Di Garut, Pak Harto Berendam Air Panas Bratajuda

Oleh: Mahpudi, MT

579

Catatan redaksi:

Dalam catatan berseri ini, Redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan).

Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Bagian 11 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Setelah melakukan perjalanan panjang dari Tajum, Banyumas, melintasi hutan dan perkampungan yang sepi di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah bagian selatan, lalu singgah di Pesantren Cidewa, tak lupa mampir di toko Kandaga Art Shop dan menyambangai rumah penduduk, rombongan Incognito “blusukan” Pak Harto memilih untuk beristirahat di Cipanas, Garut.

Harus kami sampaikan kepada pembaca yang budiman, pilihan tersebut tak lepas dari peran Mang Ihin yang mengenal betul daerah yang dipimpinnya. Cipanas merupakan salah satu daerah di Kabupaten Garut, sebuah negeri berjuluk Swiss van Java.

Memang, pada masa Hindia Belanda, Garut merupakan salah satu tempat favorit bagi para bangsawan dari Eropa untuk berwisata. Selain daerahnya bergunung-gunung serta menawarkan kesejukan danau nan indah, terdapat Spa alami yang membuat mereka betah berlama-lama di sana.

Tercatat dalam sejarah, Nicholas Alexandrovich, Putera mahkota Kekaisaran Rusia (kemudian naik tahta menjadi Tsar Nicholas II) dan Pangeran George II putera Mahkota Kerajaan Yunani, pada Maret 1891, pun jauh-jauh berwisata ke Garut.

Ternyata, Garut juga membuat kesengsem seorang Raja Leopold III bersama permaisurinya yang datang berkunjung pada tahun 1928. Menyusul kemudian, bintang film komedi ternama Charlie Chaplin dan penyanyi Renate Mueler, juga sengaja datang dari nun jauh, untuk menyaksikan pesona alam dari Garut.

Tempat-tempat wisata yang populer di Garut pada masa Hindia Belanda, antara lain Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Talaga Bodas, Situ Cangkuang, lapangan golf Ngamplang, hingga pemandian air panas (spa) Cipanas.

Sayangnya, sejak masa pendudukan Jepang, pariwisata Garut yang mendunia, perlahan-lahan surut. Sisa-sisa pesona wisata Garut masih bisa dinikmati ketika Pak Harto singgah pada 8 April 1970. Pak Harto bersama rombongan menginap di komplek Bratajuda Motel di Cipanas, Garut. Ternyata, Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto 2012, pun memutuskan untuk menyambangi lokasi tersebut.

Kawasan wisata Cipanas berada di luar Kota Garut, beberapa kilometer ke arah Kota Bandung. Hingga 2018 ini pun, daerah terserbut cukup ramai. Rupanya, pariwisata cukup pesat berkembang di sini. Saat itu, hari masih siang ketika tim ekspedisi sampai di lokasi. Tidak mudah menemukan lokasi bernama Bratajuda Motel, sebagaimana tertera pada foto dokumentasi yang kami bawa.

Mang Ihin secara khusus mendatangkan rombongan kesenian Sunda dari berbagai daerah yang dipimpinnya untuk menghibur Pak Harto. Ada peragaan pencak silat, pagelaran musik angklung-Foto: Dokumen Musuem Purna Bhakti.

 

Ketika kami menanyakan kepada para pedagang di sana tentang Bratajuda Motel, kami lebih banyak mendapat gelengan kepala sebagai jawaban. Namun, berdasarkan pencocokan gambar dengan sejumlah lokasi yang ada, kami akhirnya sampai pada sebuah lokasi utama wisata pemandian di bawah kaki Gunung Guntur, yang kini berubah nama menjadi Wisma Tarumanegara.

Saat itu, ketika Par Harto melakukan Incognito, komplek Bratajuda Motel dikelola oleh militer, sehingga cukup leluasa bagi Mang Ihin, Gubernur Jawa Barat saat itu, untuk mengatur penginapan bagi rombongan Pak Harto. Mang Ihin tak ingin, Pak Harto hanya sekadar berendam air panas, lalu beristirahat di kamar menunggu pagi. Ia hendak menghibur Pak Harto bersama rombongan dengan sajian istimewa, yaitu seni budaya tanah Pasundan.

Lutfi (tengah melambaikan tangan) berada di lokasi Komplek Wisma Tarumanegara, Cipanas, Garut (Mei 2012) dalam rangkaian
perjalanan napak tilas Incognito Pak Harto 2012-Foto: -Foto: Dok. Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Saat kedatangan rombongan Pak Harto, Motel Bratajuda pun menjadi begitu meriah. Mang Ihin secara khusus mendatangkan rombongan kesenian Sunda dari berbagai daerah yang dipimpinnya untuk menghibur Pak Harto. Ada peragaan pencak silat, pagelaran musik angklung, hingga pertunjukan tari topeng. Pak Harto tak hanya duduk menyaksikan pertunjukan.

Sang Presiden pun menyempatkan turun, lalu memberikan apresiasi kepada para mojang dan jajaka Parahyangan yang sukses menghadirkan pesona seni dan budaya Sunda kepada Presiden mereka. Tentu, saat itu, benar-benar malam yang menyenangkan di Garut. ***

Baca Juga