Hikmat: Komik Miliki Banyak Peluang Eksplorasi

Editor: Koko Triarko

390
Hikmat Darmawan, peneliti komik Indonesia -Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Yayasan Seni Rupa Indonesia bekerja sama dengan PT. Gudang Garam Tbk, menggelar pameran Gudang Garam Indonesia Art Award (IAA) 2018 ‘Dunia Komik: Bahasa Budaya Cerita Gambar’ di Galeri Nasional Indonesia, pada 2-18 April 2018.  

“Sekarang kita melihat komik memiliki banyak sekali peluang untuk dieksplorasi,“ kata Hikmat Darmawan, peneliti komik Indonesia, yang juga menjadi salah satu juri dan kurator Gudang Garam Indonesia Art Award 2018, kepada Cendana News di pameran Gudang Garam Indonesia Art Award 2018 di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Merdeja Timur 14, depan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Sebagai bahasa, kata Hikmat, sekarang komik sudah sangat berkembang, baik di luar maupun di Indonesia. “Ternyata, komikus kita punya kekayaan rujukan dan perkakas teknis untuk menggambarkan ide atau cerita yang ada di kepala mereka ke dalam berbagai bentuk,“ ungkap jebolan Fisip UI.

Menurut Hikmat, pameran Gudang Garam Indonesia Art Award 2018 adalah sebuah berkah dalam ranah kelembagaan seni rupa kontemporer Indonesia. “Setidaknya, fakta bahwa sebuah pameran dan award yang lazimnya diberikan pada karya-karya seni rupa kontemporer kini dialihkan dan difokuskan pada seni komik adalah sebuah laku dan pernyataan unik, bahwa seni komik setara dengan seni kontemporer lainnya,” bebernya.

Pameran ini menggambarkan persis kondisi komik Indonesia dari segi estetikanya. “Kaya sekali keragamannya, baik dari segi gagasan, gaya, konsep visualnya, cuma terhambatnya oleh platform publikasi, karena adanya ikatan redaksional,” paparnya.

Teknologi digital akan berpengaruh pada komik dalam hal pembuatannya, bisa jadi pewarnaannya jauh lebih mudah dan leluasa, juga dari segi distribusinya, komik bisa lebih mudah disebarkan lewat platform media sosial lewat HP.

“Sekarang, seharusnya membuat maupun menerbitkan komik lebih mudah, tapi pada saat yang sama belum banyak yang sukses,“ tegasnya.

Hikmat sejak dulu banyak membaca komik apa pun, sehingga mengetahui perkembangan komik dari dulu hingga sekarang. Pameran ini bagi Hikmat secara ruang berhasil dalam membuat pernyataan, bahwa komik itu bebas bisa mengisi ruang kesenian kita, tapi sebaiknya bisa diterbitkan untuk dapat menemui masyarakat.

“Karena komik habitatnya di masyarakat tentu harus menjadi bagian dari bacaan masyarakat, “ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...