banner lebaran

Kerusakan Jembatan Gantung Way Pisang Ancam Warga yang Melintas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

328

LAMPUNG — Kerusakan jembatan gantung di atas sungai Way Pisang desa Sukabaru kecamatan Penengahan semakin memprihatinkan. Dinding berupa kawat yang sebagian terlepas, penyangga pada lantai jembatan terbuat dari besi bekas berjatuhan ke sungai.

Imbasnya terlihat lubang menganga di lantai jembatan yang menyebabkan potensi bahaya bagi warga yang melintas. Padahal, selain bagi petani, jembatan tersebut menjadi akses utama anak-anak untuk berangkat sekolah.

Aminah (50) salah satu warga dusun Buring yang berprofesi sebagai buruh memanen cabai merah mengaku setiap hari harus melintasi jembatan tersebut. Meski was-was, ia terpaksa melewatinya karena pilihan jalan lain harus ditempuh sekitar tiga kilometer lebih.

Ia harus berpegangan ke dinding jembatan dari kawat sekaligus mencari pijakan papan yang kuat agar tidak terperosok.

“Jalan lain bisa dilintasi dengan berjalan kaki tapi jauh atau menyeberangi sungai yang dalam. Harus berani menyeberang meski membahayakan, terutama bagi anak-anak,” papar Aminah saat ditemui Cendana News, Selasa (17/4/2018)

Goyangan jembatan sepanjang sekitar 25 meter terasa saat beberapa warga melintas di atasnya. Ketinggian dari dasar sungai sekitar tujuh meter juga membuat was was pelintas yang mempergunakan kendaraan roda dua atau sepeda.

Awalnya kondisi jembatan gantung dalam kondisi bagus saat dibangun pada pertengahan tahun 2017 silam bersamaan dengan pembangunan konstruksi tapak jembatan. Memasuki awal tahun 2018 dengan konstruksi hanya terbuat dari besi bekas, kawat bekas, papan, bambu membuat jembatan rusak dengan lubang menganga di beberapa bagian.

Jembatan Gantung
Aminah, salah satu warga melintas di jembatan gantung yang rusak [Foto: Henk Widi]
Ilham, salah satu murid yang pergi sekolah menggunakan sepeda juga mengaku harus berhati hati. Ia meminta tolong orangtua saat akan melintas. Sebagian lubang akibat lantai yang berjatuhan ke dasar sungai membuat ban sepeda kerap terperosok.
Beruntung ada dinding penopang kawat yang menahan pelintas jika terperosok sehingga tidak terjatuh ke sungai. Bahaya yang mengintai tersebut bahkan harus dilalui Ilham dan kawan kawan sebaya yang tinggal di seberang sungai Way Pisang untuk bersekolah di SDN 3 Sukabaru.

Idrus (38) salah satu petani padi yang setiap hari melintas mengaku konstruksi jembatan gantung sebagian sudah rusak. Ia bahkan selalu membetulkan letak papan lantai untuk dilintasi. Papan melintang dan bambu sebagai lantai jembatan gantung sudah rusak beberapa bulan sebelumnya.

Ia mengaku pernah terperosok dan nyaris terjatuh bersama motor miliknya jika tidak ada dinding penopang.

“Harapan saya perbaikan jembatan gantung menjadi jembatan permanen segera dilakukan karena sangat berbahaya untuk dilintasi,” keluh Idrus.

Sesuai papan nama yang sudah usang, pembuatan pondasi atau tapak jembatan di kedua sisi sungai way Pisang tersebut dilakukan bertahap. Pada tahap pertama pengerjaan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Lampung Selatan dan dikerjakan oleh PT. Queen Natasya Mandiri dengan nilai kontrak Rp1.196.430.000 dengan waktu pengerjaan 110 hari kalender pada tahun anggaran 2017.

Pembuatan jembatan diawali dengan pembangunan dasar jembatan, talud dan saluran air. Rencananya pembangunan permanen pada konstruksi jembatan berupa lantai membentang di atas sungai akan dilakukan pada 2018. Meski demikian Idrus dan warga lain menyebut hingga menjelang pertengahan tahun belum ada informasi terkait kelanjutan pembangunan jembatan tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.