Dwi Lily Indayani Kembangkan Seni Menanam “Kokedama”

Editor: Irvan Syafari

816

MALANG — Seiring perkembangan jaman, dunia pertanian khususnya pertanian tanaman hias di Indonesia juga ikut berkembang. Berbagai inovasi turut dikembangkan untuk menunjang keindahan dan meningkatkan nilai jual tanaman hias.

Salah satu inovasi pertanian yang kini mulai dikembangkan di Indonesia adalah teknik “Kokedama” yang merupakan seni menanam asal Jepang.

Koke sendiri sebenarnya memiliki makna lumut atau moss, sedangkan dama bermakna bola. Sehingga jika diartikan “Kokedama” memiliki arti bola tanah yang ditutupi lumut yang digunakan sebagai media hidup tanaman hias,” jelas pemilik Creative Kokedama, Dwi Lily Indayani, kepada Cendana News, Senin (2/4/2018).

Lebih lanjut, wanita yang juga merupakan alumnus Universita Della Calabria Italy ini mengaku mulai menekuni dunia Kokedama sejak tahun 2017 lalu. Ketertarika pada Kokedama diawali dari keinginannya untuk mencari inovasi baru di dunia urban garden.

“Awalnya saya ingin mencari inovasi baru urban garden dan ternyata pilihan saya jatuh pada Kokedama,” akunya. Jadi dengan teknik Kokedama, tanaman tidak hanya dikemas dalam bentuk pot saja, tetapi juga bisa dikemas dalam bentuk Kokedama sehingga bisa lebih bersih dan higienis serta bisa ditaruh di mana saja, sebutnya.

Menurutnya untuk membuat Kokedama tanaman hias tidak terlalu sulit. Hanya membutuhkan ketelatenan dan pengetahuan mengenai tanaman apa saja yang cocok ditanam dengan metode Kokedama.

Jika di daerah asalnya (Jepang) Kokedama banyak menggunakan lumut sebagai pembungkus media tanamnya, berbeda dengan Lily yang lebih memilih berinovasi dengan memanfaatkan sabut kelapa sebagai pembungkus media tanam.

“Berhubung di Indonesia punya banyak limbah sabut kelapa, jadi saya coba berinovasi menggunakan sabut kelapa sebagai pembungkus media tanam karena dari segi warna terkesan lebih bersih,” sebutnya.

Untuk membuat Kokedama, caranya yakni media tanam berupa campuran tanah dan pupuk di bungkus dengan sabut kelapa dan di ikat menggunakan benang hingga berbentuk bulat sempurna. Setelah itu baru di ikat dengan menggunakan tali hias. Ada beberapa alternatif tali hias yang bisa digunakan di antaranya tali rotan sintetis dan tali goni.

“Kalau tali goni terkesan lebih natural, sedangkan tali rotan sintetis memiliki macam warna dan lebih tahan lama,” katanya.

Sementara itu cara perawatan “Kokedama” menurut Lily sangat mudah sekali karena ia memilih tanaman yang minim perawatan yakni cukup disiram dan diberikan pupuk setiap sebulan sekali.

“Cara menyiramnya dengan direndam beberapa menit di dalam air, kemudian ditiriskan. Begitu juga dengan pemupukannya bisa menggunakan pupuk cair atau pupuk padat yang bisa dilarutkan dalam air,” terangnya.

Sementara itu, wanita yang juga pernah mengenyam pendidikan di S1 Fakultas Pertanian di Universitas Brawijaya ini mengatakan bahwa sebenarnya teknik Kokedama ini sebenarnya bisa diterapkan pada berbagai jenis tanaman hias.

Hanya saja saat ini 80 persen tanaman yang ia pilih untuk “Kokedama” merupakan tanaman tropikal daun karena lebih banyak diminati dan lebih tahan lama. Sedangkan untuk harga, Lily mematok harga 35-225 ribu rupiah per tanaman tergantung ukuran dan jenis tanaman.

Disebutkan saat ini Lily juga menerima pelatihan Kokedama sebagai wadah menularkan ilmunya kepada masyarakat.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.