INDEF: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen, Terlalu Tinggi

Editor: Koko Triarko

301
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto. -Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional 2018 sebesar 5,4 persen dibandingkan realisasi tahun 2017 sebesar 5,1 persen.

“Kalau lihat datanya, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 mencapai 5,4 persen, susah, ya. Saya masih berharap 5 persen lebihlah supaya memberikan optimisme ekonomi. Tapi, dugaan saya sih di 5,1 persen angka yang realistis,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, ditemui usai diskusi di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Menurut Eko, saat ini perkembangan daya beli masyarakat masih cukup rendah, di kisaran angka 5 persen. Sehingga untuk menuju ke angka target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen itu terlalu tinggi.

Sebetulnya, kata Eko, kalau  melihat inflasi yang rendah itu bukan karena pengendalian harga, tapi karena daya beli stagnan hanya 5 persen. “Kalau daya beli masyarakat tumbuh 5 persen, ya pertumbuhan ekonominya hanya 5 persen. Biasanya mengikuti itu,” tukas Eko.

Menurut Eko, rendahnya daya beli masyarakat lantaran harga pangan yang relatif tinggi. Mungkin harga premium dan listrik tidak naik, tapi harga pertamax tidak bisa dikendalikan.

Kondisi ini berdampak pada daya beli masyarakat yang mengakibatkan rupiahnya juga terdepresiasi. “Timing-nya apa sih rupiah terdepreasi? Kita beli produk akan lebih mahal karena hampir tidak ada industri yang tidak gunakan bahan impor. Ujung-ujungnya daya beli jadi rendah,” ujarnya.

Meskipun kemarin ada data pajak hasilnya cukup bagus, yakni realisasi pajak Kuartal I 2018, pajak manufaktur dan pajaknya tumbuh cukup bagus. Tapi, menurut Eko, jangan langsung kemudian itu dikaitkan, bahwa ekonomi Kuartal I 2018 akan tumbuh 5,4 persen sesuai dengan ekspektasi.

“Belum tentu, karena menurut saya bagusnya itu karena memang administrasi kita bagus, juga sanksi lebih tegas,” ujarnya.

Namun demikian, Eko mengakui, bahwa pascatax amnesty ada kinerja positif di dalam perpajakan. Yakni, wajib pajak (WP) yang lapor lebih banyak. Tapi menurut dia, positifnya ini pada level administrasi, belum pada ekonomi riil yang kemudian didorong oleh pertumbuhan kinerja industri dan sektor lainnya.

Diakui Eko lagi, kemudahan membayar dengan instrumen perbankan seperti mobile banking juga bagus bisa mendorong penerimaan pajak. Tapi, tidak bisa menjadi indikator, bahwa kemudian pertumbuhan ekonomi akan tiba-tiba meningkat cukup besar.

Karena bagaimana pun, tambah Eko, kalau melihat laju pertumbuhan perbankan masih 8 persen. “Biasanya kan sangat mengandalkan bank kalau mau ekspansi pakai modal bank,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...