Hotel Tugu Malang Gelar Pameran Batik Kontemporer

Editor: Irvan Syafari

500

MALANG — Guna mengenalkan ragam jenis kain batik ke masyarakat luas hingga mancanegara, ratusan produk kain batik buatan para pengrajin batik asli Malang dan beberapa daerah di Indonesia turut dipamerkan di area dalam Hotel Tugu.

Eksekutif Asisten Manager hotel Tugu Crescentia Harividyanti mengungkapkan, kegiatan pameran yang rutin diadakan sejak2006 tersebut bertujuan mengangkat batik sebagai warisan budaya asli Indonesia. Selain itu pihaknya ingin mengekspos para penrajin batik yang selama ini belum banyak dilirik.

Malang sendiri sebenarnya mempunyai banyak perajin batik. Sayangnya di antara mereka, banyak yang belum terekspos dan belum pernah diajak untuk pameran, bahkan ada yang belum berani menjual produknya.

“Untuk itu kami sebagai bagian dari masyarakat Malang yang ingin ikut melestarikan budaya khususnya batik, mencoba memfasilitasi para pengrajin batik dengan menyediakan tempat untuk memamerkan produk-produk kain batik buatan mereka sendiri selama satu minggu,” jelasnya, Selasa (17/4/2018).

Menurut Cresentia sebanyak 1.100 kain batik dari 28 penrajin yangdipamerkan dalam gelaran pameran 2018 ini.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Cres ini juga menyampaikan untuk motif batik yang diangkat dalam gelaran pameran bertajuk “Contemporary Batik” kali ini merupakan motif modern, dengan maksud agar terasa bahwa batik tidak hanya identik dengan tradisional.

“Memang kita mengangkat budaya, tapi untuk zaman sekarang batik tidak hanya dipakai oleh orang-orang tua saja, tetapi mulai anak kecil sudah banyak yang mengenakan pakaikan batik. Selain itu batik juga bisa digunakan dalam acara formal dan informal, seperti untuk bekerja maupun menghadiri undangan,” ucapnya.

Menurutnya, peminat kain batik saat ini terus meningkat. Tidak hanya dari Malang atau Indonesia saja, peminat batik juga banyak yang berasal dari mancanegara. Hal tersebut terbukti dari gelaran pameran tahun sebelumnya, tidak kurang dari separuh produk kain batik yang dipamerkan habis terjual.

“Kami bangga sekali dari pengalaman sebelumnya kalau kita sediakan seribu lembar kain batik, pasti lima puluh persennya habis terjual. Biasanya mereka ambil banyak untuk dijadikan baju atau untuk melengkapi koleksi butiknya,” terangnya.

Dikatakan Cres, harga kain batik yang dijual dalam pameran tersebut berkisar mulai dari harga 300 ribu hingga puluhan juta rupiah. Menurutnya, harga tersebut masih cukup terjangkau jika dibandingkan dengan proses pembuatannya yang detail dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Ini kesempatan kami untuk mengenalkan kain batik ke kancah internasional, karena kebanyakan tamu yang menginap di hotel Tugu juga berasal dari mancanegara,”ujarnya.

Dia berharap para perajin bisa lebih semangat mengembangkan usahanya.

Baca Juga
Lihat juga...