banner lebaran

Doa Pak Harto bagi Pesantren Cidewa

Oleh Mahpudi, MT

735

Catatan redaksi:

Merayakan bulan Maret lalu sebagai Bulan Pak Harto, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Bagian 9 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Setelah melakukan perjalanan panjang di sebagian barat wilayah Provinsi Jawa Tengah, Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto melanjutkan perjalanan dengan memasuki wilayah Jawa Barat. Perjalanan berlangsung cukup lama, melintasi kawasan yang masih berhutan. Seperti dituturkan Pak Subianto, jangan bandingkan suasana jalan saat itu dengan jalanan saat ini. Selain masih jarang dilintasi kendaraan, pada beberapa lokasi mesti ekstra waspada dengan gerombolan perampok. Apalagi, di sejumlah lokasi yang dituju, dikenali sebagai basis orang-orang PKI yang masih leluasa berkeliaran.

Meski demikian kondisinya, sama sekali tak menyurutkan langkah Pak Harto untuk melintas. Bahkan, di sejumlah tempat, seperti terlihat pada foto-foto dokumentasi yang kami bawa, rombongan blusukan itu berhenti sejenak melepas penat, sesekali singgah menemui penduduk. Terlihat pula, Pak Harto berbincang-bincang dengan warga yang dijumpainya.

Tim Ekspedisi tengah mendapatkan penjelasan dari Kyai Icep, pimpinan Pesantren Darussalam, Cidewa, Ciamis. Foto: Ist

Ketika melintasi perbatasan, Pak Harto bersama Tim Incognito saat itu, melakukan acara sederhana serah terima rombongan dari Gubernur Jawa Tengah kepada Gubernur Jawa Barat. Mang Ihin, panggilan akrab Gubernur Jabar Solihin GP punya cerita berkesan tentang penyambutan kembali rombongan Pak Harto yang masuk ke wilayahnya melalui jalur selatan. Seperti dituturkan kepada penulis, Mang Ihin mengajak bupati Ciamis untuk menyambut Pak Harto dengan kalimat yang tersamar.

“Ada ahli pertanian mau datang berkunjung. Ayo kita Sambut,” ajak Mang Ihin kepada sang Bupati.

Tentu, sang Bupati tak mungkin menampik ajakan gubernurnya. Hanya saja, sang Bupati merasa heran dan bertanya kepada Mang Ihin, “Siapa dia? Sebegitu pentingnya, sampai-sampai, kita yang harus menyambutnya?

“Sudahlah, lihat saja nanti,” jawab Mang Ihin.

Betapa terkaget-kaget sang Bupati ketika mendapati, bahwa ahli pertanian yang disambutnya, tiada lain adalah Presidennya, Jenderal Soeharto.

“Mengapa tidak dibilang saja, tamu itu Presiden kita, saya kan bisa menyiapkan segala sesuatunya?!” bisik sang Bupati kepada Mang Ihin.

Sembari terkekeh, Mang Ihin menjawab, “Ini perjalanan diam diam dan rahasia. Jadi, nggak ada acara resmi. Kita sambut apa adanya.”

Hal yang menarik, selama perjalanan, Incognito Pak Harto senantiasa menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan para ulama di daerah-daerah yang dilalui. Tak terkecuali,ketika memasuki daerah Ciamis.

Kami pun mengikuti jejak silaturahmi itu. Foto dokumentasi menggambarkan, tim Incognito bergerak ke Pesantren Darussalam, Cidewa, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Presiden Soeharto bersama warga setempat. Foto: Ist

Kami bersyukur, tim napak tilas Incognito Pak Harto berhasil menemui salah satu pimpinan Pesantren Darussalam, yakni Kyai Haji Icep Fadlil Yani. Padahal, Kyai muda tersebut sudah bersiap di kendaraanya untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Demi mengetahui tujuan tim bertandang, sang Kyai memutuskan untuk menunda keberangkatan. Dan dengan penuh keramahan, sang Kyai melayani kami.

Seperti dituturkan Sang Kyai, Pesantren Darussalam didirikan oleh KH Ahmad Fadlil pada tahun 1929. Dari tarikh foto, Pak Harto singgah di pesantren ini pada 8 April 1970. Pak Harto disambut oleh putera Kyai Ahmad Fadil, yakni Kyai Haji Irfan Hielmi, pimpinan pondok pesantren Darussalam saat itu. Untuk membuktikan akurasi tanggal kunjungan tersebut, Kyai Icep mengeluarkan buku tamu yang terlihat cukup tua, namun cukup terpelihara. Dalam buku tamu itu, Pak Harto menulis sebuah kalimat singkat, “Meninjau Pondok Pesantren Darussalam Ciamis”, lengkap dibubuhi tandatangannya, dan bertanggal tepat sama seperti pada foto dokumentasi yang kami bawa.

Kyai Icep menceritakan, ada hal menarik dari pertemuan Pak Harto sebagai umaro (kepala pemerintahan) dengan Kyai Irfan Hielmi sebagai ulama (pemimpin keagamaan). Dalam perbincangan saat itu, Pak Harto berdoa: ”Pak Kyai, Insya Allah, pesantren ini, suatu ketika akan menjadi pesantren yang modern.” Ini tentu tidak lazim. Biasanya, sang Ulama yang mendoakan sang Umaro. Namun, dalam momentum itu, justru yang terjadi sebaliknya.

Memang, tak lama setelah kunjungan Pak Harto, mereka telah berhasil mendirikan Perguruan Tinggi Islam pertama di Ciamis yang diberi nama Fakultas Syariah Darussalam Ciamis. Tak lama kemudian, lembaga tersebut menjelma menjadi Institut Agama Islam Darussalam (IAID). Keberadaan IAID melengkapi berbagai pendidikan formal yang sudah ada di sana, sejak dari Pendidikan Prasekolah, Raudlatul Athfal/Taman kanak-kanak, Madrasaqh ibtidaiyah, hingga Madrasah Aliyah Keagamaan. Tercatat pula, Pak Harto membangunkan sebuah gedung asrama berlantai dua yang hingga kini masih dipergunakan untuk menampung sebagian santri yang jumlahnya mencapai lebih dari 2000 orang.

Pungkas cerita, Kyai Icep menyatakan, hubungan silaturahim ayahandanya dengan Pak Harto terus berlangsung hingga mereka tutup usia. Pada berbagai kesempatan selanjutnya,Ayahandanya kerap diundang Pak Harto bertandang ke kediamannya di Jakarta untuk diminta nasihat tentang berbagai hal. ***

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.