banner lebaran

Encita, Setia Lestarikan Seni Odong-odong Singa Depok

Editor: Koko Triarko

390

JAKARTA – Haji Encita, pembina kesenian tradisional group kesenian Odong-odong Singa Depok ‘Sinar Galuh Karawang’, begitu bersemangat melestarikan kesenian tradisional warisan leluhurnya.

Persaingan yang begitu ketat dengan group kesenian tradisional lainnya, pun membuat Encita memutar otak untuk kreatif memodifikasi bentuk Odong-odong Singa Depok yang tidak hanya berbentuk boneka singa, tapi juga berbagai bentuk lainnya, seperti kuda, naga dan hewan lainnya. Hal itu dilakukan semata untuk dapat melestarikan kesenian tradisional.

Haji Encita, pembina group kesenian Odong-odong Singa Depok ‘Sinar Galuh Karawang’. –Foto: Akhmad Sekhu

“Kesenian ini kalau di Karawang banyak namanya, ada yang bilang namanya odong-odong, tapi ada juga yang menamakan Singa Depok, karena dulu kaki singanya ‘depok’, yang artinya bawah, jadi dinamakan Singa Depok. Sekarang kita modifikasi supaya pantas, jadi kaki singanya diangkat ke atas,“ kata Haji Encita, usai mengisi acara hiburan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-43 TMII.

Encita menyebut, berdirinya grup kesenian Sinar Galur pada 1983 yang sekarang dipimpinnya adalah generasi ketiga. “Kalau anggotanya banyak, terserah yang menanggap kita, bisa 4 orang, 8 orang, bahkan bisa 30 orang, “ ungkapnya.

Grup kesenian Sinar Galur kalau di kampung ditanggap tampil untuk hiburan hajatan, baik itu khitanan maupun pernikahan. “Tapi, kalau di kota untuk menghibur berbagai acara ulang tahun seperti ulang tahun Taman Mini ini, “ bebernya.

Encita mengaku harus benar-benar kreatif, agar kesenian yang dibinanya tetap dapat bertahan. “Apalagi, sekarang banyak sekali saingan,“ paparnya.

Lagu-lagu yang dinyanyikan untuk mengiringi group kesenian Odong-odong Singa Depok adalah lagu-lagu daerah, tapi sekarang lagu-lagu Sunda dan lagu-lagu Pantura. “Tapi, kalau dulu lagu-lagunya benar-benar khas daerah,“ ujarnya.

Encita menerangkan, zaman dulu sewaktu pemerintah Orde Baru, ada perhatian, karena grup kesenian Odong-odong Singa Depok ini jumlahnya sampai ratusan, sehingga dikompetisikan.

“Hal itu dilakukan untuk semakin memberi semangat kita untuk tetap melestarikan kesenian tradisional agar tetap ada,“ ucapnya.

Kesenian ini berasal dari Subang, yang secara singkat sejarahnya lahir karena dulu negara dijajah Belanda dan Jepang, sehingga seniman berinisitif membuat boneka singa sebagai bentuk hasrat keinginan ingin merdeka.

“Dulu, rambut boneka singa memakai tali dadung, jadi kalau naik tidak ada pegangan, tapi langsung memegangi rambutnya dengan mencengkeram saking geramnya pada penjajah, karena saking sangat berhasrat ingin merdeka,“ kata Encita.

Harapan Encita, kesenian Odong-odong Singa Depok ini bisa maju, seperti Reog Ponorogo, kuda lumping dan kesenian-kesenian tradisional lainnya. “Kita berharap kesenian Odong-odong Singa Depok ini maju dan semakin terangkat kesenian tradisional kebanggaan dari Jawa Barat ini,“ pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.