Harga Komoditas Naik, NTP di Sumbar Malah Turun

Editor: Irvan Syafari

277
Kepala BPS Sumatera Barat Sukardi-Foto: M. Noli Hendra.

PADANG — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat Sukardi mengatakan, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2018 tercatat sebesar 94,83 persen atau turun 0,77 persen.

Ia menyebutkan, pada Maret lalu, NTP masing-masing subsektor sebesar 89,86 persen untuk sektor tanaman pangan, 83,05 persen untuk subsektor holtikultura, 100,32 persen untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat, 101,94 untuk subsektor peternakan, dan 108,54 untuk subsektor perikanan.

“Yangk kami lihat, NTP ini trennya lagi turun, dan itu jika dikakulasikan dari tahun ke tahun, NTP terus mengalami turun. Padahal kalau dijumpai di lapangan, malah harga komoditas naik di pasar,” ujarnya, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, seharusnya jika NTP turun, maka harga komoditas di pasar tidak akan mahal, atau artinya harga yang dijual petani murah kepada pengumpul. Tapi, bagaimana kondisi komoditas di pasar mahal, BPS menyatakan hal tersebut juga perlu dikaji di lapangan terlebih dahulu.

Saat ini untuk harga komoditas seperti bawang merah untuk ukuran kecil itu mencapai Rp20.000 per kilogram. Biasanya hanya berada di angka Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Sedangkan untuk ukuran sedang, kini harga bawang merah itu bisa Rp30.000 per kilogram, yang biasanya hanya Rp18.000 per kilogram.

Lalu untuk cabai merah, harganya telah mencapai hingga Rp50.000 per kilogram. Kalau melihat dari biasanya, harga cabai merah tidak melebihi dari harga Rp30.000 per kilogram.

Penyebab, kenaikan harga komoditas ini disebutkan oleh pedagang di Pasar Raya Padang, Riki, akibat dari belum masuknya masa panen bawang merah yang ada di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, yang juga merupakan sentra bawang merah di Sumatera Barat.

“Kemungkinan harga bawang ini akan terus naik, seiring terus menipisnya stok bawang untuk dijual.” katanya.

Ia mengaku persoalan kenaikan harga bawang merah juga disebabkan akan masuknya bulan Ramadan. Kondisi kenaikan harga komoditas di sejumlah pasar menjelang Ramadhan sudah menjadi momen bagi para pedagang.

Namun untuk mengantisipasi persoalan ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Sumatera Barat belum bisa memberikan penjelasan. Persoalannya, melihat pada Ramadan sebelumnya, pihak Bulog telah melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi persoalan kenaikan harga komoditas tersebut.

Baca Juga
Target Luas Lahan Kedelai di Sumbar Tak Tercapai PADANG – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Barat, di 2017 lalu, menetapkan target lahan perkebunan kedelai di daerah tersebut 1...
Petani Pesisir Selatan Khawatir Kelangkaan Pupuk B... PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun), mener...
Kabupaten Agam Dibantu 10 Ribu Bibit Kelapa LUBUKBASUNG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberi bantuan 10 ribu bibit kelapa varietas unggul kepada Pemerintah Kabupaten Agam. Bibit tersebut...
NTP Babel Turun 0,76 Persen PANGKALPINANG - Nilai tukar petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tercatat 85,56 persen pada Agustus 2018, turun 0,76 persen dibandingkan Juli...
DPRD Sumbar: Harga Pupuk Tinggi Beratkan Petani PADANG --- Anggota DPRD Sumatera Barat, Taufik Hidayat, menilai perhatian pemerintah itu terhadap petani masih kurang sehingga profesi ini akan semaki...
Pemprov Sumbar Dorong Petani Berinovasi SOLOK - Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, mengatakan, para petani perlu melakukan inovasi yang dapat memberikan dan meningkatkan kesejahteraan p...
Antisipasi Kelangkaan, Distribusi Pupuk Bersubsidi... PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, melalui tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3), memperketat pengawasan penyaluran pup...