banner lebaran

Hama Tikus Turunkan Produktivitas Padi Petani di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

248

LAMPUNG — Serangan hama tikus dan angin kencang yang melanda sebagian lahan petani di kabupaten Lampung Selatan berimbas menurunnya produktivitas padi hingga tiga kuintal per hektare.

“Pasca serangan hama tikus produksi padi milik saya berkurang hingga tiga kuintal,” sebut Rantini (40), salah satu petani di desa Pasuruan yang pada musim tanam sebelumnya di lahan satu hektare miliknya menghasilkan satu ton gabah kering.

Berdasarkan penimbangan hasil panen pada panen bulan April hanya berjumlah sekitar tujuh kuintal dari sebelumnya 10 kuintal. Meski mengalami penurunan, ia bersyukur masih memiliki stok untuk persiapan bulan Ramadan.

“Hasil padi pada tahun lalu lebih memuaskan pada lahan milik saya karena sebagian lahan sawah dijadikan lokasi jalan tol sehingga areal pertanian berkurang imbasnya hama banyak menyerang,” papar Rantini yang ditemui Cendana News tengah memanen padi varietas Ciherang miliknya, Senin (16/4/2018)

Kondisi yang sama dialami oleh Jumanto, salah satu petani penanam padi di dekat sungai Way Asahan. Ia memastikan hasil panen miliknya berkurang sekitar tiga kuintal akibat serangan hama tikus.

Serangan tersebut imbas cuaca buruk angin kencang disertai dengan hujan badai. Batang padi banyak yang ambruk ke tanah dan menjadi sasaran empuk tikus. Sebagian busuk dan berkecambah.

“Saat roboh akibat hujan dan angin kondisi padi milik saya belum tua sehingga rentan diserang hama tikus,” papar Jumanto.

Jumanto
Jumanto, salah satu petani di kecamatan Penengahan yang mengalami serangan hama [Foto: Henk Widi]
Selain diserang hama tikus proses pemanenan padi akibat hujan dan angin lebih sulit. Petani membutuhkan waktu sekitar dua hari lebih lama dibandingkan biasanya. Kondisi padi yang roboh berimbas sebagian bulir berwarna hitam.

“Imbasnya banyak pedagang pengepul padi yang enggan membeli padi hasil panen,” terangnya.

Sebagian padi yang dijual diakuinya merupakan hasil panen dari lahan yang tidak ambruk. Meski hanya seharga Rp4.200 per kilogram di wilayah Penengahan ia menyebut harga tersebut cukup tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah sebesar Rp3.700 perkilogram.

“Harga tersebut cukup membantu karena selama ini bibit varietas Ciherang merupakan bantuan dari pemerintah,” tambahnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.