HNSI Imbau Nelayan Serdang Bedagai tak Mudah Terprovokasi

270
Nelayan, ilustrasi -Dok: CDN

MEDAN – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Sumatera Utara, meminta kepada nelayan Kabupaten Serdang Bedagai yang menggunakan alat penangkap ikan cantrang, tidak mudah terprovokasi dan melakukan tindakan melawan hukum terhadap petugas Satpol Air.

Wakil Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumut, Nazli, mengatakan, puluhan nelayan cantrang mengepung kapal petugas Satpol Air Serdang Bedagai (Sergai) tidak dapat dibenarkan, dan hal itu bertentangan dengan ketentuan hukum.

Petugas Satpol Air itu, menurut dia, sedang melaksanakan tugas dan akan mengamankan kapal menggunakan jaring cantrang yang dilarang oleh pemerintah.

Selain itu, kapal nelayan cantrang atau sejenis pukat harimau “trawl” itu, juga akan menabrak kapal yang digunakan petugas Satpol Air. “Sehingga petugas Satpol Air terpaksa memberikan tembakan peringatan atau tindakan tegas dan terukur,” ujar Nazli, Kamis (19/4/2018).

Ia juga mengimbau kepada nelayan agar tidak lagi menggunakan alat penangkapan Pukat Hela (Trawl), Pukat Tarik (Seine Net), dan Pukat Cantrang yang menggunakan jaring yang sangat halus, sehingga dapat menyapu bersih bibit ikan.

Alat tangkap tersebut, tidak ramah lingkungan dan telah dilarang oleh pemerintah beroperasi di laut sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 02 Tahun 2015.

“Alat tangkap tersebut, terhitung sejak bulan Januari 2018, tidak dibenarkan lagi digunakan oleh nelayan di perairan Indonesia dan petugas Badan Kemanan Laut (Bakamla) harus menertibkan,” ucapnya.

Nazli menjelaskan, nelayan harus menghentikan pengoperasian alat tangkap yang dilarang pemerintah itu, sehingga tidak lagi razia oleh petugas Bakamla, yakni TNI AL, Satpol Air, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), dan institusi terkait lainnya.

Jika nelayan masih tetap menggunakan alat tangkap yang dilarang pemerintah dan merusak lingkungan itu, maka petugas akan memberikan tindakan tegas, serta sanksi hukum.

“Nelayan tersebut, harus segera mengganti alat tangkap yang melanggar hukum itu, dan menggantikannya dengan alat tangkap yang diizinkan oleh pemerintah,” kata Wakil Ketua HNSI Sumut itu.

Sebelumnya, sejumlah nelayan Serdang Bedagai telah melaporkan petugas Satuan Kepolisian Perairan (Satpolair) di daerah itu, karena dituding telah memberondong kapal nelayan asal Kabupaten Batu Bara.

“Seorang nelayan, Sulaiman (42), warga Lingkungan II, Kelurahan Pangkalan Dodek Baru, Kecaman Medang Deras, Kabupaten Batu Bara telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Polres Sergai bersama sampan motornya pada 4 April 2018,” ujar Yakub, kepada wartawan di Mapolda Sumut, Selasa (17/4).

Kedatangan nelayan ke Polda Sumut didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Marhaenis Medan untuk membuat laporan ke Bidang Propam, dan membawa bukti-bukti foto sampan motor mereka yang ditembak petugas Pol Air Serdang Bedagai.

Kasat Pol Air, Iptu Chandra Tua Situmorang, membenarkan bahwa anggotanya dilaporkan nelayan Batubara ke Propam Polda Sumut. “Kami cuma memberikan tembakan peringatan, karena ada 60 kapal pukat trawl yang mengepung kapal Pol Air, saat hendak melakukan penangkapan,” ujarnya.

Apalagi, jelas Iptu Chandra, nelayan tersebut mau menabrak kapal Pol Air, sehingga petugas terpaksa melakukan tindakan tegas dan terukur. (Ant)

Lihat juga...