialihkan, agar ada perputaran modal,” terang Sumarno.

Selain menambah modal seiring dengan omset harian yang rata-rata bisa lebih dari Rp1 juta, perkembangan Wardes juga mulai terlihat stabil. Pada akhir 2017, penjualan sembako serta barang yang sulit terjual dialihkan ke alat tulis kantor.

Alat tulis kantor menjadi pilihan melengkapi alat pencetakan, komputer seiring tingginya permintaan masyarakat. Permintaan masyarakat akan jasa pencetakan seiring dengan banyaknya program pemerintah yang menjangkau masyarakat.

Program tersebut di antaranya program nasional agraria (Prona), bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) serta sejumlah program lain yang membutuhkan fotokopi dokumen warga.

Keberadaan enam sekolahdari TK, SMP, SMA, juga membuat permintaan akan alat tulis dan peralatan sekolah meningkat. “Kami sepakat untuk pengembangan usaha mengajukan modal penyertaan dari dana desa di pertengahan tahun ini,” terang Sumarno.

Usaha jasa pencetakan, laminating dan penjualan alat-alat tulis disebutnya akan dikembangkan dengan penambahan satu unit mesin fotokopi. Satu unit mesin fotokopi yang sudah dibeli seharga Rp25 juta akan ditambah satu unit pada tahun ini, bersumber dari modal penyertaan Bumdes.

Keputusan tersebut mempertimbangkan kebutuhan akan alat tulis kantor dan peralatan sekolah untuk persiapan tahun ajaran baru.

Penambahan modal penyertaan pada sektor usaha Wardes tersebut dibenarkan Joniamsyah, Kepala Desa Klaten. Menurutnya, perkembangan Bumdes dalam bentuk Wardes membutuhkan perjuangan. Meski sempat ragu Bumdes akan berkembang, namun dengan evaluasi dari pengurus, Wardes memiliki spesifikasi barang kebutuhan yang cepat terjual.

“Karena sektor usaha yang dibuat bersifat profit, maka kita harus mencari laba dengan menyediakan kebutuhan masyarakat desa,”tegas Joniamsyah.

Penyediaan kebutuhan masyarakat juga diakuinya merupakan kebutuhan yang tidak dijual di warung milik warga setempat. Sebab, salah satu tujuan Wardes tidak mematikan usaha milik warga, dan mempermudah warga agar tidak harus pergi jauh untuk berbagai kebutuhan.

Mendekati tahun ajaran baru siswa sekolah 2018/2019, modal penyertaan bahkan akan dikucurkan oleh pihak desa. Modal penyertaan untuk pembelian unit mesin fotokopi disebutnya menyesuaikan kebutuhan. Selain untuk penambahan mesin fotokopi, penyediaan fasilitas pembayaran (payment) juga menjadi jasa yang disediakan oleh Wardes. Fasilitas pembayaran tersebut di antaranya pembayaran token listrik, pulsa, iuran BPJS serta transaksi nontunai lainnya.

Joniamsyah menyebut, usaha Wardes merupakan salah satu Bumdes yang terus bertahan di tengah munculnya sejumlah toko waralaba moderen. Selain Wardes, Desa Klaten juga memiliki Bumdes bergerak dalam sektor usaha peternakan. Sektor Bumdes peternakan dilakukan dengan sistem gaduhan ternak sapi sebanyak empat ekor, peranakan ongole dengan sistem bagi hasil anak (BHA).

“Modal penyertaan juga rencananya akan digulirkan pada sektor Bumdes peternakan  dengan menambah indukan sapi mengikuti program Kementerian Pertanian sapi indukan wajib bunting”, cetus Joniamsyah.

Sektor usaha peternakan dikembangkan di beberapa dusun secara bergulir. Hasilnya, ternak yang dipelihara warga sudah beranak dengan sistem inseminasi buatan dan digulirkan ke peternak lain. Selain memberi keuntungan bagi peternak, Bumdes memperoleh bagi hasil dari peternakan yang dikembangkan warga. Warga yang semula tidak memiliki ternak sapi berkat Bumdes peternakan bahkan bisa memiliki ternak sapi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.