banner lebaran

Kalsel Perlu Banyak Hotel Bintang Lima

Editor: Irvan Syafari

225

BANJARMASIN — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalsel Dodot Wahyuddin berharap, ada upaya yang lebih intens dari Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menarik investor perhotelan kelas bintang lima di Kalsel.

Hal tersebut menurutnya penting, untuk bisa menjadikan tiga daerah di Kalsel, yakni Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, bertransformasi menjadi Kota Meetings, Incentives, Conferences dan Exhibition (MICE).

“Kalau Kalsel ingin menjadi Kota MICE yang jadi tujuan turis lokal maupun luar, khususnya untuk kegiatan seminar maupun konferensi. Maka Kalsel wajib punya banyak hotel bintang lima,” jelasnya dalam sebuah acara di Banjarmasin, Selasa (3/4/2018).

Saat ini di Kalsel tidak memiliki hotel bintang lima satu pun, kalau pun ada hanya bintang tiga dan empat. Idealnya untuk Kalsel minimal memiliki sekitar 10 buah hotel bintang lima untuk mendukung menjadi kota MICE.

“Kalau hotel bintang lima ini, selain punya banyak kamar, pasti mereka memiliki area convention centre yang bisa menampung peserta dengan jumlah ribuan. Kalau ini bisa dihadirkan tentunya kita akan mudah menarik banyak even nasional hingga internasional hadir di Kalsel,” imbuhnya.

Dengan hadirnya banyak even internasional di Kalsel, tentunya akan mendorong geliat bisnis lainnya ikut terdampak positif, baik itu bisnis kuliner, jasa transportasi hingga oleh-oleh.

Karena itulah sekali lagi diharapkannya, Pemda bisa serius mendorong hadirnya investor hotel bintang lima di Kalsel. Baik melalui kemudahan perizinan, pemberian berbagai insentif hingga menyediakan lahan agar mereka mudah dan tertarik membangun hotel bintang lima di Kalsel.

“Jangan hanya hotel bintang satu, dua dan tiga saja. Itu saya pikir sudah terlalu banyak dan bahkan perlu dilakukan moratorium,” tegasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalsel Ahmad Reza Hidayat berharap, Pemda bisa lebih serius melakukan pembenahan infrastruktur pariwisata dan melaksankan berbagai event budaya yang menarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Dengan begitu tentunya akan berdampak positif pada berbagai bisnis turunan wisata yang ada di Banua, baik itu perhotelan, jasa transportasi, kuliner hingga oleh-oleh.

“Kita jangan hanya mengandalkan pertambangan saja untuk mendorong geliat ekonomi Kalsel, karena itu punya batas waktu. Lebih baik dari sekarang memikirkan mendorong sektor alternatif lain yang lebih punya masa depan, salah satunya sektor pariwisata,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.