Infrastruktur Jadi Kendala Pendidikan di Lamsel

Editor: Irvan Syafari

305

LAMPUNG — Kerusakan akses jalan dan jembatan di wilayah kabupaten Lampung Selatan masih menjadi penyumbang sulitnya akses masyarakat untuk menuju sekolah. Kepala Desa Kumukus, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan Imam Junaidi menuturkan, kerusakan jalan ini terjadi semenjak beberapa tahun terakhir.

Kerusakan paling parah terjadi pada berappa ruas penghubung antar desa. Dampaknya aktivitas siswa berangkat sekolah terhambat.

Hal ini terjadi karena sekolah tingkat SMP hingga SMA berada di Kecamatan Ketapang dan Sragi, membuat siswa sekolah yang tinggal di desa harus menempuh jarak yang jauh.

Kondisi tersebut membuat angkutan pedesaan untuk proses antar jemput siswa sekolah tidak menjangkau hingga ke pedesaan. Padahal disebut Imam Junaidi saat ini program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta diberikan dalam bentuk angkutan pedesaan.

“Salah satu bantuan mobil angkutan pedesaan diperuntukkan bagi siswa sekolah tapi karena akses jalan yang buruk kendaraan sulit masuk ke desa kami,” papar Imam kepada Cendana News, Kamis (19/4/2018).

Imam sudah mengusulkan ke pemerintah daerah kabupaten Lampung Selatan untuk peningkatan kualitas jalan. Bantuan infrastruktur diakuinya masih sebatas jalan lapen 1300 meter.

Selain itu dibangun sekitar jalan onderlagh sepanjang 800 meter bersumber dari APBD yang diusulkan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrembang). Sementara akses jalan sepanjang lebih dari lima kilometer masih berupa jalan onderlagh yang sulit dilintasi.

Kerusakan jalan membuat Desa Kemukus seolah menjadi terisolir dibandingkan desa lain. Padahal Desa Kemukus menjadi salah satu desa penghubung Kecamatan Ketapang, Sragi dan Penengahan. Meski tidak secara langsung namun kerusakan akses jalan ikut mempengaruhi kegiatan warganya untuk menuju ke fasilitas pendidikan dan kesehatan.

“Siswa yang ingin sekolah di tempat jauh terpaksa harus kos dan pulang seminggu sekali dan sebagian sistem antar jemput,”papar Imam Junaidi.

Kementerian Kesehatan dalam yang tergabung dalam tim Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat II dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta selama dua hari melakukan kegiatan lapangan di Desa Kemukus ikut prihatin terhadap kondisi tersebut.

Imam menuturkan, tim VKN Diklatpim ikut memberikan rekomendasi untuk disampaikan ke pemerintah daerah salah satunya dalam infrastruktur jalan.

“Rekomendasi untuk perbaikan infrastruktur jalan erat kaitannya dengan peningkatan sektor pendidikan, kesehatan sehingga cukup penting,” ujar Imam.

Kerusakan infrastruktur jalan juga masih terjadi di Dusun Buring, Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan. Jumad, salah satu warga di Desa Sukabaru menyebut meski dilakukan pembangunan jembatan gantung namun kerusakan masih cukup parah. Kondisi jembatan gantung tersebut bahkan ikut menyumbang sulitnya pelajar melakukan aktivitas sekolah diantaranya siswa SD,SMP,SMA.

Jumad dan warga pengguna akses jembatan gantung Sukabaru di atas Sungai Way Pisang berharap perbaikan bisa segera dilakukan. Kalau tidak hal ini membahayakan bagi masyarakat para siswa yang kerap melintas di jembatan gantung tersebut, yaitu beresiko jatuh terperosok di jembatan. Meski ada pilihan akses jalan lain namun kondisi jalan yang rusak dan belum diperbaiki membuat akses jembatan masih digunakan.

“Bagi warga yang menggunakan kendaraan roda empat tidak bisa melintas ke seberang sungai,sementara kendaraan roda dua tetap bisa melintas dengan hati hati,” cetusnya.

Akses jalan rusak penghubung Desa Sripendowo dan Desa Kemukus kecamatan Ketapang yang dilintasi siswa sekolah -Foto: Henk Widi.

Beberapa anak sekolah yang pulang dan pergi dengan jalur utama jembatan gantung harus selalu dijemput orangtua. Saat tidak ada orangtua sebagian siswaharus melintas di Sungai Way Pisang atau sebagian berjalan memutar sekitar tiga kilometer.

Para siswa yang tinggal di wilayah seberang jembatan bahkan harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat tiba di sekolah menggunakan angkutan pedesaan gratis.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.