Cuaca Buruk, Petani Sayur di Selo Merugi

Editor: Irvan Syafari

364
Kepala Desa Lencoh, Sumardi-Foto: Harun Alrosid.

SOLO — Petani sayur di wilayah lereng gunung Merapi dan Merbabu, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Solo, Jawa Tengah, tak dapat menikmati hasil maksimal dari panennya. Hal ini lantaran cuaca yang kurang bersahabat, sehingga harga jual sayur di pasaran menjadi jatuh.

Salah satu petani, Sukamdi mengatakan, selama dua kali tanam sayur ini, dirinya tak bisa menikmati panen dengan maksimal. Banyaknya curah hujan yang masih turun mengakibatkan panen sayur banyak yang tidak membawa hasil baik.

Tak hanya membuat sayur mudah membusuk ataupun mati, tingginya intensitas hujan juga membuat harga sayur menjadi jatuh.

“Saat ini harga wortel baru murah, mas. Kalau biasanya per kilogram sampai Rp 5.000, saat ini hanya Rp 2.000,” ucap pria 56 tahun kepada Cendana News, Senin (16/4/2018).

Petani asal Desa Lencoh, Kecamatan Selo ini mengaku, hasil panen sayur saat ini tergolong berat. Sebab, disamping musim tengah tidak bersahabat, harga jual panen juga tak maksimal. Terlebih, panen petani saat ini tengah buruk karena banyak terkena air hujan.

“Jadi petani serba salah. Kalau tidak ditanam sayang, kalau ditanam sayur juga mudah rusak dan busuk. Panenan yang bagus sedikit saja harganya murah,” keluhnya.

Hal senada dikatakan Kepala Desa Lencoh Sumardi, yang menyebut jika petani sayur di wilayahnya saat ini banyak yang merugi. Sebab, untuk bisa kembali modal, tanaman sayur saat ini masih sulit.

Di samping harga jual sayur yang tengah jatuh, hasil petani juga tengah buruk. “Banyak merugi petaninya. Karena harga jualnya sangat murah,” tandasnya.

Tidak hanya sayur wortel yang harganya tengah jatuh, akan tetapi seluruh jenis tanaman sayur bernasib sama. Padahal, hampir 99 persen warga di Desa Lencoh penghidupannya mengandalkan hasil pertanian dengan menanam sayur mayur. Produk lokal yang menjadi pekerjaan sehari-hari masyarakat Lencoh adalah petani sayur dan juga ternak.

“Hampir 100 persen warga saya petani. Ada sayur wortel, kubis, kembang kol, loncang, bawang merah dan lain sebagainya. Semua hasil panen harganya jatuh,” imbuh Sumardi.

Melihat kondisi pertanian yang tak maksimal, dirinya berharap musim penghujan segera berakhir. Terlebih, saat ini warga di Selo maupun keseluruhan di Boyolali tengah menyambut tradisi ruwahan, yakni acara jelang bulan puasa.

Kondisi tanaman sayur di wilayah Selo yang tengah jatuh sebagai imbas musim penghujan yang berkepanjangan-Foto: Harun Alrosid.

Saat ruwahan ini, kebutuhan masyarakat di Selo samakin bertambah, karena mendekati acara tradisi yang diperingati setiap tahun sekali.

“Harapannya bisa segera kemarau agar sayur kembali normal. Ini juga mendekati ruwahan, masyarakat juga banyak butuhnya (kebutuhan). Jadi mudah-mudahan ekonomi masyarakat bisa kembali terangkat,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...