Harga Gambir di Pesisir Selatan Anjlok, Petani Banting Setir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

183

PADANG — Dua bulan terakhir, harga gambir di daerah Sumatera Barat anjlok. Dari keterangan para petani di Kabupaten Pesisir Selatan, saat ini harga berada di angka Rp18.000 per kilogramnya.

Riko Candra mengatakan, dua bulan sebelumnya, harga gambir mulai dari Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogramnya.

“Tidak mengetahui penyebab anjloknya. Petani bimbang. Banyak yang telah jual kebunnya dan beralih fungsi untuk menjalankan sawah,” katanya, Senin (16/4/2018).

Menurutnya, harga gambir yang hanya Rp18.000 per kilogram itu, bisa dikatakan sulit untuk mencari untung. Untuk proses memperoleh getah gambir membutuhkan tenaga dan biaya. Apalagi butuh bekal untuk tinggal di pondok atau dikebun hingga selama dua pekan untuk memanen.

Belum lagi untuk membayar upah pekerja, mulai dari memanen daun di kebun, memasak daun untuk mengambil getah, hingga mencetak, dan membawanya ke pengumpul.

“Biasanya untuk luas tanaman gambir sekira satu haktare itu, bisa mendapatkan getah gambir setelah kering dijemur 40-50 kilogram. Jika dikalikan dengan harga Rp50.000, jumlah untuk setiap panen itu bisa Rp25 juta,” jelasnya.

Kondisi anjloknya juga bisa dilihat pada tahun 2017 lalu. Dimana harga bisa mencapai Rp75.000 hingga Rp100.000 per kilogramnya. Ketika itu, petani gambir benar-benar mendapatkan hasil panen yang menjanjikan. Namun pada tahun 2018 ini, kondisi petani kembali lesu.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra mengatakan, salah satu penyebab anjloknya harga gambir, karena petani tidak mau menjual hasil panennya kepada Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag).

BUMNag merupakan sebuah lembaga yang bisa membeli hasil petani dan menjual langsung ke pasar yang telah ditentukan. Sehingga dengan demikian, soal permainan harga tidak akan terjadi.

“Selama ini ada petani yang menjual langsung ke pengumpul. Kalau lagi banyak yang jual, jadi pengumpul bisa mempermainkan harga, makanya harga murah. Tapi coba di jual ke BUMNag, harganya akan lebih bagus,” ujarnya.

Candra
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat Candra/Foto: M. Noli Hendra

Ia mencontohnya di Kabupaten Limapuluh Kota, pemerintahnya mengarahkan petani untuk menjual hasil panennya ke BUMNag. Sehingga harga pernah mencapai Rp150.000 per kilogramnya. Penyebab bagusnya harga, karena BUMNag mampu memutus mata rantai dari pengumpul hingga ke pasar eskpor.

“Gambir inikan bukan untuk dikonsumsi seperti pangan. Tapi dikirim ke luar negeri. Jadi akan banyak mata rantainya, dari pengumpul. Nah di BUMNag, tidak ada mata rantai semacam itu. Akan tetapi, setelah beli dari petani, dijualnya langsung, tanpa perantara,” tegasnya.

Candra juga mengatakan dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi telah mengarahkan kepada petani untuk menjual hasil panen ke BUMNag. Selain itu supaya petani gambir mendapatkan hasil yang memuaskan, pihaknya juga telah melakukan pembinaan kepada sejumlah petani gambir di Sumbar.

Ia mengaku persoalan tidak maunya petani menjual hasil panennya ke BUMNag, karena sistem di BUMNag belum bisa bayar langsung dari hasil panen petani yang dibelinya. Tapi akan dibayarkan, apabila telah menjual baru dibayarkan.

“Petani kita maunya kontan. Padahal BUMNag belum punya modal yang begitu besar untuk bayar langsung. Itulah yang membuat petani enggan menjual ke hasil panennya ke BUMNag,” ungkapnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.