Harga Tenun Ikat Sikka Tidak Menguntungkan Penenun

Editor: Irvan Syafari

349
Aurelius Elenprino, Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Industri Dinas Perdagangan ,Koperasi dan Usaha Kecil Manengah (UKM) Kabupaten Sikka-Foto : Ebed de Rosary.

MAUMERE –– Harga selembar kain tenun ikat yang dijual para pedagang di beberapa toko penjualan tenun ikat di Sikka dinilai sangat rendah dan tidak menguntungkan perajin. Hal ini bisa berdampak menurunkan semangat perajin untuk memproduksi kain tenun ikat.

“Banyak kain tenun yang menggunakan di tingkat pedagang yang dijual seharga 300 ribu rupiah.Bahkan ada kain tenun bekas, yang juga diminati pembeli dijual dengan harga 250 ribu rupiah selembarnya,” kata Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Industri, Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Aurelius Elenprino, Selasa (17/4/2018).

Dia menuturkan, rendahnya harga jual kain tenun ikat di tingkat pedagang yang merusak harga pasar.

“Seharusnya selembar kain tenun menggunakan pewarna kimia dijual seharga 500 sampai 750 ribu rupiah selembarnya. Sementara kain tenun ikat yang menggunakan pewarna alami dijual seharga satu juta rupiah sampai tiga juta rupiah selembarnya,” ungkap dia.

Rino sapaannya menjelaskan,selembar kain tenun pewarna alami membutuhkan modal sebesar 180 ribu rupiah untuk membeli benang. Sementara untuk menggunakan pewarna dibutuhkan modal sekitar 50 ribu rupiah, sehingga modal yang dibutuhkan berkisar antara 250 ribu rupiah sampai 300 ribu rupiah tergantung motif dan banyaknya warna.

“Kalau selembar kain tenun dijual 300 ribu rupiah, maka tentunya penenun akan mengalami kerugian. Biaya ini tidak termasuk waktu dan tenaga yang dipergunakan untuk menghasilkan sebuah kain tenun,” ujar dia.

Dikatakan Rino, waktu yang dibutuhkan penenun untuk menghasilkan sebuah kain tenun ikat berkisar antara 14 sampai 21 hari. Prosesnya dimulai dari memintal benang, merentangkan benang, ikat motif, mencelup kain, menjemur, menguraikan benang hingga menenunnya.

“Kalau menggunakan pewarna alami tentunya harga jual lebih mahal karena prose pewarnaannya lebih lama sehingga bisa memakan waktu hingga 3 bulan. Namun bila menggunakan pewarna alami tentunya tidak menimbulkan efek samping di kulit saat dikenakan,” ungkapnya.

Yohana Dua Bela, Ketua kelompok tenun Kembang Sutra menyebutkan, pihaknya tidak mau menjual selembar kain tenun dengan harga murah di bawah 500 ribu rupiah untuk pewarna alami sebab penenun pasti tidak memperoleh keuntungan sama sekali.

“Kami biasa menjual dengan harga minimal 500 ribu rupiah sebab kualitas kain tenun ikat yang dihasilkan selalu kami jaga. Banyak yang sudah mengetahui hasil karya kami sehingga ada saja pembeli yang pesan,” tuturnya.

Harga jual di tingkat pedagang yang rendah ini, kata Yohana juga disebabkan oleh perilaku penenun itu sendiri. Para penenun kerap menjual dengan harga murah karena membutuhkan uang. Murahnya kain tenun bekas juga sangat berpengaruh terhadap harga jual kain tenun baru.

Kain tenun yang dijual kelompok tenun Dona Inez di samping gereja tua Sikka-Foto: Ebed de Rosary.

“Pembeli yang paham dan peduli pada kualitas tentunya akan memilih membeli kain tenun yang bagus meski harganya mahal. Untuk itu tugas pedagang agar memberikan pemahaman kepada pembeli, sebab banyak yang beli kain tenun bekas karena lebih lembut dan warnahnya pun tidak mencolok,” tuturnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.