Kebutuhan Air Bersih Jadi Catatan Tim Visitasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

460

LAMPUNG — Salah satu faktor penentu derajat kesehatan yang baik di masyarakat adalah ketersediaan atau akses bersih untuk kebutuhan sehari hari. Kebutuhan air bersih menjadi salah satu catatan dan dimasukkan dalam rekomendasi yang diberikan oleh para peserta visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) bidang kesehatan.

Hal tersebut dikemukakan Muhamad Budi Hidayat, salah satu peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat II dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta saat melakukan kegiatan lapangan di Desa Kemukus dan Desa Bangun Rejo, Kecamatan Kepatang.

Muhamad Budi Hidayat menyebutkan, pemeriksaan sejumlah anak yang dilakukan oleh Posyandu dan Puskesmas memiliki catatan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur anak terdapat di 10 desa di Lamsel.

“Stunting atau masalah kurang gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang terjadi sejak dari kandungan dan terlihat saat anak berusia dua tahun sangat dipengaruhi banyak faktor dan kita melihat kebutuhan air bersih ikut menjadi penyumbang,” terang Muhamad Budi Hidayat di Ketapang, Lampung Selatan, Kamis (19/4/2018)

Muhamad Budi Hidayat
Muhamad Budi Hidayat (kanan) peserta VKN Diklatpim tingkat II balai besar pelatihan kesehatan Jakarta dan Maria Ema Lestari selaku pendamping dari Kemenkes [Foto: Henk Widi]
Air bersih yang sulit diperoleh di wilayah Ketapang sebagai wilayah dengan tanah padas sehingga pembuatan sumur sangat sulit membuat warga harus memanfaatkan air hujan. Sementara bagi warga yang tinggal di dekat sungai pemanfaatan air sungai yang kerap tercemar terpaksa menjadi pilihan.

Salah satu rekomendasi penting dan menjadi kesepakatan dan komitmen yang disetujui oleh aparat desa Kemukus, UPT Puskesmas Ketapang, Posyandu di antaranya melakukan sosialisasi pemanfaatan air bersih. Kepada kepala desa Kemukus yang tercatat sebagai locus stunting Muhamad Budi juga menyarankan untuk melaksanakan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) melalui pembuatan sumur bor.

Selain fasilitas air bersih penanganan masalah pembuangan limbah rumah tangga, aktifitas buang air besar sembarangan menjadi pekerjaan rumah bagi desa Kemukus terutama program jambanisasi.

Selain di Kemukus, kebutuhan air bersih yang masih menjadi persoalan juga terjadi di wilayah kecamatan Bakauheni. Pantauan Cendana News, sebagian masyarakat masih memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan mandi, mencuci bahkan minum.

Warga Cilamaya di antaranya bernama Suleman mengaku memanfaatkan air hujan pasca sungai kubang gajah tercemar oleh materal jalan tol trans Sumatera.

“Kebutuhan air bersih awalnya bisa kami peroleh dari sungai kubang gajah tapi kini tidak bisa karena selain kotor juga kami terkena gatal gatal,” bebernya.

Senada dengan Suleman warga Cilamaya Bakauheni, Senyo warga Siringitik Bakauheni juga memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan mandi.

Akses air bersih yang sulit di wilayah perbukitan membuat ia harus membeli air bersih dari penjual menggunakan galon serta tanki air. Meski demikian ia memastikan tetap memperhatikan faktor sanitasi air sehingga meski kekurangan air bersih konsumsi air minum tetap tidak tersendat meski harus membeli.

Baca Juga
Lihat juga...