Hadapi Era Digital, Pencari Kerja Diminta Menguasai Teknologi

Editor: Irvan Syafari

392

MATARAM — Proses digitalisasi di era perkembangan teknologi di segala sektor termasuk dunia usaha mau tidak mau menuntut setiap orang, terutama masyarakat pencari kerja harus membekali diri dengan kehalian dan keterampilan.

“Kalau tidak ingin tergerus oleh proses digitalisasi yang bisa berdampak terhadap pengurangan tenaga kerja, maka masyarakat pencari kerja harus membekali diri dengan keahlian dan keterampilan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Endang Tri Wahyuningsih saat menggelar konferensi pers di kantor Gubernur NTB, Selasa (17/4/2018).

Dikatakan, bagaimanapun mau tidak mau efek digitalisasi semua akan berdampak, selama masyarakat pencari kerja tidak mempersiapkan diri dengan baik, maka bisa jadi tidak akan laku di pasaran, tapi kalau tenaga kerja tersebut mampu secara kompetensinya tidak ada masalah.

Meski demikian digitalisasi sektor perbankan maupun usaha lain, tidak sepenuhnya berdampak pada pengurangan tenaga kerja ataupun menimbulkan pengangguran baru, karena tidak semua sektor beralih ke proses digitalisasi secara penuh.

“Mengingat lapangan pekerjaaan sangat beragam, bisa saja tenaga kerja beralih ke sektor yang tidak membutuhkan proses digitalisasi seperti sektor pertanian tidak membutuhkan penguasaan teknologi yang lebih,” katanya.

Ditambahkan, yang disebut pengangguran adalah yang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, sudah diterima bekerja tapi belum mulai dan mereka yang benar-benar tidak memiliki pekerjaan, putus asa tidak mungkin lagi mendapatkan bekerja.

Sebelumnya, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Wahyu Yuwana juga mengungkapkan fenomena digitalisasi perbankan maupun transaksi penjualan barang dari offline ke online dinilai tidak sepenuhnya akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap pengurangan tenaga kerja, baik di perbankan, gerai dan sejumlah pusat perbelanjaan.

“Jadi perubahan transaksi penjualan barang dari offline ke online sekarang ini menjadi sebuah keniscayaan dan tidak bisdari. Semakin lama, orang akan semakin banyak beralih karena lebih menawarkan kemudahan,” ujar Wahyu.

Wahyu menilai, peralihan transaksi tersebut tidak perlu dikhawatirkan, karena yang terjadi sebenarnya bukan pengurangan tenaga kerja. Tapi terjadi pergeseran menjadi tenaga jasa pengiriman barang yang dibeli konsumen.

Transaksi penjualan secara online atau daring juga tidak akan mempengaruhi permintaan dan pembeli. Permintaan masih tetap tinggi, hanya saja pembelinya tidak perlu datang secara beramai–ramai belanja barang secara di toko maupun gerai penjualan barang.

“Akibat pergeseran dari sisi logistik, betapa sekarang di jalan-jalan, ada Go-jek online ada pengantar barang pesanan langsung ke rumah pembeli, tanpa harus datang ke toko membeli sendiri,” katanya.

Jadi, lanjutnya, tidak semua gerai tutup. Soal gerai itu, dalam beberapa kasus, mereka mengurangi luasan. Kalau misalnya ada toko yang biasanya masyarakat datang berbelanja secara offline, luasannya 50 meter persegi, maka dengan belanja online toko tidak harus luas.

Wahyu menambahkan, dulu tidak banyak orang bergerak di sektor bisnis tersebut. Sekarang tuntutannya seperti itu, keuntungan didapatkan banyak. Ada bonus, sistem insentif juga luar bisa. Kalau ada diskon tertentu misalnya harga 500 ribu rupiah, dijual 400 ribu rupiah, toko tetap dapat 500 ribu rupiah. Sebab yang 100 ribu rupiah disubsidi penyelenggara e-commerce.

Lihat juga...

Isi komentar yuk